Menjelang fajar, hutan hulu Kertajaya masih tenggelam dalam kegelapan.
Malam belum benar-benar berakhir, tetapi langit di balik pepohonan sudah mulai kehilangan pekatnya. Di antara batang-batang pohon yang menjulang rapat, warna hitam perlahan berubah menjadi biru tua. Kabut tipis menggantung rendah di atas tanah. Udara begitu diam sampai-sampai setiap bunyi kecil terdengar seperti sesuatu yang datang dari tempat yang sangat jauh.
Namun di ceruk sungai itu, waktu seakan berhenti.
Air Ciasem yang semula hitam dan nyaris tak bergerak kini bergulung perlahan.
Tidak seperti arus banjir.
Tidak seperti pusaran yang terbentuk karena dasar sungai berlubang.
Gerakannya terlalu teratur.
Terlalu dalam.
Air hitam di tengah ceruk berputar membentuk lingkaran yang semakin besar, sementara cahaya ungu kehijauan dari dasar sungai terus memancar di sela-sela gulungan pekat tersebut. Lapisan minyak dan limbah yang sebelumnya menutupi permukaan air terpecah menjadi garis-garis tipis, lalu ikut berputar mengelilingi cahaya yang berasal dari bawah.
Banyu masih berada di sana.
Kedua tangannya telah keluar dari air.
Ia tidak lagi berlutut. Tubuhnya berdiri dengan susah payah di tengah ceruk yang kini tidak lagi terasa seperti sungai.
Kakinya tidak menyentuh dasar.
Banyu mengambang.
Awalnya hanya beberapa sentimeter.
Lalu semakin tinggi.
Tubuhnya terangkat perlahan oleh sesuatu yang tidak dapat dilihat, seolah-olah air di bawahnya telah kehilangan sifatnya sebagai benda cair dan berubah menjadi ruang kosong yang menahan tubuh manusia tanpa membiarkannya jatuh.
Banyu menatap ke bawah.
Air hitam bergulung tepat di bawah kakinya.
Ia tidak merasa takut.
Aneh.
Setelah semua yang dialaminya sejak bor itu menembus tujuh belas kilometer ke dalam bumi, seharusnya ada rasa panik. Seharusnya ia mencoba berpegangan pada sesuatu, berusaha kembali ke tepian, atau setidaknya mencari jalan keluar.
Tetapi yang muncul justru ketenangan.
Banyu teringat doa yang baru saja diucapkannya.
Ia tidak meminta agar alam berhenti menghukum manusia.
Ia tidak meminta agar dirinya diselamatkan.
Ia hanya mengakui kesalahan.
Dan mungkin sekarang, apa pun yang berada di bawah sungai itu sedang memberikan jawaban.
Banyu memejamkan mata.
“Kalau ini akibatnya,” bisiknya, “aku terima.”
Tidak ada suara yang menjawab.
Namun pusaran semakin dalam.
Cahaya dari bawah air memanjang ke atas, menembus lapisan hitam dan mengelilingi tubuh Banyu seperti kabut bercahaya. Warna ungu dan hijau bergantian muncul di antara semburat putih yang semakin terang. Di permukaan sungai, lingkaran air mulai melebar sampai menyentuh tepian ceruk.
Tanah bergetar.
Banyu membuka mata.
Di tengah pusaran, ia melihat sesuatu yang tidak mungkin ada di sana.
Bukan dasar sungai.
Bukan batu.
Bukan tanah.
Sebuah ruang.
Di balik permukaan air yang bergulung, tampak kedalaman yang tidak memiliki ujung. Ada garis-garis cahaya seperti aliran sungai yang membentang jauh ke dalam kegelapan. Beberapa terlihat seperti akar, beberapa seperti urat, dan sebagian lainnya menyerupai jaringan sungai yang dilihatnya pada peta kuno milik Dania.
Namun jaringan itu hidup.
Cahaya bergerak di dalamnya.
Mengalir.
Banyu tidak tahu berapa lama ia menatapnya.
Ia hanya tahu bahwa sesuatu di balik ruang tersebut terasa sangat tua.
Lebih tua daripada desa.
