Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #13

Doa Penyesalan di Atas Air Hitam

Banyu terbangun ketika malam sudah terlalu dalam untuk disebut malam biasa.

Ia tidak tahu berapa lama tubuhnya terbaring di atas dipan kayu di dalam gubuk. Tidak ada jam di dekatnya. Tidak ada suara manusia yang bisa dijadikan penanda. Hanya kegelapan yang merapat dari celah-celah dinding papan, serta bunyi air yang jauh di luar sana—atau sesuatu yang dahulu menyerupai bunyi air.

Dadanya masih terasa sakit.

Bukan sakit yang menusuk seperti luka biasa. Rasa itu lebih mirip tekanan yang tertinggal setelah sesuatu yang sangat berat menghantam dari dalam tubuhnya. Setiap kali menarik napas, tulang rusuknya terasa sempit. Setiap kali mengembuskannya, ada panas samar yang menjalar dari tengah dada menuju bahu dan lengan.

Ia membuka mata perlahan.

Langit-langit gubuk terlihat buram. Sebuah lampu kecil di sudut ruangan sudah mati, menyisakan sedikit cahaya bulan yang masuk melalui celah atap. Banyu mencoba mengangkat tubuh, tetapi kepalanya langsung berdenyut. Tangannya mencengkeram sisi dipan. Ia menunggu beberapa saat sampai rasa berputar itu reda.

Ingatan datang sedikit demi sedikit.

Bor.

Getaran.

Tujuh belas kilometer.

Cahaya di bawah air.

Lalu sesuatu yang lebih menyakitkan daripada semuanya.

Suara.

Banyu menundukkan kepala.

Ia tidak bisa lagi mengingat seluruh kata-kata yang didengarnya. Hanya serpihan-serpihan yang tersisa di kepalanya seperti gema dari ruangan yang sangat jauh.

Kami terbakar.

Air kami.

Mengapa kalian kembali?

Ia memejamkan mata.

Untuk beberapa saat, ia hanya duduk dalam diam. Tidak ada kemarahan yang muncul. Tidak ada keinginan untuk berteriak kepada Marcus Vance, kepada Aureum, kepada orang-orang yang memasang bor, atau kepada siapa pun yang selama berhari-hari memperlakukan sungai dan tanah seolah-olah keduanya tidak memiliki hak untuk menolak.

Yang muncul justru sesuatu yang jauh lebih berat.

Duka.

Duka yang tidak memiliki satu wajah.

Duka untuk ikan-ikan yang mengambang di Ciasem. Untuk sapi yang jatuh setelah meminum air. Untuk tanah yang dibelah. Untuk hutan yang pelan-pelan kehilangan suara burung. Untuk air yang selama ratusan atau ribuan tahun mengalir mengikuti jalurnya sendiri, lalu tiba-tiba harus membawa sesuatu yang hitam dan beracun.

Dan yang paling sulit diterima Banyu adalah kenyataan bahwa semua itu dilakukan oleh manusia.

Oleh spesiesnya sendiri.

Ia menatap kedua tangannya.

Tangan yang sama yang selama ini digunakan untuk menimba air, memperbaiki pagar, mengangkat karung beras, membantu warga mengangkut bambu, dan sesekali mengusap lumpur dari kaki anak-anak yang bermain di sungai.

Tangan yang begitu biasa.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, tangan tersebut terasa seperti milik sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Banyu turun dari dipan.

Kakinya menyentuh lantai papan dengan hati-hati. Lututnya masih lemah, tetapi ia memaksa berdiri. Ia tidak membangunkan siapa pun. Tidak ada alasan untuk membangunkan Laras. Tidak ada penjelasan yang sanggup ia berikan jika ditanya hendak pergi ke mana.

Ia hanya tahu bahwa ia harus melihat sungai.

Sekali lagi.

Banyu membuka pintu gubuk.

Udara malam langsung menyambutnya.

Hening.

Tidak ada angin.

Daun-daun di pinggir hutan berdiri diam seolah-olah seluruh pepohonan sedang menahan napas. Tidak terdengar serangga malam sebanyak biasanya. Bahkan suara burung yang sesekali tinggal di sekitar hutan pun seakan menghilang.

Banyu melangkah keluar.

Tanah di sekitar gubuk lembap dan dingin. Embun menempel pada rerumputan. Ia berjalan mengikuti jalur kecil yang biasa digunakan warga menuju sungai, tetapi malam itu jalan tersebut terasa asing.

Beberapa kali Banyu harus berhenti untuk mengatur napas.

Tubuhnya belum pulih dari kejutan di dalam tanah. Setiap langkah membuat rasa sakit di dadanya berdenyut kembali. Namun rasa sakit itu tidak membuatnya berbalik.

