Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #21

Bahasa Kalpa Purba

Baning berjalan tanpa tergesa-gesa.

Setiap langkahnya membuat tanah Sindhu mengeluarkan bunyi rendah yang hampir menyerupai dengkuran bumi. Tidak ada hentakan keras seperti ketika ia menidurkan Roh-Roh Murka di tepi Rawa Hitam. Kali ini gerakannya jauh lebih tenang. Keempat kakinya yang menyerupai bongkahan batu bergerak bergantian, melewati akar-akar besar dan celah bebatuan seolah-olah tubuh raksasa itu telah hafal setiap lekuk tanah sejak sebelum hutan tersebut memiliki nama.

Banyu dan Laras mengikuti dari belakang.

Mereka tidak banyak bicara.

Setelah apa yang baru saja terjadi di rawa, keduanya masih membawa sisa ketegangan di tubuh masing-masing. Laras beberapa kali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada Roh Murka yang bangun atau mengejar. Dahan kayu purba masih ia genggam erat, meskipun kini ujungnya lebih banyak digunakan sebagai penyangga daripada senjata.

Banyu berjalan lebih lambat.

Bekas cakaran di dadanya masih terasa panas. Setiap kali ia menarik napas terlalu dalam, rasa perih menjalar sampai ke tulang rusuk. Cairan gelap yang tadi keluar dari luka sudah mengering menjadi lapisan tipis seperti jelaga di kulit.

Namun rasa sakit itu tidak lagi menjadi hal yang paling mengganggunya.

Yang terus berputar dalam kepalanya adalah suara Baning.

Jangan takut pada yang mengamuk.

Takutlah pada saat mereka tidak lagi mampu mengingat mengapa mereka pernah menjaga dunia.

Banyu belum benar-benar memahami kalimat itu.

Tetapi ia merasa kalimat tersebut akan tinggal lama di dalam dirinya.

Di depan, Baning berhenti.

Kepalanya yang besar berbalik perlahan.

Mata keemasannya menatap mereka.

Di sini.

Suara itu tidak terdengar melalui telinga.

Ia muncul begitu saja di dalam pikiran.

Laras mengusap pelipis.

“Dia ngomong lagi.”

Banyu mengangguk.

“Aku dengar.”

Baning berbalik menuju dinding batu yang ditumbuhi akar.

Pada pandangan pertama, tidak ada apa-apa di sana. Hanya dinding gelap, lumut, sulur-sulur tanaman, dan akar besar yang menjalar dari atas ke bawah. Namun ketika Baning mendekat, ia menyentuhkan ujung kepalanya ke salah satu akar paling besar.

Cahaya keemasan redup menyebar.

Akar itu bergerak.

Bukan seperti tumbuhan yang tertiup angin, melainkan seperti sesuatu yang hidup dan sadar sedang membuka pintu. Akar-akar lain ikut bergeser. Batu-batu di baliknya bergeser perlahan, memperlihatkan celah sempit yang sebelumnya sama sekali tidak terlihat.

Baning masuk lebih dulu.

Tubuhnya yang besar nyaris memenuhi seluruh pintu.

“Masuk,” kata Banyu.

Laras menatap celah itu.

“Kalau dia bisa masuk dengan ukuran segitu, harusnya kita juga bisa.”

Mereka mengikuti.

Begitu melewati lapisan akar, udara berubah.

Lebih hangat.

Lebih lembap.

Dan jauh lebih tenang.

Gua itu ternyata sangat luas.

Sistem akar pohon Ulin raksasa membentuk langit-langit alami di atas kepala mereka. Akar-akar tersebut tidak sekadar menembus tanah, tetapi membentuk lengkungan seperti pilar sebuah bangunan purba. Di antara celahnya mengalir cahaya biru kehijauan yang lembut, berasal dari aliran Prana yang bergerak di dalam jaringan akar.

Lumut bercahaya tumbuh di dinding.

Jamur-jamur kecil berbentuk seperti mangkuk memancarkan cahaya keemasan.

Di beberapa tempat, air bening menetes dari akar dan terkumpul menjadi kolam-kolam kecil yang permukaannya begitu jernih sampai dasar batu dapat terlihat.

Banyu berhenti.

Ia menatap sekeliling.

Setelah rawa hitam, setelah roh-roh yang menyerang, setelah bau jelaga dan racun yang masih menempel di tubuh mereka, tempat ini terasa seperti dunia lain di dalam dunia lain.

Laras juga terpaku.

“Ini...” Ia mencari kata yang tepat. “Indah.”

Banyu mengangguk.

“Indah banget.”

Tidak ada suara geraman.

Tidak ada kabut hitam.

Tidak ada bau minyak.

Hanya suara tetesan air, aliran Prana, dan napas mereka sendiri.

Baning berjalan menuju bagian tengah gua.

Di sana terdapat sebuah batu besar yang bentuknya hampir menyerupai altar alamiah. Permukaannya rata dan ditutupi lumut tipis.

Baning berhenti di depannya.

Kemudian menatap Banyu.

Duduk.

Banyu menurut.

Laras ikut duduk di sampingnya.

Baning menurunkan tubuhnya perlahan.

Tempurung raksasanya menyentuh tanah dengan bunyi berat yang membuat debu halus jatuh dari akar di atas.

Kemudian ia diam.

Lama.

Sangat lama.

Banyu menunggu.

Laras menunggu.

Tidak ada yang terjadi.

“Dia mau apa?” Laras berbisik.

“Aku nggak tahu.”

“Kalau dia ternyata cuma mau tidur?”

Banyu hampir tersenyum.

“Jangan ganggu.”

Laras mendengus pelan.

Namun kemudian Baning mengangkat kepalanya.

Mata emasnya memancarkan cahaya sedikit lebih terang.

Banyu merasakan sesuatu menyentuh pikirannya.

Bukan seperti suara.

Bukan seperti tangan.

Lebih seperti air yang perlahan masuk ke celah-celah batu.

Ia menarik napas.

“Laras.”

“Apa?”

“Jangan melawan.”

Laras menatapnya.

“Maksudmu?”

“Aku rasa dia mau melihat sesuatu.”

“Melihat?”

“Bukan pakai mata.”

Baning menatap mereka.

Kemudian dunia berubah.

Tidak ada cahaya yang menyilaukan.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada suara.

Banyu hanya tiba-tiba tidak lagi berada di dalam gua.

Ia berada di tempat lain.

Atau lebih tepatnya, ia berada di dalam dirinya sendiri.

Kenangan terbuka.

Bukan seperti film.

Tidak berurutan.

Tidak rapi.

Ia merasakan dingin pagi di tepian Ciasem.

Mencium bau lumpur.

Mendengar suara air yang mulai berubah.

Melihat sawah Kertajaya.

Melihat pasak besi AUREUM CORP tertancap di tanah.

Mendengar suara orang-orang berdebat tentang uang.

Merasakan kemarahan.

Ketakutan.

Kebingungan.

Lalu suara mesin.

Bor.

Logam.

Getaran.

Air yang menghitam.

Ikan-ikan mati.

Seekor sapi yang jatuh setelah meminum air tercemar.

Lalu dunia menjadi gelap.

Kenangan bergerak lebih jauh.

Banyu melihat dirinya sendiri berlutut di tepi sungai.

Malam.

Ciasem hitam.

Tangannya masuk ke dalam air beracun.

Lihat selengkapnya