Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #9

Racun Hitam Pertama

Pagi di Desa Kertajaya biasanya dimulai dari suara air.

Sebelum ayam selesai berkokok, Ciasem sudah lebih dulu membangunkan orang-orang. Air yang mengalir di antara batu menjadi bunyi latar bagi kehidupan desa: suara ember yang ditimba, sandal yang menyeret tanah basah, anak-anak yang dimarahi karena terlalu pagi bermain di tepian, dan sesekali suara perempuan yang bercakap dari satu rumah ke rumah lain sambil mencuci.

Bagi orang-orang Kertajaya, sungai bukan sesuatu yang perlu diperhatikan secara khusus. Ia ada begitu saja, seperti udara dan tanah. Ia menjadi bagian dari kebiasaan sampai orang lupa bahwa seluruh kehidupan mereka bergantung padanya.

Pagi itu, kebiasaan tersebut pecah bahkan sebelum matahari naik tinggi.

Teriakan pertama datang dari rumah paling dekat dengan bantaran sungai.

"Airnya!"

Seorang perempuan berlari keluar rumah sambil masih mengenakan kain rumahannya. Wajahnya pucat. Ia berhenti di jalan tanah, menatap ke arah sungai seolah baru saja melihat sesuatu yang tidak mungkin ada.

"Airnya kenapa?"

Tetangganya keluar.

Perempuan itu menunjuk dengan tangan gemetar.

"Coba lihat sendiri."

Orang-orang mulai berdatangan.

Satu per satu pintu terbuka.

Ayam-ayam yang berkeliaran di halaman menyingkir ketika kaki manusia mulai memenuhi jalan. Beberapa anak kecil ikut mendekat, tetapi segera ditarik oleh orang tua mereka.

Ciasem telah berubah.

Air yang biasanya bening kecokelatan oleh sedimen setelah hujan kini menjadi hitam.

Bukan sekadar keruh.

Hitam pekat.

Permukaannya mengilap di bawah cahaya pagi seperti minyak yang dituangkan sepanjang aliran. Gumpalan tipis berbentuk pelangi muncul di beberapa bagian, tetapi sebagian besar sungai terlihat seperti cairan gelap yang tidak seharusnya berada di antara batu-batu desa.

Bau menyengat menyusul bersama angin.

Ada bau logam.

Bau kimia yang menusuk hidung.

Bau seperti campuran besi, lumpur busuk, dan sesuatu yang membuat tenggorokan terasa pahit hanya dengan menghirupnya.

Seorang lelaki menutup hidung dengan ujung bajunya.

"Astaga..."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Mereka hanya berdiri.

Melihat.

Mencoba memahami.

Di salah satu bagian tepian, ikan-ikan mengambang dengan perut menghadap ke atas. Sebagian tersangkut di antara batu. Sebagian terbawa arus dan menabrak akar-akar pohon. Ada ikan kecil, ikan yang biasa ditangkap warga, bahkan beberapa hewan air lain yang tubuhnya tidak lagi bergerak.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan di permukaan.

Sungai seperti mati dalam semalam.

"Jangan ada yang menyentuh!" teriak seseorang.

Peringatan itu justru membuat kepanikan semakin menyebar.

Orang-orang berlari ke arah sumur.

Ada yang membawa ember.

Ada yang memanggil keluarga.

Ada yang menuju kandang ternak.

Dan dari arah ujung desa terdengar suara seseorang berteriak lebih keras.

"Sapi saya!"

Banyu terbangun karena keributan itu.

Ia bahkan belum sempat mencuci wajah ketika mendengar suara orang-orang dari luar rumah. Tubuhnya masih menyimpan nyeri bentrokan kemarin. Memar di sisi pinggang membuat gerakannya kaku ketika ia berdiri dari tempat tidur.

Ia membuka pintu.

Udara pagi masuk.

Dan ia langsung mencium baunya.

Banyu membeku.

Bau itu berbeda dari apa pun yang pernah ia cium di Ciasem.

Bukan bau lumpur.

Bukan bau ikan mati.

Ada sesuatu yang tajam di dalamnya.

Sesuatu yang membuat bagian belakang hidungnya terasa panas.

Ia keluar.

Beberapa meter di depan rumah, warga sudah bergerak menuju sungai. Banyu mengikuti mereka tanpa sempat bertanya.

Semakin dekat, langkahnya semakin melambat.

Ia melihat air.

Hitam.

Banyu berhenti di tepi jalan.

Untuk beberapa detik, ia tidak bisa menerima apa yang dilihat matanya.

"Enggak..."

Suaranya nyaris tidak terdengar.

Ia berjalan lebih dekat.

Bau racun semakin kuat.

Di bawah permukaan yang gelap, tidak terlihat batu-batu yang biasanya jelas. Arus tetap bergerak, tetapi seolah membawa sesuatu yang berat.

Banyu menelan ludah.

Ia teringat penglihatan malam tadi.

Sungai perak.

Jalur air yang luas.

Bayangan-bayangan yang bergerak di dalamnya.

Suara yang memohon.

Kami tercekik.

Banyu merasa bulu kuduknya berdiri.

"Banyu!"

Ia menoleh.

Laras berlari dari arah rumah Bu Rukmini. Rambutnya belum tertata rapi, jaket lapangan dikenakan terburu-buru, dan di tangannya sudah ada ponsel serta sarung tangan karet.

Dania menyusul di belakangnya dengan tas peralatan.

Laras berhenti di depan Banyu.

"Kamu sudah lihat?"

Banyu mengangguk.

Laras menatap sungai.

Ekspresinya berubah.

Tidak ada lagi ketegasan seperti ketika menghadapi petugas keamanan kemarin. Tidak ada kemarahan yang bisa diarahkan kepada seseorang.

Yang ada hanya keterkejutan.

"Ini bukan sedimen."

Dania langsung berjongkok.

Ia tidak menyentuh air. Dari tasnya ia mengeluarkan botol sampel, sarung tangan, alat ukur portabel, dan beberapa tabung kecil.

"Jangan ada yang turun ke air," katanya keras kepada warga. "Jangan pegang ikan. Jangan bawa air ini ke rumah. Kalau ada yang sudah terkena, segera cuci dengan air bersih."

"Air bersih dari mana, Bu?" seseorang menyela.

Dania terdiam sebentar.

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi jawabannya tidak.

Ia melihat ke arah sungai.

Kemudian ke sumur-sumur warga.

"Untuk sementara gunakan sumber yang tidak terhubung dengan aliran sungai," katanya.

"Kalau semuanya terhubung?"

Tidak ada yang menjawab.

Dania mulai mengambil sampel.

Ia mengisi botol pertama dari bagian tepi. Botol kedua dari aliran yang sedikit lebih deras. Botol ketiga dari lokasi beberapa meter di hilir.

Tangannya tetap stabil.

Wajahnya tidak.

Banyu melihat rahangnya mengeras setiap kali angka pada alat pengukur berubah.

"pH turun," katanya.

Laras berdiri di sampingnya.

"Berapa?"

Dania menyebutkan angkanya.

Laras mengernyit.

"Separah itu?"

"Ini baru pengukuran awal."

Dania mengganti sensor.

"Konduktivitas naik."

Ia mengambil sampel lain.

"Dan ada sesuatu yang tidak normal."

"Logam berat?" tanya Laras.

"Mungkin."

Dania memasukkan sampel ke alat analisis portabel.

Layar kecil menyala.

Data muncul satu demi satu.

Banyu tidak memahami semua angka itu.

Lihat selengkapnya