Rawa itu mulai berubah warna ketika mereka sampai di tepian baratnya.
Dari kejauhan, Banyu sempat mengira permukaan air hanya lebih gelap karena tertutup bayangan akar-akar raksasa. Namun setelah mereka mendekat, ia menyadari bahwa hitam yang menggenang di hadapan mereka bukan sekadar kegelapan.
Airnya tercemar.
Tidak separah Ciasem di dunia manusia. Belum.
Tetapi di antara rumpun vegetasi purba yang tumbuh di tepi rawa, terdapat aliran tipis berwarna hitam pekat yang merembes dari arah hutan menuju cekungan air. Cairan itu bergerak lambat, menyusup di antara akar-akar, lalu bercampur dengan air jernih Sindhu. Pada titik pertemuan keduanya, warna bening berubah menjadi abu-abu, kemudian hitam.
Banyu berdiri mematung.
Dadanya terasa sesak.
“Ini...” Laras ikut berhenti. “Dari portal?”
Banyu mengangguk.
Mereka tidak bisa melihat Pintasan Tirta dari sini. Jaraknya sudah cukup jauh. Namun jejak yang ditinggalkan oleh kedatangan mereka seolah telah menemukan jalannya sendiri ke dalam ekosistem Sindhu.
Racun dari dunia manusia telah ikut menyeberang.
Dan sekarang ia merembes ke tempat yang seharusnya tidak mengenal racun semacam itu.
Banyu memandang kedua tangannya.
Noda hitam masih ada.
Lebih pekat dari sebelumnya.
“Ini salahku,” katanya.
Laras langsung menoleh.
“Bukan.”
“Kita membawanya masuk.”
“Kita nggak memilih untuk diseret ke sini.”
“Tapi racunnya tetap ikut.”
Laras hendak menjawab, tetapi sebuah suara rendah terdengar dari balik rawa.
Geraman.
Kali ini berbeda dari suara yang mereka dengar di Lembah Akar Raksasa.
Lebih dekat.
Lebih berat.
Laras langsung menggenggam dahan kayu purba yang sejak tadi dibawanya.
“Banyu.”
“Aku dengar.”
Mereka berdiri membelakangi satu sama lain.
Kabut tipis bergerak di antara pepohonan.
Air rawa bergetar.
Sesuatu bergerak di permukaannya.
Bukan ikan.
Bukan hewan biasa.
Tiga pasang mata muncul dari balik semak.
Cahayanya redup, hampir merah kehitaman.
Kemudian tubuh pertama melompat.
Laras nyaris tidak sempat berpikir.
“Banyu!”
Makhluk itu menerjang dari kiri.
Tubuhnya menyerupai serigala, tetapi terlalu besar dan terlalu berotot. Keempat kakinya tampak seperti dibentuk dari asap padat. Tidak ada bulu. Seluruh permukaannya berputar seperti gumpalan jelaga yang terus terbakar tanpa api.
Mulutnya terbuka.
Tidak ada gigi yang benar-benar terlihat.
Yang keluar justru kabut hitam pekat.
Laras mengayunkan dahan dengan seluruh tenaga.
Kayu purba itu menghantam sisi kepala makhluk tersebut.
Dentumannya tidak seperti benturan benda dengan tubuh.
Lebih seperti pukulan terhadap awan yang tiba-tiba memiliki massa.
Makhluk itu terpental ke samping.
Asap hitam di tubuhnya tercerai sesaat.
Namun ia segera kembali menyatu.
Laras mundur satu langkah.
“Banyu, mundur!”
Makhluk kedua melompat.
Laras berputar dan mengangkat dahan untuk menahan serangan.
Cakar makhluk itu tidak menyentuh tubuhnya.
Tetapi aura hitam yang mengikutinya tetap menghantam.
Lengan Laras terasa panas.
Ia terlempar beberapa langkah dan jatuh dengan satu lutut menghantam tanah.
“Laras!”
“Aku nggak apa-apa!”
Ia berdiri lagi.
Kulit di lengannya terasa seperti terbakar.
Ada garis gelap yang muncul dari pergelangan tangan menuju siku, tetapi belum sampai melukai dalam.
Banyu melihat makhluk yang menyerangnya.
Ia merasakan sesuatu yang sangat familiar.
Duka.
Marah.
Takut.
Semuanya tercampur menjadi satu sampai tidak lagi memiliki bentuk yang jelas.
Makhluk ketiga berputar di belakangnya.
Banyu menoleh.
Mata hitam itu tepat mengarah kepadanya.
Makhluk tersebut merendahkan tubuh.
Banyu tahu apa yang akan terjadi.
“Banyu, jangan diam!”
Ia tidak bergerak.
Serigala asap itu melompat.
Laras berusaha berlari ke arahnya.
Terlambat.
Banyu mengangkat kedua tangan.
Bukan untuk menyerang.
Ia hanya berdiri di depan Laras.
Tubuh makhluk itu menghantamnya.
Cakar aura busuk menyapu dada Banyu.
Rasa sakit meledak seketika.
Banyu tersentak ke belakang.
Kakinya kehilangan pijakan.
Ia jatuh setengah berlutut.
Asap hitam menyebar dari titik benturan di dadanya.
Panasnya seperti racun yang dibakar langsung ke dalam darah.
Banyu menggigit bibir.
Laras berteriak.
“Banyu!”
Ia hendak maju, tetapi Banyu mengangkat tangan.
“Jangan.”
“Dia nyerang kamu!”
“Aku tahu.”
“Banyu!”
Makhluk itu masih berdiri di hadapannya.
Tubuhnya bergetar.
Asap hitam keluar dari moncongnya.
Banyu menatap matanya.
Dan tiba-tiba, di balik bentuk pemangsa itu, ia merasakan sesuatu yang lain.
Bukan serigala.
Bukan monster.
Sebuah penjaga.
Sesuatu yang pernah menjaga air.
Sesuatu yang pernah memiliki wilayah, jalur, dan tempat untuk pulang.
Sesuatu yang sekarang hanya mengenal rasa sakit.
Banyu menarik napas dengan susah payah.
“Maaf.”
Makhluk itu berhenti.
Laras terdiam.
Banyu menatap mata hitam tersebut.
“Maaf.”
Makhluk itu tidak bergerak.
Asap di tubuhnya masih berputar, tetapi cakar yang tadi terangkat perlahan turun.