Baning tidak membawa mereka kembali ke jalan tempat mereka datang.
Setelah bayangan Ki Ganggeng lenyap dari permukaan kolam dan percakapan tentang Resonansi Keenam berakhir, penyu batu itu justru berbalik menuju bagian terdalam Gua Akar Purba. Jalurnya sempit pada awalnya, hanya cukup dilewati satu orang. Akar-akar Ulin raksasa menjuntai dari langit-langit dan menyentuh lantai gua seperti jari-jari tua yang sedang meraba tanah. Di antara akar itu tumbuh lumut bercahaya, memancarkan cahaya kebiruan yang tidak pernah benar-benar menjadi terang, tetapi juga tidak pernah padam.
Banyu berjalan di belakang Baning dengan langkah berat.
Tubuhnya terasa semakin lelah setelah semua yang mereka lihat. Sejak menyeberangi Pintasan Tirta, ia belum pernah benar-benar beristirahat. Bahkan ketika tertidur, tubuhnya seperti tetap berjaga. Setiap tarikan napas terasa membawa sisa bau logam dan lumpur dari dunia manusia. Setiap kali tangannya bergerak, noda hitam yang melekat pada kulit dan pakaian mengingatkannya pada air Ciasem yang pernah ia sentuh dengan kedua telapak tangannya.
Di belakangnya, Laras berjalan sambil sesekali melirik.
“Kamu masih kuat?”
Banyu mengangguk.
“Masih.”
“Kamu bilang begitu dari tadi.”
“Karena memang masih.”
Laras mendengus pelan. “Kalau nanti jatuh, jangan bilang aku nggak memperingatkan.”
Banyu tersenyum tipis.
“Kalau aku jatuh, kamu pasti narik.”
“Justru itu masalahnya.”
Laras menatap punggungnya.
“Aku capek narik orang keras kepala.”
Untuk sesaat, suasana di antara mereka menjadi sedikit lebih ringan.
Namun bau yang menempel pada tubuh mereka segera mengembalikan kesadaran bahwa mereka belum benar-benar terbebas dari dunia yang mereka tinggalkan.
Bau minyak.
Bau tanah basah yang bercampur logam.
Bau bahan kimia yang samar tetapi menusuk.
Bau yang tidak seharusnya ada di Sindhu.
Baning berhenti di depan sebuah dinding batu.
Banyu hampir menabrak tempurungnya.
Penyu batu itu mengangkat salah satu kaki depannya dan menempelkan ujungnya pada permukaan batu.
Tidak ada mantra.
Tidak ada cahaya besar.
Hanya getaran kecil.
Batu di depan mereka kemudian bergeser perlahan, seolah-olah dinding itu bukan batu padat melainkan bagian dari tanah yang selama ribuan tahun memilih untuk menutup dirinya sendiri.
Di baliknya terdapat sebuah lorong.
Udara yang keluar dari sana berbeda.
Lebih dingin.
Lebih bersih.
Dan membawa aroma yang tidak pernah Banyu rasakan sejak pertama kali tiba di Sindhu.
Aroma air.
Bukan air sungai.
Bukan air hujan.
Air yang terasa seperti baru saja lahir dari dalam bumi.
Baning bergerak masuk.
“Ke mana kita?” tanya Laras.
Tirta Perak.
Nama itu muncul dalam pikiran mereka bersamaan dengan gambaran sebuah kolam yang berkilauan.
Banyu mengikuti.
Lorong itu semakin dalam.
Dinding-dindingnya perlahan berubah dari batu gelap menjadi batu putih keabu-abuan yang dipenuhi urat-urat berkilau. Cahaya lembut keluar dari sela-selanya. Setiap beberapa langkah mereka melewati akar kecil yang tumbuh menembus batu, tetapi akar itu tidak menghalangi jalan. Mereka justru membentuk semacam lengkungan alami.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin ringan napas Banyu.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Sindhu, dadanya tidak terasa seperti menyimpan asap.
Kemudian mereka sampai.
Lorong itu membuka diri menjadi sebuah ruangan besar.
Banyu berhenti.
Di hadapannya terbentang sebuah kolam alami yang hampir memenuhi seluruh dasar gua.
Airnya berwarna bening keperakan.
Bukan karena memantulkan cahaya.
