Banyu terbangun karena paru-parunya menolak sesuatu yang bukan lagi seharusnya berada di dalam tubuh manusia.
Ia terbatuk keras.
Tubuhnya terangkat setengah dari hamparan pasir, lalu kembali jatuh dengan kedua telapak tangan menekan permukaan tanah yang dingin. Batuk berikutnya lebih dalam. Dadanya terasa seperti diremas dari dalam, tenggorokannya terbakar, dan sesuatu yang pahit mengalir keluar dari mulutnya bersama air hitam yang kental. Ia memuntahkannya ke pasir, tersedak, lalu menarik napas pendek-pendek dengan suara serak.
Air itu tidak menyerap ke dalam tanah seperti air biasa.
Cairan hitam menggenang sebentar di antara butiran pasir perak, membentuk noda pekat yang mengilap di bawah cahaya remang. Beberapa detik kemudian, noda itu perlahan berpendar kehijauan dari tepinya sebelum menghilang, seolah-olah tanah sendiri sedang menelan racun yang baru saja dimuntahkan tubuhnya.
Banyu tidak memperhatikannya.
Ia hanya berusaha bernapas.
Udara masuk ke paru-paru dengan rasa yang aneh—terlalu bersih, terlalu ringan, tetapi juga memiliki aroma basah seperti hutan setelah hujan pertama. Tidak ada bau lumpur busuk. Tidak ada bau bahan kimia. Tidak ada aroma logam dan solar yang selama berhari-hari menempel di udara Hulu Subang. Tidak ada bau bangkai ikan yang memenuhi Ciasem.
Ia menarik napas lagi.
Dadanya masih sakit, tetapi kali ini udara itu terasa menenangkan.
Banyu menundukkan kepala. Kedua tangannya gemetar. Jelaga hitam melekat pada lengan, leher, dan sebagian wajahnya. Pakaiannya masih pakaian yang sama ketika ia masuk ke pusaran. Kainnya basah dan berat, tetapi tidak lagi meneteskan air. Ada lebam panjang di sisi pinggang dan bahu kirinya. Kulit di telapak tangannya memerah, seperti pernah terbakar, meskipun rasa perihnya jauh lebih ringan daripada yang ia ingat.
Ingatan terakhir datang sepotong demi sepotong.
Air hitam.
Laras.
Cahaya ungu kehijauan.
Pusaran.
Dan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sungai.
Banyu mengangkat wajah.
Untuk beberapa saat ia hanya memandang tanpa memahami apa yang dilihatnya.
Di hadapannya terbentang sungai.
Bukan Ciasem.
Bahkan bukan sungai yang bisa dibandingkan dengan sungai mana pun yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.
Permukaannya membentang begitu jauh ke kiri dan kanan sampai batasnya menghilang di balik vegetasi raksasa dan kabut bercahaya. Lebarnya mungkin beberapa kilometer. Airnya tidak mengalir dengan suara deras seperti sungai pegunungan, melainkan bergerak dalam arus yang begitu besar dan lambat sehingga dari tempat Banyu berada, permukaannya tampak seperti lembaran kaca cair.
Di kejauhan, aliran itu membentuk lengkungan yang tidak mungkin ia ukur. Di beberapa tempat, pulau-pulau pasir dan batu menjulur dari tengah sungai, ditumbuhi tumbuhan tinggi dengan batang sebesar rumah dan daun-daun lebar yang berlapis-lapis. Beberapa tumbuhan tampak seperti perpaduan antara pohon dan pakis raksasa, dengan tajuk menjulang puluhan meter ke atas. Sulur-sulur berwarna pucat menggantung dari cabang-cabangnya dan berpendar seperti urat cahaya.
Banyu berkedip.
Ia mengusap mata.
Pemandangan itu tidak berubah.
Kemudian terdengar suara orang terbatuk di belakangnya.
Banyu langsung menoleh.
“Laras?”
Perempuan itu terbaring sekitar lima atau enam meter darinya, tubuhnya miring dengan satu tangan masih mencengkeram pasir. Rambutnya basah dan kusut menutupi sebagian wajah. Pakaian yang dikenakannya penuh noda hitam. Untuk sesaat ia tidak bergerak.
Banyu hendak bangkit, tetapi tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan. Lututnya jatuh kembali ke pasir.
“Laras.”
Kali ini suaranya lebih keras.
Laras bergerak.
Jarinya menggeliat lebih dulu. Kemudian bahunya terangkat. Ia menarik napas panjang dan mendadak terbatuk-batuk seperti Banyu sebelumnya. Tubuhnya berguling sedikit, lalu ia memuntahkan cairan hitam dari mulutnya.
Banyu merangkak mendekat.
“Laras!”
Perempuan itu akhirnya membuka mata.
Tatapannya kosong selama dua detik.
Kemudian fokus.
“Banyu?”
“Iya.”
