Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #20

Kemunculan Sang Penyu Batu

Roh-roh berwajah asap itu semakin merapat.

Banyu bisa merasakan tanah bergetar di bawah telapak kakinya, tetapi getaran itu bukan berasal dari mereka. Tubuh-tubuh hitam yang mengepungnya bergerak nyaris tanpa suara, seperti kabut yang memperoleh bentuk dan niat. Mata mereka yang gelap berkilat samar di antara akar-akar purba, sementara asap yang menyelimuti tubuh masing-masing berputar semakin cepat.

Di belakang Banyu dan Laras, tebing rawa menurun curam.

Tidak ada lagi ruang untuk mundur.

Laras berdiri dengan kaki sedikit terbuka, dahan kayu purba berada di depan tubuhnya. Lengannya masih terasa panas akibat serangan sebelumnya. Napasnya pendek, tetapi matanya tetap bergerak dari satu makhluk ke makhluk lain, menghitung jarak, arah, dan kemungkinan celah.

Tidak ada.

Terlalu banyak.

“Banyu,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

“Kalau mereka bergerak bersamaan, aku nggak mungkin menahan semuanya.”

Banyu tidak menjawab.

Ia sedang mendengarkan.

Bukan suara geraman mereka.

Bukan desir rawa.

Sesuatu yang jauh lebih dalam.

Ada bunyi seperti dengungan yang datang dari bawah tanah. Sangat pelan pada awalnya, hampir tidak terasa. Namun semakin Banyu memusatkan perhatian, semakin jelas bunyi itu muncul sebagai getaran panjang yang merambat melalui tulang kakinya.

Dum.

Berhenti.

Dum.

Berhenti.

Seperti sesuatu yang sangat besar sedang bernapas di bawah bumi.

Banyu menoleh sedikit.

Di sisi kiri mereka, dinding tebing basal menjulang dari rawa. Batu-batu hitam keabu-abuan itu membentuk lereng yang tidak beraturan, penuh retakan dan ditumbuhi lumut tebal. Beberapa akar raksasa menyusup di antara celah-celah batu, sementara tanaman purba menggantung dari bagian atasnya seperti tirai.

Getaran itu datang dari sana.

“Laras.”

“Apa?”

“Tanahnya.”

“Aku juga merasakannya.”

Getaran berikutnya datang lebih kuat.

Dum.

Kali ini seluruh permukaan rawa beriak.

Roh-roh Murka berhenti.

Banyu mengangkat wajah.

Untuk pertama kalinya sejak mereka dikepung, makhluk-makhluk itu tampak tidak yakin.

Beberapa menoleh ke arah dinding batu.

Geraman mereka mereda.

Laras memperhatikan perubahan itu.

“Mereka takut.”

Banyu tidak sempat menjawab.

Salah satu Roh Murka di depan mereka tiba-tiba menundukkan tubuh.

Otot-otot asapnya menegang.

Cakar depannya menekan tanah.

Ia akan melompat.

“Banyu!”

Laras bergerak.

Tetapi makhluk itu lebih cepat.

Tubuh hitamnya melesat seperti anak panah yang dilepaskan dari busur. Asap pekat menyembur dari punggungnya. Mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan suara parau yang bukan lagi geraman binatang, melainkan jeritan sesuatu yang telah terlalu lama menderita.

Banyu tidak mengangkat tangan.

Ia tidak sempat.

Tanah di bawah mereka berguncang hebat.

Bukan sekadar bergetar.

Tanah itu seperti dihantam dari bawah.

Retakan menjalar di antara kaki Banyu dan Laras. Lumpur rawa terlempar. Air hitam berombak tinggi. Akar-akar besar berguncang hingga dedaunan purba berjatuhan seperti hujan.

Roh Murka yang sedang melompat kehilangan keseimbangan di udara.

Kemudian terdengar suara retakan.

Bukan dari tanah.

Dari tebing.

KRRRRAAAK—

Dinding batu basal di belakang Banyu dan Laras terbelah.

Sebuah garis hitam muncul dari puncak tebing, menjalar turun dengan kecepatan yang tidak mungkin dilakukan oleh retakan alami biasa. Batu-batu besar bergeser. Lumut tua terkelupas. Tanah dan akar runtuh dari atas.

Laras menutupi kepala dengan lengan.

