Fajar datang tanpa warna.
Di hulu Kertajaya, langit hanya berubah dari hitam menjadi abu-abu pucat. Kabut menggantung rendah di antara pepohonan, menutup sebagian lereng dan membuat hutan tampak seperti sesuatu yang belum selesai dibangunkan. Udara masih dingin, tetapi bau sungai telah lebih dahulu menyusup ke mana-mana—bau kimia, lumpur busuk, dan sisa kehidupan yang membusuk di permukaan air.
Di tepi ceruk tempat Banyu dan Laras menghilang, dua orang pengaman Aureum berdiri tanpa banyak bicara.
Mereka datang beberapa menit sebelumnya setelah menerima laporan tentang anomali di hulu. Salah seorang membawa lampu sorot, sementara yang lain mengenakan masker tipis yang sebenarnya tidak banyak membantu menahan bau.
Cahaya lampu menyapu tepian sungai.
Tidak ada apa-apa.
Pusaran yang semalam menggulung seperti pintu raksasa sudah tidak terlihat. Air Ciasem kembali mengalir pelan, hitam dan pekat, seolah-olah tidak pernah berhenti. Tidak ada cahaya ungu kehijauan dari dasar sungai. Tidak ada retakan bercahaya. Tidak ada jejak kedua manusia yang beberapa jam sebelumnya berada di sana.
Yang tersisa hanya dua pasang jejak yang berhenti terlalu dekat dengan air.
Salah seorang pengaman berjalan menyusuri tepian.
“Di sini.”
Ia menunjuk sesuatu yang tersangkut di akar pohon.
Sepotong kain.
Pengaman kedua mendekat dan menariknya dengan ujung tongkat. Kain itu basah, berlumpur, dan berbau menyengat.
Beberapa meter dari sana, mereka menemukan sandal.
Kemudian tas kecil.
Dan di dekat ceruk, pakaian yang sebagian tertinggal di lumpur.
Tidak ada tubuh.
Tidak ada darah.
Tidak ada tanda perkelahian.
Bagi mereka, kesimpulannya sederhana.
Dua orang hilang di sungai beracun.
Mungkin terpeleset.
Mungkin terseret arus.
Mungkin panik ketika air berubah dan tidak mampu menyelamatkan diri.
Salah seorang pengaman mengeluarkan radio.
“Pos Hulu kepada Komando. Kami menemukan barang milik dua warga yang dilaporkan berada di lokasi tadi malam. Tidak ditemukan korban. Dugaan sementara tenggelam.”
Radio berdesis.
“Pastikan area diamankan.”
“Dimengerti.”
Ia menatap kembali ke sungai.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Airnya terlalu tenang.
Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Beberapa menit kemudian, pita pembatas dipasang di sepanjang jalan menuju ceruk. Kendaraan pengaman datang satu per satu. Beberapa orang mengenakan pakaian pelindung sederhana dan mulai memeriksa lokasi.
Mereka tidak mencari pintu.
Tidak mencari cahaya.
Tidak mencari dua orang yang sebenarnya telah meninggalkan dunia itu.
Mereka mencari bukti yang dapat dijelaskan.
Dan ketika bukti yang dapat dijelaskan tidak ditemukan, mereka membuat penjelasan sendiri.
Marcus Vance tiba ketika matahari mulai muncul sebagai garis tipis di balik pegunungan.
Ia berdiri di depan kendaraan dengan jaket lapangan yang masih bersih, memandang sungai dari balik pembatas. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan.
Seorang kepala pengaman mendekat.
“Dua orang hilang, Pak. Banyu dan Laras. Barang-barang mereka ditemukan di tepi sungai.”
“Tubuh?”
“Belum ditemukan.”
Marcus mengangguk.
“Jadi kemungkinan tenggelam.”
“Kami menduga begitu.”
Marcus memandang permukaan air.
Ia tahu laporan semalam menyebut adanya gangguan aneh pada sensor sekitar ceruk. Ia juga tahu beberapa kamera keamanan menangkap cahaya yang tidak bisa dijelaskan. Tetapi hal-hal seperti itu tidak penting selama belum menjadi masalah.
Yang penting adalah narasi.
“Masukkan dalam laporan sebagai kecelakaan akibat kelalaian warga,” katanya.
Kepala pengaman terdiam sebentar.
“Pak?”
“Dua aktivis masuk ke area terlarang tanpa izin. Mereka mengabaikan pembatas. Mereka berada di dekat sungai yang sudah dinyatakan tercemar. Kalau mereka jatuh, tanggung jawabnya ada pada mereka sendiri.”
“Baik, Pak.”
“Jangan ada yang memberikan keterangan lain.”
Marcus berjalan beberapa langkah menuju tepian.
Ia melihat pakaian yang diangkat dari lumpur.
Tidak ada tubuh.
Tidak ada masalah.
Kalau ada wartawan bertanya, jawabannya sederhana. Dua aktivis memasuki zona berbahaya. Mereka mengabaikan peringatan. Mereka tenggelam.
Tidak perlu bicara mengenai cahaya.
Tidak perlu bicara mengenai pusaran.
Tidak perlu bicara tentang sesuatu yang mungkin berada di bawah tujuh belas kilometer batuan.
Marcus menoleh kepada kepala pengaman.
“Perketat lokasi.”
“Untuk pencarian korban?”
“Untuk operasional.”
Kepala pengaman mengangguk.
Marcus melanjutkan, “Bor tidak berhenti.”
Kalimat itu terdengar lebih dingin daripada udara pagi.
“Tapi, Pak, ada insiden—”
“Justru karena itu.”
Marcus menatapnya.
“Kalau kita berhenti setiap kali ada orang yang membuat masalah sendiri, kita tidak akan pernah menyelesaikan proyek ini.”
Ia berbalik.
“Pastikan area dibersihkan. Pastikan tidak ada warga mendekat. Dan jangan biarkan siapa pun mengambil benda dari lokasi.”
Ia berjalan kembali menuju kendaraan.
Di belakangnya, sungai terus mengalir.
Hitam.
Diam.
Seolah-olah menyimpan sesuatu yang tidak akan pernah bisa dimasukkan ke dalam laporan resmi.
Di luar Kertajaya, beberapa puluh kilometer dari wilayah yang dikunci Aureum, sebuah ponsel bergetar di atas meja.
Dania sedang duduk di dalam sebuah kamar sempit yang disewanya untuk sementara. Tirai jendela tertutup. Laptop terbuka di hadapannya. Di layar, peta geologi dan data aliran bawah tanah yang ia salin sebelum meninggalkan desa masih terbuka.
Ia belum tidur.
Sejak keluar dari Kertajaya, ia hampir tidak tidur.
Pesan yang masuk hanya terdiri dari beberapa baris.
Banyu dan Laras hilang.
Barang mereka ditemukan di hulu.
Aureum menyatakan kecelakaan tenggelam.
Dania membaca pesan itu sekali.
Kemudian sekali lagi.
Tangannya berhenti di atas papan ketik.
“Tidak.”
Kata itu keluar begitu saja.
Pelan.
Seolah-olah dengan mengucapkannya ia dapat membatalkan isi pesan tersebut.
Ia membaca lagi.
Banyu.
Laras.