Senja turun terlalu cepat di hutan hulu Subang.
Cahaya matahari yang sejak siang terasa pucat kini tinggal serpihan-serpihan jingga yang tersangkut di antara tajuk pohon. Kabut tipis mulai merayap dari lembah, menyusup di antara akar, batu, dan semak basah. Jalan setapak yang mereka lewati hampir tidak terlihat. Hanya jejak tanah yang sedikit lebih padat dan beberapa ranting yang patah menjadi penanda bahwa manusia pernah melewati tempat itu.
Banyu berjalan paling depan.
Ia tidak membawa senter. Cahaya dari ponsel terlalu berisiko, sementara jalan itu sudah cukup ia kenal dari masa kecil. Dulu ia sering melewatinya bersama ayahnya ketika mengambil kayu bakar atau memeriksa batas kebun. Sekarang jalur yang sama menjadi satu-satunya jalan untuk mengeluarkan seseorang dari desa tanpa melewati pagar beton dan pos pemeriksaan.
Di belakangnya, Laras menopang lengan Dania.
"Pelan," bisiknya.
Dania mengangguk, tetapi langkahnya tetap berat.
Sepatu lapangannya telah penuh tanah. Ujung celananya basah oleh semak yang mereka lewati. Rambut yang biasanya tertata rapi kini berantakan, beberapa helai melekat di dahi karena keringat.
Ia menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun itu justru yang membuatnya semakin waspada.
Hutan terlalu sunyi.
"Berapa jauh lagi?" tanyanya.
Banyu tidak menoleh.
"Sebentar."
"Kau sudah bilang begitu lima belas menit lalu."
"Karena lima belas menit lalu memang sebentar."
Laras hampir tertawa, tetapi menahannya.
Dalam keadaan seperti itu, suara tawa terasa terlalu asing.
Mereka terus berjalan.
Dania sesekali tersandung akar pohon. Laras segera menarik lengannya sebelum tubuhnya jatuh.
"Kalau begini terus, kita malah meninggalkan jejak," kata Dania.
"Jejakmu lebih baik daripada jejak mobil," jawab Laras.
Dania terdiam.
Ia tahu Laras benar.
Beberapa jam terakhir mereka memang tidak lagi bergerak dengan cara yang biasa. Tidak ada kendaraan. Tidak ada jalan utama. Tidak ada komunikasi. Tidak ada cara untuk meminta bantuan secara terbuka.
Semuanya dilakukan dengan memanfaatkan celah-celah kecil yang masih tersisa.
Ketika pertama kali Laras memberi tahu bahwa mereka akan mengeluarkannya dari desa, Dania sempat menolak.
"Bukti ini lebih penting kalau aku tetap di sini."
"Justru karena bukti itu penting, kau harus keluar."
"Aku bisa menyimpannya."
"Mereka sedang mencari orang yang membawa data."
"Aku tidak akan menyerahkannya."
"Aku tahu."
Laras menatapnya waktu itu.
"Tapi kalau kau ditangkap, semua data itu ikut dikubur."
Dania tidak punya jawaban.
Sekarang, setelah berjalan hampir satu jam melalui hutan, ia mulai memahami alasan Laras.
Kertajaya bukan lagi tempat aman untuk menyimpan bukti.
Desa itu telah menjadi ruang tertutup.
Dania menarik napas panjang.
"Kalau aku berhasil keluar..." katanya.
"Kau harus berhasil."
"Aku akan kirim semua data."
Laras menatapnya dari samping.
"Bukan cuma ke satu orang."
Dania mengangguk.
"Ke media nasional. Ke lembaga lingkungan. Ke siapa pun yang mau menerbitkannya."
"Bagus."
"Aku tidak bisa menjamin mereka akan percaya."
"Yang kita butuhkan bukan mereka percaya sekarang."
Laras kembali melihat jalan.
"Kita butuh mereka tidak bisa pura-pura tidak tahu."
Banyu mendengar percakapan itu tanpa ikut menyela.
Ia terus berjalan sambil memperhatikan bentuk tanah.
Ada bagian tertentu yang lebih lembap.
