Remang di Sindhu tidak pernah benar-benar berubah.
Tidak ada pagi yang datang untuk menggantikan malam, tidak ada matahari yang perlahan naik dari balik cakrawala, dan tidak ada bayangan panjang yang bergerak mengikuti perjalanan waktu. Cahaya hanya menggantung di udara seperti kabut tipis berwarna keperakan, merembes dari lumut, akar, daun, dan aliran-aliran Prana yang tersembunyi jauh di dalam tanah. Kadang-kadang cahaya itu sedikit menguat, seolah-olah dunia baru saja menarik napas panjang. Kadang meredup hingga hutan tampak seperti dasar laut purba yang kehilangan mataharinya.
Bagi Laras, keadaan itu masih terasa salah.
Bukan karena gelap. Ia sudah terlalu lama hidup dalam situasi yang membuatnya terbiasa bekerja dengan penerangan seadanya. Yang membuatnya tidak nyaman adalah tidak adanya tanda-tanda waktu yang bisa dipercaya.
Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sudah mati sejak mereka melewati Pintasan Tirta. Layarnya hanya menampilkan satu garis pucat yang tidak pernah berubah. Ponselnya lebih buruk lagi. Benda itu masih berada di dalam saku celananya, tetapi tidak lebih berguna daripada sepotong batu. Layar hitam. Tidak ada sinyal. Tidak ada baterai. Tidak ada jaringan.
Dan sekarang, pisau lipat yang selama bertahun-tahun menjadi benda kecil yang selalu ia bawa juga sedang menunggu giliran untuk mati.
Laras duduk di atas akar besar yang mencuat dari tanah Hutan Pakis Raksasa. Di sekelilingnya, tumbuhan paku purba menjulang setinggi rumah dua lantai. Batang-batangnya tebal seperti tiang bangunan tua, sementara daun-daunnya membentuk kanopi bertingkat yang membuat hutan tampak seperti kota hijau yang ditinggalkan manusia. Urat-urat pada setiap helai daun memancarkan cahaya kebiruan yang sangat halus. Sesekali setitik cahaya jatuh dari ujungnya dan lenyap sebelum mencapai tanah.
Di hadapannya terdapat sebuah buah sebesar kepalan tangan manusia dewasa. Kulitnya berwarna hijau gelap dengan garis-garis keperakan yang bergerak perlahan seperti urat hidup.
Laras belum menyentuhnya.
Ia masih menatap pisau lipat di tangan kanannya.
"Kalau sampai benda terakhir yang bisa kupakai begini..." gumamnya, "...berarti memang kita harus belajar hidup tanpa semua yang kita bawa dari dunia sana."
Ia membuka bilah pisau itu sekali lagi.
Krek.
Bukan suara mekanisme yang terbuka.
Bilah logam itu patah.
Laras terdiam.
Potongan bilah sepanjang beberapa sentimeter jatuh ke telapak tangannya, tetapi bahkan sebelum menyentuh kulit, permukaannya telah retak menjadi serpihan-serpihan halus. Karat berwarna cokelat kehitaman menjalar dengan cepat dari bagian patahan, merambat sepanjang logam seperti jamur yang tumbuh dalam hitungan detik.
Kemudian seluruh bilah runtuh.
Bukan jatuh.
Runtuh.
Serbuk karat berputar sebentar di udara sebelum diterpa arus angin yang nyaris tidak terasa dan menghilang di antara rerumputan bercahaya.
Laras menatap gagang pisaunya.
Beberapa detik kemudian ia tertawa pendek, getir.
"Bagus."
Ia mengangkat gagang kosong itu.
"Benar-benar bagus."
Di belakangnya, terdengar suara berat yang pelan.
"Besilah yang paling cepat menyerah di sini."
Laras menoleh.
Baning berdiri beberapa meter dari sana.
Sulit menyebut makhluk sebesar itu berdiri seperti manusia biasa. Tubuh kura-kura batunya memenuhi sebagian celah di antara akar-akar raksasa, cangkangnya ditumbuhi lumut tua dan sulur-sulur kecil yang berpendar. Setiap kali kakinya bergeser, tanah di bawahnya seolah mengingat tekanan itu dan mengeluarkan getaran halus.
Banyu duduk tidak jauh dari Baning.
Sejak mereka meninggalkan Gua Akar Purba, kondisinya belum sepenuhnya pulih. Wajahnya masih pucat. Pasak Karma yang membekas di lengan dan dadanya tampak lebih gelap daripada sebelumnya, seperti garis luka yang tertanam di bawah kulit. Ia tidak mengeluh, tetapi Laras sudah cukup mengenalnya untuk tahu kapan seseorang sedang memaksakan diri.