“Banyu!”

“Aku di sini!”

Mereka tidak sempat melakukan apa-apa selain merapatkan tubuh ketika sebagian dinding tebing bergeser keluar.

Lalu sesuatu muncul dari baliknya.

Mula-mula Banyu hanya melihat permukaan kasar berwarna kelabu tua.

Bentuknya melengkung.

Lebar.

Tertutup lumut hijau gelap yang begitu tua hingga tampak menyatu dengan batu.

Kemudian permukaan itu bergerak.

Banyu membeku.

Yang muncul dari celah tebing bukan batu.

Itu tempurung.

Tempurung seekor penyu.

Namun ukurannya begitu besar sehingga untuk beberapa detik pikiran Banyu menolak menerima apa yang dilihat matanya.

Makhluk itu perlahan keluar dari celah batu, seolah dinding tebing hanyalah lapisan tipis tanah yang selama ini menutupi tubuhnya. Empat kakinya muncul satu demi satu. Tebal, pendek, dan berat, dengan permukaan menyerupai batu sungai yang dipahat oleh jutaan tahun air.

Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.

Kakinya menekan lumpur.

Dum.

Satu langkah.

Dum.

Langkah berikutnya.

Tubuhnya sangat besar.

Tempurungnya menjulang beberapa meter di atas tanah dan membentang begitu lebar hingga menutup sebagian besar celah tebing. Permukaannya tidak memiliki pola tempurung penyu yang biasa mereka kenal. Polanya menyerupai lapisan-lapisan batu tua, seperti sejarah bumi yang membeku menjadi bentuk cangkang.

Lumut purba tumbuh di sepanjang lekukannya.

Akar-akar kecil menggantung dari sisi tempurung.

Beberapa bunga kecil berwarna pucat bahkan tumbuh di antara retakan batu pada punggungnya.

Kepalanya muncul terakhir.

Panjang.

Berat.

Dengan rahang yang kuat dan permukaan kulit menyerupai pahatan batu tua.

Matanya tertutup selama beberapa saat.

Kemudian terbuka.

Keemasan.

Bukan emas terang seperti api.

Warnanya redup, dalam, seperti cahaya matahari yang telah tertanam di dalam batu selama ribuan milenium.

Banyu tidak bisa berkata apa-apa.

Laras juga diam.

Roh Murka yang tadi hendak menerkam kini telah berhenti beberapa meter di depan mereka.

Tubuh asapnya bergetar.

Makhluk itu menatap sang penyu.

Kemudian mundur.

Satu langkah.

Dua.

Roh-roh lain yang mengepung mereka juga bergerak menjauh.

Untuk pertama kalinya, Banyu melihat ketakutan yang jelas pada wajah-wajah asap itu.

Bukan ketakutan terhadap manusia.

Ketakutan terhadap sesuatu yang jauh lebih tua daripada amarah mereka.

Penyu raksasa itu menurunkan kepalanya.

Gerakannya lambat.

Sangat lambat.

Namun justru karena itu, ada wibawa aneh dalam setiap gerakannya. Tidak ada kesan terburu-buru. Tidak ada ketegangan seperti predator yang hendak menyerang.

Ia seperti gunung yang memutuskan untuk berjalan.

Seperti sebongkah bumi yang tiba-tiba mengingat bahwa ia memiliki kaki.

Banyu merasakan sesuatu berubah di dalam dirinya.

Sesak yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan berkurang.

Rasa sakit akibat cakaran Roh Murka masih ada. Racun spiritual masih menggerogoti kulit dan dagingnya. Tetapi kehadiran makhluk itu membawa ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana.

Bukan rasa aman seperti berada di rumah.

Lebih dalam dari itu.

Seperti berdiri di bawah bayang-bayang sesuatu yang telah menyaksikan terlalu banyak zaman berlalu dan tidak lagi mudah diguncangkan oleh kemarahan makhluk hidup.

Laras menelan ludah.

“Banyu...”

“Aku lihat.”

“Itu penyu?”

Banyu mengangguk pelan.

“Kurasa.”

“Kurasa?”

“Aku belum pernah lihat penyu sebesar itu.”

Laras hampir tertawa karena gugup, tetapi suara yang keluar hanya embusan napas pendek.

“Ya. Aku juga.”

Lihat selengkapnya