Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #17

Ratapan Tanpa Suara

Mereka meninggalkan tepian sungai ketika cahaya remang di atas Sindhu mulai berubah.

Bukan berubah dari terang menjadi gelap. Di tempat ini, Banyu mulai menyadari, terang dan gelap sepertinya bukan dua keadaan yang benar-benar berbeda. Langit tetap berada dalam warna fajar yang tertahan, seolah matahari pernah hendak muncul jutaan tahun lalu, lalu berubah pikiran dan meninggalkan dunia ini dalam keadaan menunggu. Kabut bercahaya mengambang rendah di atas sungai, bergerak perlahan mengikuti arus udara yang nyaris tak terasa.

Laras berjalan lebih dulu.

Tangannya sesekali menyibak sulur-sulur panjang yang menggantung dari pohon di depan mereka. Ia tidak lagi bertanya apakah tumbuhan itu berbahaya. Pertanyaan semacam itu terlalu sederhana untuk tempat seperti ini. Ia hanya mengamati bentuk daun, permukaan batang, warna getah, dan apa pun yang mungkin menunjukkan bahwa mereka sedang memasuki wilayah yang bisa dilewati manusia.

Banyu mengikuti beberapa langkah di belakang.

Kakinya masih terasa berat. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari perjalanan melalui pusaran air. Setiap kali melangkah terlalu cepat, sisi pinggangnya berdenyut akibat lebam yang belum hilang. Namun rasa sakit itu tidak lagi mengganggunya seperti ketika pertama kali sadar.

Ada sesuatu yang berbeda pada tubuhnya sejak mereka tiba di Sindhu.

Napasnya lebih panjang.

Jantungnya terasa lebih tenang.

Bahkan rasa sakit yang tersisa seperti tidak lagi berusaha memperingatkannya tentang bahaya, melainkan sekadar mengingatkan bahwa ia masih hidup.

Mereka berjalan menjauh dari sungai menuju kawasan yang dipenuhi pepohonan besar.

Semakin jauh mereka melangkah, semakin basah tanah di bawah kaki. Pasir perak berubah menjadi lumpur lembut, lalu menjadi hamparan tanah gelap yang ditumbuhi akar-akar besar. Pohon-pohon di tempat itu memiliki bentuk yang mengingatkan Laras pada bakau, tetapi semuanya terlalu besar untuk disebut sebagai bakau biasa.

Beberapa batang menjulang setinggi gedung.

Akar-akarnya keluar dari tanah seperti tiang-tiang yang dipahat alam, sebagian menggantung dari dahan sebelum menancap kembali ke lumpur. Yang lain membentuk lengkungan besar di atas kepala mereka, menciptakan lorong alami yang remang.

Akar-akar itu memancarkan cahaya biru redup.

Tidak terang.

Hanya cukup untuk membuat bentuk-bentuk di sekitarnya terlihat.

Laras berhenti di depan salah satu akar.

Ia mengangkat tangan, tetapi tidak menyentuhnya.

“Ini hidup?”

Banyu melihat permukaan akar yang perlahan berdenyut.

“Kayaknya.”

“Kayaknya?”

“Kalau kamu mau jawaban ilmiah, aku nggak punya.”

Laras menghela napas.

“Aku juga nggak.”

Ia kemudian melanjutkan perjalanan.

Mereka mencoba mencari semacam celah di antara pepohonan. Dari tepian sungai tadi, Laras sempat melihat jalur tanah yang sedikit lebih tinggi dan mengarah ke daratan. Ia berharap jalur itu bisa membawa mereka ke tempat yang lebih terbuka.

Namun setelah hampir setengah jam berjalan, hutan justru semakin rapat.

Akar-akar menggantung dari atas seperti tirai. Beberapa bahkan menyentuh permukaan rawa dan membentuk jaringan kusut. Di sela-selanya tumbuh tumbuhan berdaun tipis yang berpendar kehijauan. Sesekali ada bunga kecil yang membuka dan menutup secara perlahan, seperti sedang bernapas.

Laras mulai merasa mereka berputar.

Ia berhenti dan melihat ke belakang.

Jalur yang baru saja mereka lewati hampir tidak terlihat.

