Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #24

Hukum Enam Belas Milenium

Mereka meninggalkan Tirta Perak ketika remang abadi Sindhu mulai terasa lebih dalam.

Tidak ada perubahan matahari, sebab di dunia ini matahari memang tidak pernah benar-benar terbit atau tenggelam. Langit selalu berada di antara fajar dan senja, diselimuti cahaya pucat yang seolah datang dari tempat yang tidak memiliki sumber. Namun setelah keluar dari gua penyucian, Banyu merasakan sesuatu yang berbeda pada udara.

Lebih berat.

Bukan karena racun.

Justru karena terlalu banyak ingatan.

Pasak Karma di lengan dan dadanya masih terasa hangat di bawah balutan serat daun purba. Setiap kali ia menggerakkan tangan, kulit di bawah balutan seolah berdenyut pelan. Rasa sakitnya tidak lagi tajam, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa apa yang terjadi di dunia manusia tidak bisa begitu saja dibersihkan hanya dengan mencelupkan tubuh ke dalam air suci.

Laras berjalan di sampingnya.

Sesekali ia memeriksa simpul balutan.

“Masih sakit?”

“Masih.”

“Parah?”

“Tidak.”

Laras menatapnya.

Banyu menghela napas.

“Sedang.”

“Lebih jujur.”

Mereka berjalan mengikuti Baning melewati jalur batu yang berkelok di antara akar-akar raksasa. Setelah beberapa lama, vegetasi Sindhu mulai menipis. Pohon-pohon purba yang sebelumnya memenuhi pandangan perlahan berganti dengan dinding batu tinggi. Tebing itu berdiri seperti tembok raksasa, membelah hutan menjadi dua.

Permukaannya tidak rata.

Ada retakan.

Ada lekukan.

Ada relief-relief alami yang tampak seperti ukiran, meskipun tidak mungkin ada tangan manusia yang membuatnya. Bentuknya menyerupai aliran sungai, akar, sisik, tulang, daun, dan sesuatu yang sekilas mirip bintang.

Baning berhenti di depan tebing.

Banyu menatap ke atas.

“Ini tempat apa?”

Tebing Memori Purba.

Laras mengangkat wajah.

“Memori?”

Baning tidak menjawab.

Ia berjalan mendekati dinding batu.

Kemudian kaki depannya terangkat dan menyentuh salah satu relief.

Tidak terjadi apa-apa pada awalnya.

Lalu terdengar suara sangat rendah.

Bukan suara batu bergeser.

Lebih seperti bumi menarik napas.

Getaran merambat dari titik yang disentuh Baning ke seluruh dinding. Relief-relief di permukaan batu mulai menyala satu demi satu. Garis-garis yang semula tampak mati berubah menjadi cahaya tipis berwarna keemasan.

Banyu mundur setengah langkah.

“Ini...”

Dengarkan.

Satu kata itu muncul di dalam pikirannya.

Kemudian tebing berubah.

Bukan bentuknya.

Dunia di sekeliling mereka yang berubah.

Cahaya dari relief melebar ke udara, membentuk lapisan-lapisan gambar yang menggantung seperti kabut. Batu di depan mereka seolah menjadi jendela menuju waktu yang tidak mungkin disaksikan oleh mata manusia.

Laras menahan napas.

Di hadapan mereka terbentang lautan.

Bukan lautan yang mereka kenal.

Lautan purba.

Jauh lebih luas, lebih liar, dan dipenuhi kehidupan yang tidak pernah mereka lihat kecuali dalam buku atau fosil.

Makhluk-makhluk aneh bergerak di antara terumbu raksasa.

Tubuh-tubuh lunak.

Cangkang.

Tentakel.

Koloni organisme yang memenuhi dasar laut.

Kehidupan ada di mana-mana.

Terlalu banyak.

Banyu memandangi pemandangan itu dengan kagum.

“Ini kapan?”

Baning menjawab tanpa menoleh.

Empat ratus empat puluh tiga juta tahun yang lalu.

Laras terdiam.

Angka itu terdengar seperti sesuatu yang tidak memiliki hubungan dengan kehidupan manusia.

Empat ratus empat puluh tiga juta tahun.

Bahkan kata “juta” terasa terlalu kecil ketika diterapkan pada waktu seperti itu.

