Malam datang tanpa benar-benar membawa ketenangan ke Kertajaya.
Sejak matahari tenggelam, desa itu sudah lebih banyak diam. Pintu-pintu rumah tertutup. Lampu teras menyala redup di balik jendela. Orang-orang berbicara dengan suara pelan, seolah suara yang terlalu keras dapat memanggil sesuatu dari luar pagar beton yang sejak siang memutus mereka dari dunia.
Namun di bawah tanah, sesuatu justru semakin gaduh.
Jauh di luar batas pandang warga, di dalam kompleks Aureum Corp, menara bor utama berdiri seperti tiang besi yang menembus langit malam. Lampu sorot putih mengelilinginya, membuat tanah di sekitarnya tampak pucat dan tidak alami. Kabel-kabel besar menjulur dari ruang pembangkit menuju tubuh mesin. Pipa pendingin mengeluarkan uap tipis yang melayang di udara dingin. Di beberapa bagian, permukaan logam bergetar halus, seperti mesin raksasa itu sedang menahan napas sebelum mengeluarkan tenaga penuh.
Di pusat kompleks, Dr. Sarah Lindqvist berdiri di depan dinding monitor.
Wajahnya diterangi cahaya biru dari layar.
Ia sudah berada di ruangan itu sejak sore.
Tidak banyak orang yang masih berbicara. Para teknisi hanya memberikan laporan singkat melalui sambungan internal. Sebagian besar perhatian mereka tertuju pada satu angka yang terus bergerak di layar utama.
16.842 m
Angka itu berubah.
16.857 m
Kemudian:
16.891 m
Sarah menyilangkan tangan di depan dada.
"Berapa tekanan pada kepala bor?"
"Masih dalam batas toleransi."
"Temperatur?"
"Naik tiga persen."
"Getaran?"
Teknisi di konsol sebelah kanan memeriksa grafik.
"Frekuensi tinggi meningkat."
Sarah mendekat.
"Seberapa tinggi?"
"Belum pernah mencapai angka ini dalam pengujian sebelumnya."
Sarah tidak langsung menjawab.
Di layar, beberapa kurva bergerak bersamaan.
Tekanan.
Temperatur.
Resistansi batuan.
Aktivitas elektromagnetik.
Semuanya berubah perlahan ketika bor semakin dalam.
Namun ada satu grafik yang membuat Sarah terus memperhatikannya.
Grafik itu tidak memiliki label yang benar-benar memadai.
Sistem hanya menyebutnya:
BIO-ENERGY ANOMALY
Sarah sendiri yang memberikan nama itu karena tidak ada istilah lain yang lebih tepat.
Pada kedalaman-kedalaman sebelumnya, sensor memang sudah menangkap fluktuasi energi yang aneh. Tetapi kecil, terputus-putus, dan masih dapat dijelaskan sebagai gangguan geologi atau efek panas ekstrem.
Sekarang berbeda.
Kurva itu mulai naik.
Bukan perlahan.
Melainkan tajam.
Sarah mengerutkan dahi.
"Jalankan kalibrasi ulang."
Teknisi menoleh.
"Sekarang?"
"Sekarang."
"Kalau kita kalibrasi ulang, pembacaan target akan terganggu."
"Kalau instrumennya salah, kita harus tahu sebelum mencapai target."
Teknisi menjalankan prosedur.
Beberapa detik kemudian, hasilnya muncul.
Angkanya tetap.
Grafiknya bahkan lebih tinggi.
Sarah mendekat ke layar.
Untuk sesaat, ia lupa bernapas.
"Mustahil."
"Dok?"
Sarah menunjuk monitor.
"Sensor ketiga dan kelima."
Keduanya menunjukkan pola yang sama.
"Periksa sumber interferensi."
"Sudah."
"Medan magnet?"
"Normal."
"Radiasi termal?"
"Normal."
"Seismik?"
"Naik."
Sarah menoleh cepat.
"Naik berapa?"
Teknisi menelan ludah.
"Belum signifikan untuk kerusakan struktural."
"Bukan itu yang kutanyakan."
Ia menunjuk grafik.
"Kenapa naik?"
Teknisi tidak menjawab.
Karena tidak ada jawaban.
Di monitor utama, angka kedalaman kembali bergerak.
16.945 m
Sarah memandangnya dengan perasaan yang sulit ia beri nama.
Ada ketakjuban di sana.
Bahkan rasa kagum.
Selama bertahun-tahun ia mengejar kemungkinan bahwa ada bentuk energi regeneratif yang belum dipahami ilmu pengetahuan. Sesuatu yang dapat mengubah jaringan biologis, memperbaiki kerusakan, mungkin bahkan mempercepat pemulihan ekosistem.
Pranavija.
Nama itu pernah terdengar seperti istilah mitologis.
Kemudian menjadi hipotesis.
Lalu menjadi target.
Sekarang sesuatu di bawah sana benar-benar merespons keberadaan bor mereka.
Sarah merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Teruskan."
Teknisi menatapnya.
"Dokter?"
"Teruskan."
"Grafiknya—"
"Aku tahu."
Sarah tidak mengalihkan pandangan dari layar.
"Justru karena itu, teruskan."
Di dalam gubuk kecilnya, Banyu terbangun tanpa tahu apa yang membangunkannya.
Ia membuka mata.
Gelap.
Lampu minyak di sudut ruangan telah hampir padam. Api kecilnya hanya tinggal bara merah yang sesekali bergerak ketika angin masuk melalui celah dinding papan.
Banyu duduk.
Ada sesuatu yang aneh.
Ia mendengarkan.
Tidak ada suara Laras.
Tidak ada suara kendaraan.
Tidak ada suara orang.
Hanya malam.
Namun di balik keheningan itu, ia merasakan sesuatu.
Getaran.
Sangat halus.
Banyu menahan napas.
Tanah di bawah tubuhnya seperti berdenyut.
Sekali.
Berhenti.
Kemudian sekali lagi.
Ia turun dari dipan kayu dan berdiri.
Denyutan itu kembali terasa.
Kali ini lebih kuat.
Banyu berjalan ke pintu.
Ketika membukanya, udara malam langsung menyentuh wajahnya.
Desa tampak hampir sepenuhnya gelap.
Beberapa rumah masih memiliki lampu, tetapi sebagian besar warga mungkin sudah tidur.
Banyu melangkah keluar.
Tanah di bawah kakinya bergetar.
Ia berhenti.
Getaran itu bukan seperti gempa.
Belum.
Tidak ada gerakan besar.
Tidak ada benda yang jatuh.
Tetapi ada suara dari bawah.
Rendah.
Dalam.
Seperti dengungan yang terlalu jauh untuk didengar telinga, tetapi cukup dekat untuk dirasakan oleh tulang.
Banyu menoleh ke arah hulu.
Ke arah kompleks Aureum.
Dari sana, cahaya menara bor tampak seperti bintang buatan yang menggantung di atas hutan.
Kemudian suara itu datang.
Grrrmmmmmm...
Tanah bergerak.
Banyu refleks memegang kusen pintu.
Getaran berikutnya jauh lebih keras.
Ia merasakan dada kirinya mendadak sakit.
Bukan nyeri biasa.
Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dari dalam.
Banyu terhuyung.
Tangannya langsung menekan dada.
"Napas..."
Ia mencoba menarik udara.
Tidak bisa.
Dada seolah dikunci.