Lebih tua daripada hutan.
Lebih tua daripada manusia.
Dan anehnya, tempat itu terasa akrab.
Seolah-olah selama ini ia hanya berdiri di sisi yang salah dari sebuah pintu.
Pintu yang sekarang terbuka.
Laras terbangun karena suara yang tidak seharusnya ada.
Ia semula mengira suara itu berasal dari mesin.
Getaran rendah yang terasa sampai ke lantai rumah membuatnya langsung membuka mata. Beberapa detik ia hanya berbaring dalam kegelapan, berusaha memahami apakah dirinya masih bermimpi.
Kemudian suara itu datang lagi.
Bukan mesin.
Terlalu dalam.
Terlalu berirama.
Seperti sungai sedang menggeram dari bawah tanah.
Laras langsung bangkit.
Ia menoleh ke tempat Banyu seharusnya berada.
Kosong.
Dadanya seketika terasa sesak.
“Banyu?”
Tidak ada jawaban.
Laras keluar dari tempat persembunyiannya dan mengambil jaket yang tergantung di dekat pintu. Ia tidak sempat berpikir panjang. Sejak beberapa hari terakhir, ia sudah mengenal pola Banyu. Kalau laki-laki itu menghilang tanpa mengatakan apa-apa, hampir selalu ada sungai di ujung perjalanannya.
Dan setelah semua yang terjadi malam itu, ia tahu persis ke mana Banyu mungkin pergi.
Laras berlari.
Jalur menuju hulu masih gelap. Beberapa kali kakinya tergelincir di tanah basah. Ranting-ranting mencakar lengan dan wajahnya, tetapi ia tidak berhenti. Napasnya mulai berat ketika ia mendaki jalan kecil menuju ceruk sungai.
Semakin dekat, suara itu semakin jelas.
Laras berhenti sejenak di antara dua pohon.
Ia mendengar sesuatu seperti gemuruh.
Namun tidak ada angin.
Daun-daun bahkan tidak bergerak.
Ia berlari lagi.
“Banyu!”
Tidak ada jawaban.
Kemudian cahaya muncul di sela-sela pepohonan.
Laras memperlambat langkah.
Cahaya itu bukan cahaya lampu.
Bukan pula cahaya api.
Ia memancar dari arah sungai dengan warna yang sulit ditangkap mata—ungu, hijau, putih, semuanya bercampur seperti warna yang tidak seharusnya hidup berdampingan.
Laras keluar dari balik pepohonan.
Dan seluruh tubuhnya membeku.
Ceruk sungai telah berubah.
Air hitam berputar membentuk pusaran raksasa.
Lebarnya hampir memenuhi seluruh bagian sungai. Air tidak lagi mengalir ke hilir. Sebaliknya, seluruh aliran tampak ditarik ke satu titik di tengah, lalu berputar mengelilinginya dalam lingkaran yang semakin cepat.
Tetapi tidak ada suara deras seperti air terjun.
Yang terdengar justru dengungan rendah.
Dengungan yang membuat tulang Laras bergetar.
Lalu ia melihat Banyu.
“Banyu!”
Laki-laki itu berada di tengah pusaran.
Mengapung.
Tidak tenggelam.
Tidak terseret.
Tubuhnya melayang beberapa puluh sentimeter di atas permukaan air, dikelilingi cahaya yang terus bergerak. Bajunya basah. Rambutnya menempel di dahi. Wajahnya pucat dan tubuhnya tampak sangat kecil dibandingkan dengan pusaran raksasa yang mengelilinginya.
“Banyu!”
Laras berlari ke tepian.
Banyu menoleh.
Mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Laras melihat sesuatu dalam wajah Banyu yang membuat kemarahannya bercampur dengan ketakutan.
Banyu tidak tampak sedang berjuang.
Ia tampak pasrah.
Seolah-olah dirinya sudah menerima bahwa apa pun yang terjadi setelah ini bukan lagi sesuatu yang dapat ia kendalikan.
“Jangan diam saja!” teriak Laras.
Banyu membuka mulut.
“Aku tidak apa-apa.”
“Bohong!”