Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #22

Bayang-Bayang Ki Ganggeng

Gua Akar Purba tetap tenang setelah Baning selesai berbicara tentang jutaan jiwa yang kehilangan rumah.

Namun ketenangan itu tidak lagi terasa menenangkan.

Banyu duduk bersandar pada akar Ulin raksasa yang membentuk dinding di belakangnya. Laras berada beberapa langkah di sebelahnya, masih memandangi kolam-kolam kecil yang tersebar di antara akar. Cahaya biru kehijauan dari jaringan Prana bergerak perlahan di bawah permukaan akar, naik turun seperti denyut nadi sebuah makhluk yang sangat besar.

Tidak ada angin.

Tidak ada suara binatang.

Hanya tetesan air.

Satu.

Dua.

Tiga.

Lalu hening lagi.

Banyu memikirkan apa yang baru saja mereka lihat melalui Lingua Prana. Jutaan roh datang ke Sindhu karena dunia mereka sendiri telah kehilangan tempat bagi mereka. Sungai yang mati mengirimkan penjaganya. Hutan yang dihancurkan mengirimkan penghuni dan ingatannya. Rawa yang dikeringkan mengirimkan kemarahan.

Dan Sindhu menerima semuanya.

Sedikit demi sedikit.

Sampai dunia yang seharusnya menjadi tempat perlindungan itu sendiri mulai sesak.

Laras akhirnya memecah keheningan.

“Baning.”

Penyu batu itu membuka mata.

“Kalau mereka semua sudah ada di sini...” Laras berhenti sejenak, memilih kata-katanya. “Siapa yang memimpin mereka?”

Baning tidak menjawab.

Pertanyaan itu seolah membuat sesuatu di dalam gua berubah.

Cahaya akar yang semula berdenyut lembut menjadi lebih redup. Tetesan air yang jatuh ke kolam terdengar lebih jelas. Bahkan Banyu dapat merasakan ketegangan yang sebelumnya tidak ada.

Baning mengangkat kepala perlahan.

Mata keemasannya menatap kegelapan di antara akar.

Kemudian ia berkata satu nama.

Ki Ganggeng.

Nama itu tidak terdengar seperti nama biasa.

Ketika masuk ke pikiran Banyu, rasanya seperti mendengar sungai besar menggelegar di dalam lembah.

Dada Banyu langsung terasa berat.

Laras mengerutkan kening.

“Siapa?”

Baning tidak segera menjawab.

Ia menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Banyu melihat kegelisahan yang nyata pada makhluk purba itu.

Bukan takut.

Baning tidak tampak seperti makhluk yang mudah takut.

Tetapi resah.

Seperti seseorang yang telah hidup terlalu lama dan akhirnya melihat sesuatu yang selama ribuan tahun ia jaga mulai menuju kehancuran.

Ki Ganggeng adalah penjaga Sungai Sunda Purba.

Banyu menoleh.

“Sungai Sunda Purba?”

Baning mengangguk perlahan.

Jalur air yang dahulu mengalir sebelum tanah-tanah modern memisahkan daratan. Sungai yang membawa ingatan pegunungan menuju laut. Sungai yang menjadi salah satu urat utama Sindhu.

Laras menyilangkan tangan.

“Dan sekarang dia menjadi pemimpin Roh Murka?”

Mata Baning meredup.

Ya.

Jawaban pendek itu terasa lebih berat daripada penjelasan panjang.

Banyu memandang kolam jernih di dekat mereka.

Airnya tenang.

Begitu bening sampai ia bisa melihat dasar batu berwarna keperakan.

Baning bergerak mendekat.

Tubuh raksasanya membuat tanah bergetar lembut. Ia berhenti tepat di tepi kolam.

Kemudian salah satu kakinya menyentuh permukaan air.

Riak kecil menyebar.

Cahaya emas mengalir dari ujung kakinya ke dalam kolam.

Air berubah.

Tidak menjadi hitam.

Justru semakin jernih.

