Menjelang siang, Desa Kertajaya sudah tidak lagi terdengar seperti desa.
Tidak ada suara kendaraan yang keluar-masuk melalui jalan utama. Tidak ada pedagang yang menunggu angkutan dari kecamatan. Tidak ada sepeda motor yang melintas membawa hasil kebun. Bahkan suara anak-anak yang biasanya berlarian di halaman rumah terdengar lebih jarang, seolah seluruh desa sedang menahan napas.
Di ujung jalan yang menghubungkan Kertajaya dengan wilayah luar, beberapa truk berhenti melintang.
Pagar beton didirikan memanjang di kedua sisi jalan. Balok-balok pembatas disusun rapat, menyisakan satu celah sempit yang dijaga oleh petugas berseragam lengkap. Di belakangnya, kawat duri dibentangkan pada rangka besi. Beberapa bagian bahkan diperkuat dengan pagar portabel sehingga orang tidak bisa menerobos dari kebun atau jalan tanah di sampingnya.
Pemandangan itu membuat jalan keluar desa tampak seperti perbatasan negara.
Di atas salah satu pagar terpasang papan putih dengan tulisan besar:
AREA TERBATAS — KARANTINA BAHAN BERBAHAYA
Di bawahnya terdapat logo Aureum Corp.
Banyu berdiri cukup jauh dari pos pemeriksaan, di bawah bayangan sebuah warung yang sudah tutup. Ia memperhatikan kendaraan warga yang diperiksa satu per satu.
Sebuah mobil bak terbuka dihentikan.
Petugas memeriksa bagian belakang.
Dua karung beras dikeluarkan.
Satu kardus peralatan rumah tangga dibuka.
Pengemudi diminta menunjukkan identitas.
Setelah beberapa menit, ia dipersilakan kembali masuk ke desa.
Keluar tidak boleh.
Masuk masih boleh, meskipun setiap orang yang datang diperiksa.
Banyu merasakan sesuatu mengganjal di dadanya.
Bukan hanya karena pagar.
Sejak pagi, ia telah mendengar kabar bahwa jaringan telepon mulai bermasalah. Awalnya hanya sinyal yang naik-turun. Kemudian panggilan terputus. Pesan tidak terkirim. Sambungan internet menjadi sangat lambat.
Menjelang siang, hampir semuanya mati.
Ponsel Banyu menunjukkan tanda tidak ada jaringan.
Ia mencoba menelepon Laras.
Tidak tersambung.
Mencoba Dania.
Tidak tersambung.
Ia mengangkat ponsel lebih tinggi, berjalan beberapa langkah, kemudian mencoba lagi.
Tidak ada hasil.
"Benar-benar diputus," gumamnya.
Dari kejauhan terdengar suara dengung yang tidak biasa.
Banyu menoleh.
Di atas salah satu kendaraan operasional yang diparkir dekat pos, terdapat perangkat berbentuk kotak dengan beberapa antena. Lampu indikatornya berkedip terus-menerus.
Ia tidak tahu persis alat apa itu.
Namun Dania pernah menjelaskan bahwa komunikasi radio dan seluler bisa diganggu dengan pemancar pengacak sinyal.
Jammer.
Sekarang Banyu tidak perlu lagi bertanya mengapa.
Ia memasukkan ponsel ke saku.
Di seberang jalan, seorang lelaki tua berusaha berbicara dengan petugas.
"Saya mau ke kecamatan. Cuma sebentar."
"Belum bisa."
"Saya ada urusan."
"Wilayah dikarantina."
"Karantina apa? Kami bukan orang sakit."
Petugas itu tetap berdiri.
"Ini prosedur keamanan bahan berbahaya."
Lelaki itu menunjuk ke arah sungai.
"Yang berbahaya itu air kami."
Petugas tidak menjawab.
Ia hanya memberi isyarat agar lelaki itu kembali.
Banyu mengepalkan tangan.
Semalam mereka masih memiliki desa.
Pagi tadi mereka masih memiliki sungai, meskipun sungai itu sudah berubah menjadi hitam.
Sekarang mereka bahkan tidak memiliki jalan keluar.
Beberapa jam sebelumnya, sebelum barikade semakin diperketat, Dania sudah tahu sesuatu yang lebih buruk sedang terjadi.