Ia terus berjalan.

Semakin dekat dengan sungai, semakin jelas bau yang menyambutnya.

Busuk.

Bukan bau lumpur biasa setelah hujan. Bukan pula bau bangkai ikan yang hanya tertinggal beberapa jam. Bau itu lebih pekat, seperti campuran bahan kimia, logam, tanah basah, dan sesuatu yang telah membusuk terlalu lama di tempat tertutup.

Banyu menutup hidungnya dengan telapak tangan, tetapi hanya sebentar.

Ia menurunkan tangannya lagi.

Kalau sungai harus mencium bau seperti ini, pikirnya, ia tidak berhak mengeluh karena hidungnya sendiri tidak tahan.

Jalur tanah menurun menuju ceruk kecil di pinggir hutan. Dahulu tempat itu sering digunakan warga untuk mengambil air ketika musim kemarau. Aliran Ciasem di sana tidak terlalu deras karena sungai membentuk cekungan dangkal sebelum kembali menyempit ke arah hilir.

Sekarang airnya hampir tidak bergerak.

Banyu berhenti di atas tepian.

Untuk beberapa detik, ia tidak sanggup bergerak.

Air hitam terbentang di hadapannya.

Permukaannya tidak memantulkan bulan.

Lapisan pekat mengambang di atas air, begitu gelap sampai-sampai batas antara air dan bayangan hampir tidak terlihat. Sesekali permukaan itu bergeser pelan, meninggalkan kilap berminyak yang memanjang di antara rumpun-rumpun rumput mati.

Tidak ada ikan.

Tidak ada katak.

Tidak ada serangga air.

Tidak ada suara kehidupan.

Hanya aliran kecil yang bergerak lambat menuju cekungan, membawa warna hitam itu semakin jauh.

Banyu memandanginya lama.

Ia pernah melihat sungai dalam keadaan keruh. Pernah melihat banjir membawa lumpur. Pernah melihat sampah menumpuk di tikungan. Ia juga pernah mendengar cerita Pak Sugeng tentang masa ketika orang-orang tua harus membersihkan sungai dengan tangan sendiri setelah hujan besar.

Tetapi ini berbeda.

Ini bukan sungai yang sedang sakit.

Ini sungai yang sedang menanggung sesuatu.

Banyu turun perlahan ke tepian.

Lumpur menelan telapak sandalnya. Ia melepaskannya dan membiarkannya tertinggal. Kakinya langsung menyentuh tanah basah yang dingin.

Ia melangkah lagi.

Satu langkah.

Kemudian satu lagi.

Sampai akhirnya ia berdiri di tengah ceruk dangkal, beberapa meter dari tepian.

Air hitam itu hanya setinggi betis di tempatnya berdiri.

Banyu menatap permukaannya.

Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin marah.

Sangat ingin.

Ia bisa membayangkan wajah-wajah orang yang mengambil keputusan. Orang-orang yang melihat hutan hanya sebagai luas lahan. Yang melihat sungai sebagai saluran. Yang melihat gunung sebagai tempat menyimpan mineral. Yang melihat sesuatu yang hidup hanya dari berapa banyak energi yang dapat diperas darinya.

Tetapi malam itu Banyu tidak mau membawa kemarahan itu ke sungai.

Ia sudah terlalu banyak melihat apa yang dilakukan kemarahan.

Ia tahu bahwa marah kepada seseorang bisa terasa lebih mudah daripada mengakui bahwa seluruh peradaban tempatnya hidup memiliki bagian dalam kesalahan yang sama.

Banyu perlahan berlutut.

Lumpur langsung menekan kedua lututnya.

Dingin.

Kemudian panas.

Rasa panas itu datang dari air yang menyentuh kulit kakinya. Banyu meringis. Ada sensasi seperti ribuan jarum halus yang menusuk permukaan kulit.

Ia tidak bergerak.

Kepalanya tertunduk.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke sungai, ia membiarkan dirinya merasakan seluruh beban yang sejak tadi ia tahan.

Bukan rasa takut.

Bukan kebencian.

Rasa malu.

Banyu menarik napas panjang.

“Aku minta maaf.”

Suaranya begitu kecil sampai hampir hilang ditelan malam.

Ia tidak tahu kepada siapa ia berbicara.

Mungkin kepada sungai.

Mungkin kepada roh-roh yang selama ini tinggal di balik aliran air.

Mungkin kepada hutan.

Mungkin kepada sesuatu yang bahkan belum pernah diketahui manusia.

Atau mungkin kepada bumi itu sendiri.

Banyu mengangkat kedua tangannya.

Lihat selengkapnya