Laras menarik napas cepat. Matanya bergerak ke seluruh tubuh Banyu, lalu ia langsung bangkit dengan gerakan terburu-buru meskipun wajahnya meringis kesakitan.
“Kamu kenapa?”
“Aku... nggak tahu.”
“Bisa berdiri?”
“Belum tahu.”
“Pusing?”
“Sedikit.”
“Sesak?”
Banyu menggeleng, lalu ragu dan mengangguk.
“Masih sakit di dada.”
Laras sudah berlutut di depannya. Tangannya bergerak memeriksa dahi, leher, bahu, kemudian dada Banyu dengan ketelitian seseorang yang berusaha mengubah kepanikan menjadi prosedur.
“Tarik napas.”
Banyu menurut.
“Dalam.”
Ia menarik napas.
“Tahan.”
Banyu menahannya beberapa detik.
“Keluar.”
Ia mengembuskan napas perlahan.
Laras memperhatikan gerakan dadanya.
“Pendarahan?”
“Nggak.”
“Penglihatan?”
“Masih ada.”
“Dengar?”
“Masih.”
“Bisa gerakkan tangan?”
Banyu mengangkat kedua tangannya.
“Kaki?”
Ia menggerakkan kaki.
Laras menghela napas, tetapi wajahnya belum juga tenang. Ia memeriksa dirinya sendiri dengan cara yang hampir sama. Memutar bahu, menggerakkan leher, menekan rusuk, memeriksa telapak tangan dan lutut.
“Sepertinya tulang nggak ada yang patah,” katanya akhirnya.
Banyu memandangnya.
“Kita di mana?”
Pertanyaan itu membuat Laras terdiam.
Baru sekarang ia benar-benar melihat sekeliling.
Matanya bergerak perlahan dari pasir di bawah mereka, menuju sungai, kemudian ke vegetasi yang menjulang jauh di belakang tepian. Ekspresinya berubah.
Waspada.
Bukan sekadar bingung.
Banyu mengenal ekspresi itu. Laras selalu memiliki cara untuk mengubah ketakutan menjadi analisis. Ketika berhadapan dengan aparat, ia menghitung jumlah orang dan kemungkinan jalan keluar. Ketika menghadapi patroli keamanan Aureum, ia memperhatikan kendaraan, posisi kamera, dan arah angin. Ketika sungai berubah hitam, ia mengambil sampel.
Tetapi kali ini tidak ada apa pun yang bisa dihitung.
Laras berdiri.
Ia terhuyung sekali, lalu berhasil menjaga keseimbangan.
“Banyu.”
“Hm?”
“Jangan bergerak dulu.”
“Kenapa?”
“Aku mau lihat sesuatu.”
Ia memandang ke atas.
Banyu mengikuti arah matanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun, ia merasakan sesuatu yang menyerupai ketakutan.
Langit di atas mereka tidak berwarna biru.
Tidak juga hitam.
Warnanya seperti fajar yang tidak pernah selesai menjadi pagi. Lapisan kabut tipis memenuhi seluruh cakrawala, tetapi kabut itu bukan putih. Ada warna kebiruan, keperakan, ungu pucat, dan sedikit hijau yang bergerak perlahan seperti asap di dalam air. Titik-titik cahaya tersebar di dalamnya. Sebagian kecil, seperti bintang yang jauh. Sebagian lain berupa jalur panjang yang samar, bergerak perlahan dari satu sisi langit menuju sisi lain.
Tidak ada matahari.
Tidak ada bulan.
Tidak ada awan biasa.
Namun tempat itu terang.
Bukan terang seperti siang.
Cahayanya lembut, menyelimuti segala sesuatu tanpa memiliki sumber yang jelas. Pasir di bawah kaki mereka berkilau seperti serbuk logam. Batang-batang tumbuhan memancarkan cahaya samar dari dalam jaringan kayunya. Bahkan permukaan sungai memantulkan warna yang tidak datang dari langit.
Laras menatap ke atas cukup lama.
“Mana mataharinya?”
Banyu tidak menjawab.
Laras mengeluarkan ponsel dari saku celana.
Layarnya mati.
Ia menekan tombol daya.
Tidak ada reaksi.
Ia menekan lagi.
“Baterainya habis?”
“Barusan masih hidup.”
“Aku tahu.”
Laras mengerutkan kening. Ia menekan tombol lebih lama. Tidak ada logo, tidak ada getaran, tidak ada cahaya.
Ia kemudian melihat jam tangan digital di pergelangan tangannya.
Layar hitam.
Laras menekan tombol samping.
Tetap tidak menyala.
“Ini aneh.”
Banyu memperhatikan.
Laras melepas jam tangan itu, membaliknya, kemudian membuka penutup baterai dengan kuku. Tangannya berhenti.
Ada lapisan tipis berwarna kecokelatan di bagian logam.