Air itu sendiri tampak bercahaya.
Permukaannya berkilau seperti ribuan serpihan logam cair yang bergerak perlahan mengikuti arus tak terlihat. Dari dinding gua, aliran tipis turun ke dalam kolam, tetapi tidak terdengar suara gemericik. Air tersebut jatuh tanpa bunyi, menyatu dengan kolam seperti sesuatu yang telah mengenal tempatnya sejak awal dunia.
Laras berdiri di samping Banyu.
“Cantik banget.”
Baning mengangguk.
Tirta Perak.
Ia memandang kolam.
Air yang menyucikan apa yang dibawa tubuh dari dunia lain.
Banyu mendekat.
Ia berjongkok di tepi kolam dan melihat pantulan wajahnya.
Untuk sesaat ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Wajahnya masih manusia, tetapi lebih pucat daripada biasanya. Rambutnya kaku oleh jelaga. Ada garis-garis hitam di sepanjang leher. Pakaian yang dikenakannya sudah tidak lagi terlihat seperti pakaian. Kainnya mengeras oleh campuran lumpur, minyak, dan zat yang bahkan ia tidak tahu namanya.
Ia mencelupkan satu jari.
Air Tirta Perak beriak.
Dan ketika air menyentuh kulitnya, noda hitam di ujung jari itu langsung terlepas.
Banyu terdiam.
Lapisan hitam tersebut tidak larut.
Ia seperti terangkat dari kulit, membentuk serpihan tipis yang bergerak menjauh dari tubuhnya. Serpihan itu mengambang beberapa saat di atas permukaan air, kemudian pecah menjadi titik-titik cahaya gelap dan menghilang.
Laras melihatnya.
“Jadi benar.”
Baning mengangguk.
Tirta Perak tidak menghapus apa yang telah terjadi. Ia hanya memisahkan racun dari tubuh.
Banyu menatapnya.
“Kalau begitu kita harus masuk.”
Ya.
Laras sudah lebih dulu melepas jaketnya.
“Daripada mati karena bau sendiri.”
Banyu tertawa kecil.
Mereka turun perlahan.
Air terasa dingin ketika menyentuh telapak kaki Banyu. Bukan dingin yang menusuk tulang, melainkan dingin yang terasa seperti mengembalikan sesuatu yang sudah lama hilang. Ketika air mencapai mata kaki, jelaga di kulitnya mulai bergerak.
Laras masuk dari sisi lain.
Air menyentuh betisnya.
Lapisan minyak yang menempel pada kulit langsung terangkat.
Keduanya terdiam.
Beberapa detik kemudian, Banyu merasakan sesuatu bergerak di bawah kulit lengannya.
Ia menahan napas.
Noda hitam mulai keluar dari pori-pori kulit.
Tidak dalam bentuk darah.
Tidak juga seperti keringat.
Ia seperti kabut pekat yang dipaksa keluar dari tubuh. Bau minyak dan logam memenuhi udara sejenak, jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Laras menutup hidung.
“Gila...”
Banyu tidak menjawab.
Ia melihat tangannya sendiri.
Jari-jari yang sebelumnya menghitam perlahan kembali ke warna kulit. Serpihan tanah, jelaga, dan lapisan berminyak terlepas satu demi satu.
Namun proses itu tidak terasa nyaman.
Begitu racun yang menempel pada tubuhnya mulai terangkat lebih dalam, rasa panas menjalar dari telapak tangan menuju lengan.
Banyu meringis.
Laras langsung menoleh.
“Sakit?”
“Sedikit.”
“Sedikit apanya?”
Banyu menarik napas.
“Banyak.”
Laras mendekat.
“Keluar.”
Banyu menatapnya.
“Apa?”
“Kalau terlalu sakit, keluar dulu.”
Banyu menggeleng.
“Belum.”
“Tapi—”
“Belum.”
Ia menutup mata.
Air perak mencapai pinggangnya.
Panas itu semakin kuat.
Bukan seperti air mendidih. Lebih seperti seluruh tubuhnya sedang dipaksa mengingat semua luka yang pernah diterimanya. Setiap titik yang pernah terkena limbah terasa seperti dibuka kembali.
Banyu menggigit bibir.
Dalam kepalanya muncul Ciasem.
Air hitam.
Ikan mati.