“Banyu.”

“Hm?”

“Kita tadi lewat sini?”

Banyu menatap sekeliling.

Ada akar besar berbentuk seperti huruf U di sebelah kiri. Di bawahnya tumbuh rumpun tumbuhan berwarna pucat.

“Iya.”

Laras mengernyit.

“Berarti kita muter.”

“Mungkin.”

“Mungkin?”

Banyu menunjuk tanah.

“Lihat.”

Di lumpur terdapat jejak mereka sendiri.

Samar, tetapi masih terlihat.

Laras berjongkok.

“Bagus. Berarti kita tahu setidaknya kita belum hilang sepenuhnya.”

Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu segera menghilang ketika sebuah suara terdengar dari kejauhan.

Bukan suara langkah.

Bukan suara air.

Sesuatu seperti kepakan sayap.

Laras langsung berdiri.

Banyu juga menoleh.

Suara itu muncul lagi.

Banyak.

Puluhan.

Mungkin ratusan.

Tetapi tidak ada satu pun burung yang terlihat di antara pepohonan.

Kemudian kabut di depan mereka bergerak.

Sesuatu melintas di dalamnya.

Siluet pertama berbentuk burung.

Tubuhnya besar, jauh lebih besar daripada burung-burung yang biasa mereka lihat. Sayapnya terbentang lebar, tetapi bentuk tubuh itu tidak sepenuhnya utuh. Pinggirannya transparan dan terus berubah, seperti asap yang dipaksa mempertahankan bentuk seekor makhluk hidup.

Burung itu terbang melewati celah akar.

Tidak mengepakkan sayap.

Ia hanya melayang.

Laras membeku.

Siluet kedua muncul.

Ketiga.

Keempat.

Dalam beberapa detik, kawanan itu memenuhi ruang di antara pepohonan.

Ada yang menyerupai burung air purba dengan leher panjang. Ada yang bertubuh gemuk dan bersayap pendek. Ada pula bentuk yang tidak langsung bisa dikenali Laras sebagai burung karena bagian tubuhnya sudah terlalu kabur.

Semuanya transparan.

Semuanya seperti dibuat dari jelaga dan kabut.

Dan semuanya terluka.

Pada salah satu makhluk, bagian sayapnya hilang seperti terpotong. Pada yang lain terdapat garis hitam melintang dari kepala hingga dada. Ada pula yang seluruh tubuhnya dipenuhi bercak gelap seperti asap minyak.

Laras menahan napas.

“Banyu...”

“Aku lihat.”

“Ini nyata?”

Banyu tidak menjawab.

Seekor makhluk melewati mereka.

Laras secara refleks mundur.

Tidak ada angin ketika makhluk itu lewat. Tidak ada suara kepakan. Namun ia merasakan hawa dingin menjalar dari bahu sampai ke punggung.

Kemudian muncul bentuk lain di antara akar-akar.

Mamalia.

Banyu mengenali beberapa bentuknya hanya dari siluet.

Seekor hewan besar dengan kaki panjang.

Sekelompok makhluk kecil yang bergerak berdekatan.

Satu hewan bertubuh besar dengan kepala rendah dan tonjolan seperti tanduk.

Mereka semua bergerak seperti bayangan yang kehilangan sumber cahaya.

Laras menatap tanpa berkedip.

“Jadi...” suaranya hampir berbisik. “Ini roh?”

Banyu merasakan sesuatu menekan dadanya.

Bukan sakit.

Kesedihan.

Tiba-tiba.

Begitu kuat sampai ia harus menarik napas.

Ia tidak mendengar suara tangisan.

Tidak ada raungan.

Tidak ada jeritan.

Tetapi ada sesuatu yang mengalir dari makhluk-makhluk itu ke dalam dirinya.

Perasaan.

Takut.

Bingung.

Kehilangan.

Rasa sakit yang terlalu lama dipendam.

Banyu memejamkan mata.

Di dalam gelap, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia terjemahkan menjadi kata.

Rumah.

Hilang.

Air.

Pohon.

Tanah.

Asap.

Kemudian pergi.

Ia membuka mata.

Laras sedang memandangnya.

Lihat selengkapnya