Ia duduk di kursi penumpang sebuah mobil tua milik warga bernama Pak Hadi. Mobil itu biasa digunakan untuk mengangkut hasil kebun ke pasar. Joknya sudah kusam, bagian dashboard retak, dan karpet lantainya penuh tanah kering.
Hari itu mobil tersebut tidak membawa sayuran.
Dania bersembunyi di belakang.
Laptopnya dipeluk erat.
Tas peralatannya diletakkan di samping tubuh.
Pak Hadi mengemudikan mobil dengan kedua tangan menggenggam kemudi begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Jangan bergerak dulu," katanya pelan.
Dania mengangguk.
Di luar, suara sepatu menghantam aspal.
Satu petugas berjalan mengitari kendaraan.
Kemudian mengetuk kaca.
Pak Hadi menurunkannya sedikit.
"Mau ke mana?"
"Antar barang."
"Barang apa?"
"Peralatan kebun."
Petugas melihat ke belakang.
"Bagasi dibuka."
Pak Hadi keluar.
Dania menahan napas.
Ia mendengar pintu belakang dibuka.
Kardus-kardus diperiksa.
Satu demi satu.
Jantungnya berdetak keras.
Laptop di pangkuannya terasa seperti benda yang terlalu besar untuk disembunyikan.
Bukan karena ukurannya.
Karena isinya.
Di dalam perangkat itu tersimpan hasil pengukuran kualitas air, rekaman pemetaan bawah tanah, citra geofisika, koordinat Nodus Air Purba, dan data yang menunjukkan hubungan antara kegiatan pengeboran Aureum dengan perubahan aliran sungai.
Jika perangkat itu disita, sebagian besar bukti yang mereka kumpulkan akan hilang.
Lebih buruk lagi, jika mereka mengetahui Dania membawa data tersebut, mereka tidak akan membiarkannya begitu saja.
"Ini apa?"
Dania mendengar suara petugas dari luar.
"Alat ukur."
"Miliki siapa?"
"Teman saya."
"Namanya?"
Pak Hadi menjawab sesuatu yang tidak terdengar jelas.
Petugas itu diam beberapa detik.
Kemudian pintu belakang ditutup.
Langkah kaki bergerak menjauh.
Dania baru berani menarik napas.
Pak Hadi masuk kembali.
Ia tidak langsung menjalankan mobil.
"Kita hampir kena," katanya.
Dania mengusap kening.
"Mereka mencari saya?"
Pak Hadi tidak menjawab.
Jawaban itu sudah cukup.
Di sebuah rumah warga yang letaknya cukup jauh dari jalan utama, Laras membuka pintu belakang dengan hati-hati.
Dania masuk sambil membawa laptop.
"Taruh di sini," kata Laras.
Rumah itu milik Bu Rukmini. Ruang belakang sempit dan dipenuhi barang-barang rumah tangga: karung beras, ember, kain-kain lama, beberapa peralatan dapur, dan tumpukan kardus yang belum dibuang.
Tidak nyaman.
Tetapi aman untuk sementara.
Dania menaruh tas di lantai.
"Mereka sudah sweeping."
"Aku tahu."
"Mereka mencari peneliti dan jurnalis."
Laras menutup pintu.
"Mereka tahu ada data?"
"Mungkin."
Laras memandang laptop yang dibawa Dania.
"Yang itu satu-satunya?"
Dania mengangguk.
"Sebagian data ada di perangkat ini."
"Sebagian?"
"Raw data yang belum sempat kukirim keluar."
Laras terdiam.
"Dan sekarang tidak ada jaringan."
Dania mengangguk.
"Jammer."
Laras berjalan mondar-mandir beberapa langkah.
Wajahnya tegang.
Ia biasanya selalu memiliki sesuatu untuk dikerjakan ketika keadaan memburuk. Membagi tugas. Menghubungi warga. Mengumpulkan dokumentasi. Menentukan jalur aman. Membuat orang tetap tenang.
Tetapi kali ini bahkan alat komunikasi mereka telah diambil dari tangan mereka.
"Kalau mereka masuk ke sini?" tanya Dania.
Laras menatap pintu.
"Jangan sampai."