Kemudian pemandangan berubah.

Laut yang penuh kehidupan mulai kehilangan warnanya.

Nutrisi menipis.

Rantai kehidupan menjadi berat.

Karbon terkunci.

Air bergerak lambat.

Kemudian dingin datang.

Bukan dingin biasa.

Es merambat dari satu sisi dunia ke sisi lain. Permukaan air membeku. Suhu jatuh. Kehidupan laut runtuh dalam jumlah yang tidak dapat dibayangkan.

Laras menatap tanpa berkedip.

“Jadi ini Resonansi Pertama.”

Baning mengangguk.

Ujian pertama adalah Harmoni Kedalaman Air.

Banyu melihat organisme laut yang mendominasi seluruh dunia mereka. Mereka tidak pernah keluar dari air. Tidak pernah memberi ruang bagi bentuk kehidupan lain untuk berkembang di luar wilayahnya.

Kemudian es datang.

Tidak ada pedang.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada dewa yang turun dari langit.

Hanya perubahan hukum dunia.

Air membeku.

Kehidupan runtuh.

Sekitar delapan puluh lima dari setiap seratus kehidupan laut yang ada ketika itu lenyap.

Laras menghela napas.

“Dan setelah itu Pranavija aktif.”

Gambar berubah.

Dari dunia yang dingin dan sepi, kehidupan mulai muncul kembali.

Tumbuhan kecil tumbuh di daratan.

Akar pertama menembus tanah.

Ikan mulai mengembangkan kemampuan yang memungkinkan mereka meninggalkan air.

Dunia yang baru terbentuk muncul di antara reruntuhan dunia lama.

Banyu menatapnya lama.

Ia mulai memahami pola.

Bukan kehancuran semata.

Kehancuran diikuti kesempatan.

Kepunahan membuka ruang.

Dan Pranavija mengisi ruang itu dengan kemungkinan baru.

Tebing bergetar.

Waktu bergerak maju.

Lautan berubah.

Daratan menjadi hijau.

Hutan pertama muncul.

Pohon-pohon tinggi menjulang di atas tanah purba. Akar-akar mereka menembus bumi dan mengubah cara air bergerak.

Pada awalnya tampak indah.

Kemudian perlahan menjadi terlalu banyak.

Akar menyedot unsur dari tanah.

Tanah terkikis.

Racun terbawa menuju sungai.

Laut menerima semuanya.

Oksigen menurun.

Makhluk air mulai mati.

Banyu menatap hutan purba yang perlahan berubah menjadi sumber kehancuran.

“Resonansi Kedua.”

Devon Akhir.

Baning berbicara seperti seorang guru yang sedang menjelaskan sebuah hukum alam.

Tidak ada kebencian dalam suaranya.

Tidak ada kekaguman berlebihan.

Hanya fakta.

Ujiannya adalah Kebijaksanaan Berakar. Kehidupan telah belajar tumbuh, tetapi belum belajar menahan diri.

Laras memandangi air yang berubah gelap.

“Jadi bukan karena tumbuh itu salah.”

Tidak.

“Yang salah adalah ketika pertumbuhan tidak lagi mengenal batas.”

Baning mengangguk.

Banyu menatap Laras.

Kalimat itu terasa terlalu dekat dengan manusia.

Terlalu dekat dengan apa yang sedang terjadi di dunia mereka.

Tebing kembali bergetar.

Dunia berubah.

Hutan menghilang.

Daratan menjadi lebih keras.

Makhluk-makhluk besar bergerak di atas bumi.

Reptil purba.

Pemangsa.

Herbivora.

Tubuh-tubuh besar yang bergerak dalam ekosistem yang semakin ganas.

Banyu melihat mereka saling memburu.

Bukan sekadar untuk bertahan hidup.

Seluruh sistem terasa seperti perlombaan tanpa akhir.

Lebih besar.

Lebih kuat.

Lebih cepat.

Lebih ganas.

Tumbuhan tidak sempat memulihkan diri.

Biomassa terkuras.

Kemudian tanah membuka diri.

Api muncul dari retakan.

Langit berubah merah.

Gunung-gunung meletus.

Gas beracun memenuhi udara.

Dunia terbakar.

Banyu terdiam.

Baning berkata,

Lihat selengkapnya