Kemudian permukaannya mulai memperlihatkan sesuatu.

Banyu dan Laras mendekat.

Pada awalnya mereka hanya melihat kabut.

Lalu sebuah sungai.

Sangat luas.

Sangat indah.

Airnya mengalir di antara tebing-tebing hijau yang belum pernah disentuh jalan, bendungan, jembatan, atau tambang. Pohon-pohon purba tumbuh rapat di sepanjang tepian. Burung-burung berukuran besar terbang di atas permukaan air. Kabut tipis menggantung di atas sungai ketika cahaya remang Sindhu jatuh dari langit.

Di tengah sungai berdiri seseorang.

Banyu langsung tahu bahwa itu bukan manusia.

Tubuhnya tinggi dan besar, diselimuti pakaian yang tampak seperti anyaman air dan lumut. Rambutnya panjang, mengalir mengikuti arus. Wajahnya tua, tetapi tidak renta. Matanya jernih seperti dasar sungai.

Di sekelilingnya berenang ikan-ikan bercahaya.

Ratusan Danyang kecil bergerak di antara akar.

Sosok itu mengangkat kedua tangan.

Air sungai terangkat mengikuti gerakannya.

Bukan dengan kekerasan.

Dengan keharmonisan.

Arus berbelok.

Banjir yang hendak merusak hutan terbagi menjadi beberapa aliran kecil.

Sungai menemukan jalannya sendiri.

Laras menahan napas.

“Itu Ki Ganggeng?”

Dahulu.

Satu kata itu membuat Banyu menoleh kepada Baning.

Memori di kolam bergerak.

Waktu berlalu.

Sungai yang semula jernih berubah sedikit demi sedikit.

Mula-mula ada warna cokelat.

Kemudian keruh.

Lalu lapisan tipis seperti minyak muncul di permukaan.

Ki Ganggeng masih berdiri di tengah sungai.

Ia mengangkat tangan.

Air tidak lagi langsung menjawab.

Arus menjadi berat.

Ikan-ikan bercahaya mulai menghilang.

Vegetasi di tepian menguning.

Kemudian sebuah perubahan terjadi.

Dari kejauhan muncul aliran cairan hitam.

Ia masuk ke sungai dari sebuah cabang kecil.

Air tersebut membawa bau yang bahkan Banyu bisa rasakan meskipun hanya melihat melalui memori.

Logam.

Bahan kimia.

Limbah.

Kemudian lebih banyak.

Satu aliran.

Dua.

Puluhan.

Memori bergerak lebih cepat.

Banyu melihat dunia manusia.

Gunung yang dikeruk.

Tanah yang dibuka.

Batuan yang dihancurkan.

Air yang dialirkan melalui kolam-kolam pengolahan.

Kemudian sesuatu yang seharusnya tidak pernah masuk ke sungai.

Merkuri.

Sianida.

Limbah tambang.

Semuanya mengalir ke sistem air.

Sebagian meresap ke tanah.

Sebagian mengikuti sungai.

Dan sebagian menyeberang ke Sindhu.

Ki Ganggeng berdiri di tengah arus.

Tubuhnya mulai berubah.

Kulitnya yang semula seperti batu basah menjadi retak.

Garis-garis hitam menjalar dari leher ke dada.

Matanya kehilangan kejernihan.

Cahaya di sekeliling tubuhnya berubah dari biru menjadi merah tua.

Ia mencoba mengangkat tangan.

Sungai tidak menjawab.

Ia mencoba lagi.

Arus justru berputar liar.

Ikan-ikan bercahaya mati.

Danyang kecil berhamburan.

Ki Ganggeng menundukkan kepala.

Lalu menjerit.

Suara itu tidak terdengar sebagai suara manusia.

Ia seperti seluruh sungai yang tiba-tiba dipaksa menangis.

Banyu merasakan dadanya sesak.

“Berhenti...” bisiknya.

Namun memori terus bergerak.

Ki Ganggeng mulai berubah.

Tubuhnya membesar.

Lihat selengkapnya