Bau itu datang sebelum mereka melihat apa pun.
Banyu mula-mula mengira sumbernya berasal dari rawa.
Sejak memasuki Lembah Akar Raksasa, udara memang terasa lebih lembap daripada di tepian sungai. Tanah di bawah kaki mereka lunak dan gelap, dipenuhi genangan kecil yang permukaannya memantulkan cahaya biru dari akar-akar pohon purba. Sulur-sulur raksasa menjulur dari atas, melingkari batang dan tanah, membentuk lorong-lorong alami yang kadang begitu sempit sampai Laras harus memiringkan tubuh untuk melewatinya.
Namun semakin jauh mereka berjalan, semakin jelas bahwa bau itu tidak berasal dari rawa.
Banyu berhenti.
Ia mengendus pelan.
Bau tersebut menusuk hidungnya seperti campuran minyak terbakar, logam basah, lumpur busuk, dan sesuatu yang jauh lebih pekat. Bukan sekadar bau yang tidak menyenangkan. Ada sensasi pahit yang tertinggal di belakang tenggorokan setiap kali ia bernapas.
Ia menunduk melihat lengannya.
Noda hitam yang sejak tadi melekat pada kulitnya kini tampak berbeda.
Jelaga yang sebelumnya hanya berupa bercak tipis telah menyebar menjadi garis-garis gelap di sepanjang lengan dan pergelangan tangan. Sebagian menempel di sela kuku. Sebagian lain meresap ke pori-pori seperti tinta.
Kulit di sekitar noda itu memerah.
Panas.
Banyu mengusapnya.
“Ah.”
Laras yang berjalan di depan langsung berbalik.
“Kenapa?”
“Ini makin panas.”
“Mana?”
Banyu menunjukkan lengannya.
Laras mendekat dan mengamati kulit tersebut. Ia tidak langsung menyentuhnya. Dari pengalaman mereka sejak tiba di Sindhu, noda hitam itu bukan sekadar kotoran yang bisa dibersihkan dengan air.
Ia membuka sedikit lengan bajunya sendiri.
Kondisinya sama.
Bercak hitam pada kain telah menyebar membentuk pola tidak beraturan. Di beberapa bagian, serat kain terlihat rapuh, seolah telah mengalami pelapukan dalam waktu yang jauh lebih lama daripada usia pakaian itu sendiri.
“Pakaian kita juga berubah,” kata Laras.
Banyu mengangguk.
“Bau ini dari kita?”
Laras terdiam.
Ia mengendus pakaiannya sendiri.
Wajahnya langsung berubah.
“Iya.”
Banyu menatapnya.
“Parah?”
“Parah.”
Laras menarik napas dari udara sekitar, lalu mundur sedikit dari dirinya sendiri seolah baru sadar bahwa tubuhnya membawa sesuatu yang tidak kasatmata.
Banyu merasa dadanya kembali berat.
Mereka telah datang ke Sindhu membawa racun.
Pikiran itu sederhana, tetapi terasa jauh lebih menyakitkan daripada rasa panas di kulitnya.
Di dunia manusia, mereka mungkin hanya membawa sisa pencemaran yang menempel pada pakaian dan tubuh setelah terendam air Ciasem. Namun di sini, di dunia yang terasa seperti suaka bagi jalur sungai purba, noda itu seolah berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata.
Sesuatu yang hidup.
Sesuatu yang dikenali oleh penghuni Sindhu.
Banyu memandang ke arah lorong akar yang mereka lewati.
Bayangan-bayangan roh pengungsi yang sebelumnya mereka lihat sudah tidak tampak lagi.
Mereka telah menjauh.
Saat itu Banyu mengira para roh hanya masih takut kepada manusia.
Sekarang ia mulai memahami bahwa mungkin ada alasan lain.
“Mereka menjauh karena bau ini,” katanya.
Laras menatapnya.
“Jangan menyalahkan diri sendiri dulu.”
“Aku bukan menyalahkan diri sendiri.”
“Kamu kelihatan seperti mau melakukannya.”
Banyu tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak bertahan lama.
“Kalau kita bawa racun dari sana ke sini, berarti kita juga bawa masalahnya.”
Laras mengusap noda hitam di lengan sendiri.
“Kita nggak sengaja.”
“Buat racun, sengaja atau nggak mungkin nggak ada bedanya.”
Laras tidak membantah.
Mereka kembali berjalan.
Lembah Akar Raksasa semakin dalam.
Di tempat itu, pohon-pohon purba tidak tumbuh dengan pola yang bisa dipahami Banyu. Batang-batangnya menjulang dari dasar lembah, lalu bercabang menjadi jaringan raksasa yang bertemu di atas mereka. Akar-akar yang muncul dari tanah membentuk dinding alami, sementara sulur panjang menggantung seperti tirai.
Cahaya Sindhu masuk melalui celah-celahnya.
Tidak ada matahari yang menjadi sumber cahaya, tetapi setiap akar memancarkan sinar kebiruan dari dalam jaringan kayunya. Beberapa lumut di permukaan batu mengeluarkan pendaran hijau pucat. Di kejauhan, bunga-bunga kecil membuka kelopaknya satu demi satu dan menghasilkan kilau putih seperti bara yang hampir padam.
Keindahan tempat itu justru membuat Banyu semakin tidak nyaman.
Sindhu terasa bersih.
Murni.
Seperti dunia yang belum pernah mengenal mesin.
Lalu mereka datang dengan bau minyak, merkuri, dan jelaga.
Banyu berhenti di depan sebuah genangan.
Airnya sangat jernih.
Bahkan terlalu jernih.
Dasarnya terlihat jelas meskipun genangan itu cukup dalam. Kerikil-kerikil kecil di bawahnya memancarkan cahaya lembut. Di permukaan air, tidak ada minyak, lumpur, atau daun busuk.
Laras langsung berjongkok.
“Kita harus bersihkan ini.”
Banyu melihatnya.
“Pakai apa?”
“Air.”
Laras menunjuk genangan.
“Kalau ini benar-benar bagian dari Sindhu, mungkin airnya bisa mengangkat residu.”
Banyu ragu.
“Coba saja.”
Laras melepas jaket luarnya.
Bagian bawah pakaian itu paling banyak terkena noda. Ia mencelupkannya perlahan ke dalam genangan.
Air menyentuh kain.
Kemudian sesuatu yang aneh terjadi.
Air bergerak menjauh.
Bukan karena Laras mengaduknya.
Permukaan genangan justru membentuk cekungan kecil di sekitar kain, seolah-olah air menolak menyentuh benda tersebut. Laras mengerutkan kening dan menurunkan kain lebih dalam.
Air kembali mundur.
Ia mencoba menekan jaket dengan kedua tangan.
Tetap sama.
Genangan itu seperti terbelah.
Cairan jernih bergerak ke segala arah, meninggalkan lingkaran kosong di sekitar kain yang tercemar.
Laras terdiam.
“Banyu.”
“Aku lihat.”
Ia mencelupkan ujung lengan bajunya sendiri.
Hasilnya sama.
Air langsung menjauh.
Bukan menguap.
Bukan berubah warna.