Ada akar yang tumbuh mengikuti arah lembah.
Ada suara air yang kadang muncul lalu hilang di balik semak.
Dulu semua itu hanya terasa seperti bagian biasa dari hutan.
Sekarang ia mulai melihat pola.
Seperti hutan sedang menunjukkan jalan.
Banyu berhenti.
Laras dan Dania ikut berhenti.
"Kenapa?"
Banyu menunjuk ke depan.
Di antara dua pohon besar, terlihat sebuah bangunan kecil.
Atapnya hampir seluruhnya tertutup daun.
Dindingnya terbuat dari papan kayu yang sudah menghitam dimakan usia. Sebagian tiangnya miring. Di depan terdapat teras sempit dengan sebuah bangku panjang yang salah satu kakinya sudah patah.
Pondok ladang.
Sudah lama tidak digunakan.
"Kita istirahat di sana," kata Banyu.
Mereka bergerak mendekat.
Pintu pondok tidak terkunci.
Ketika dibuka, engselnya mengeluarkan suara panjang yang nyaring.
Laras langsung menoleh ke arah hutan.
Tidak ada gerakan.
"Masuk," katanya.
Mereka bertiga masuk.
Di dalam pondok, udara berbau kayu tua dan tanah.
Sebuah meja kecil masih berada di sudut ruangan. Di atasnya terdapat bekas wadah tanah liat yang sudah pecah. Dinding bagian belakang memiliki rak sederhana untuk menyimpan peralatan ladang, tetapi hampir semuanya kosong.
Dania duduk di lantai.
Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan desa, ia membiarkan tubuhnya benar-benar beristirahat.
Laras berdiri di dekat jendela kecil tanpa kaca.
Banyu duduk di dekat pintu.
Mereka tidak banyak bicara.
Ketiganya tahu waktu mereka terbatas.
Dania membuka tasnya.
Ia mengeluarkan sebuah laptop.
Kemudian memasukkannya kembali.
Lalu ia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Dari dalam kotak itu terdapat flashdisk hitam.
Ia memegang benda tersebut cukup lama.
"Ini cadangannya," katanya.
Laras menatapnya.
"Cadangan?"
"Versi yang paling lengkap."
Dania menyerahkannya kepada Banyu.
Banyu tidak langsung mengambil.
"Kenapa ke aku?"
"Karena kau yang tetap tinggal."
Kalimat itu sederhana.
Namun Banyu merasakan sesuatu mengendap di dadanya.
Ia akhirnya menerima flashdisk itu.
Kecil sekali.
Hanya benda hitam sebesar ruas jari.
Tetapi di dalamnya mungkin terdapat sesuatu yang dapat mengubah cara orang melihat Kertajaya.
Dania kemudian mengambil gulungan kertas dari tasnya.
Ia membukanya perlahan di atas lantai pondok.
Kertas itu cukup besar dan penuh garis.
Garis-garis biru membentuk jaringan sungai yang menyebar di wilayah yang luas. Beberapa bagian berwarna cokelat dan abu-abu menunjukkan daratan purba. Di sudut terdapat catatan angka, koordinat, dan hasil pemetaan geofisika.
Laras berjongkok di sampingnya.
Banyu ikut mendekat.
"Apa ini?"
"Peta Paparan Sunda purba."
Dania meratakan salah satu ujung kertas dengan telapak tangannya.
"Ini bukan sekadar peta sungai yang pernah ada di permukaan."
Ia menunjuk garis utama.
"Ini jaringan aliran purba. Sebagian besar sudah tidak terlihat dari permukaan, tapi jejak geologisnya masih ada. Sedimen, struktur batuan, anomali resistivitas, semuanya menunjukkan pola yang konsisten."
Banyu menatap garis-garis itu.
Ada sesuatu yang membuat tengkuknya merinding.
Ia mengenali pola tersebut.
Bukan karena pernah melihatnya di buku.
Karena ia pernah merasakannya.
Ketika menyentuh air Ciasem.
Ketika mendengar getaran di bawah tanah.
Ketika melihat sungai perak dalam penglihatannya.