Baning memandang serbuk karat yang tersisa di telapak tangan Laras.
"Di dunia manusia, benda itu dibuat untuk memotong," katanya. "Di sini, ia mengingat bahwa dirinya pernah menjadi tanah."
Laras mengusap serbuk tersebut dari tangannya.
"Kenapa?"
"Prana terlalu padat."
Jawaban itu sederhana, tetapi Baning tidak segera melanjutkannya.
Laras menunggu.
Baning kemudian menundukkan kepalanya sedikit. Dua mata keemasannya yang redup memantulkan cahaya daun paku.
"Segala sesuatu yang dibentuk untuk memaksa alam tunduk akan kehilangan bentuknya di tempat yang tidak mengenal paksaan."
Laras mendengus pelan.
"Kalau begitu, kita sedang berada di tempat yang sangat tidak cocok dengan peradaban."
"Atau," jawab Baning, "peradabanmu yang belum belajar menjadi cocok dengan alam."
Laras menatapnya beberapa saat.
Ia tidak tersinggung.
Justru kalimat itu terasa terlalu masuk akal untuk dibantah.
Ia melihat ke sekeliling. Tidak ada baja. Tidak ada plastik. Tidak ada kabel. Tidak ada beton. Tidak ada mesin yang berdengung di kejauhan. Tidak ada suara generator. Tidak ada lampu buatan yang menembus pepohonan. Hanya suara air yang mengalir jauh di antara akar, gesekan daun raksasa, dan bunyi rendah dari tanah yang entah bagaimana terasa seperti napas.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki Sindhu, Laras benar-benar menyadari bahwa mereka tidak bisa sekadar mencari jalan pulang sambil membawa kebiasaan dari dunia manusia.
Mereka harus hidup di sini.
Setidaknya untuk sementara.
Dan hidup berarti makan.
Laras memandang buah di hadapannya.
"Yang ini aman?"
Baning menggerakkan kepala ke arah buah itu.
"Jika dipetik dengan benar."
"Bedanya?"
"Buah yang dipetik dengan keserakahan akan terasa pahit."
Laras menatap buah tersebut.
"Jadi rasa pahitnya indikator?"
"Lebih dari itu."
Baning mendekat perlahan. Salah satu kakinya menginjak akar tua yang berlumut. Tanah bergetar sangat halus.
"Di Sindhu, tumbuhan bukan sekadar benda yang tumbuh. Ia menyimpan aliran. Buah yang siap memberi akan melepaskan getaran yang ringan. Buah yang belum siap akan menahan. Buah yang tercemar akan membuat akar di bawahnya gelisah."
Laras memandang tanah.
"Dan aku harus bisa merasakannya?"
"Jika ingin bertahan hidup tanpa besi, kau harus belajar mendengar sebelum menyentuh."
Kalimat itu membuat Laras terdiam.
Ia menatap buah di depannya lagi.
Selama hidupnya, ia terbiasa membaca banyak hal. Peta, jalur evakuasi, ekspresi orang, situasi lapangan, posisi kendaraan, kemungkinan jalan keluar. Ia mengandalkan mata, telinga, pengalaman, dan logika. Ia percaya pada benda yang bisa diuji dan informasi yang bisa diverifikasi.
Tetapi Baning memintanya melakukan sesuatu yang berbeda.
Mendengar tumbuhan.
Laras menghela napas panjang.
"Baik."
Ia meletakkan gagang pisau yang sudah tidak berguna ke tanah.
Kemudian ia mengulurkan tangan.
Jari-jarinya menyentuh permukaan buah.
Tidak terjadi apa-apa.
Laras mengerutkan dahi.
"Terus?"
"Jangan bertanya dengan tangan."
"Aku sedang menyentuh."
"Karena itu kau belum mendengar."
Laras menutup mata.
Ia menarik napas.
Untuk beberapa detik, ia hanya merasakan kulit buah yang dingin.
Kemudian sesuatu muncul.
Bukan suara.
Lebih seperti denyut yang sangat kecil.
Dum.
Laras membuka mata.
"Bergerak," katanya.
Baning diam.
"Di dalamnya."
"Ya."
"Denyutnya?"
"Ringan."
Baning mengangguk.
"Petik."
Laras memutar buah itu perlahan, mencari bagian tangkai yang tepat. Di sana, sebuah garis keperakan tampak menyatu dengan cabang.
Ia menariknya.
Buah itu lepas tanpa perlawanan.
Begitu berada di telapak tangannya, permukaan kulitnya membuka sendiri seperti kelopak. Aroma segar memenuhi udara, mirip campuran air hujan, daun muda, dan sesuatu yang sulit dijelaskan. Laras menggigit sedikit.
Rasanya manis.
Tetapi bukan manis gula.
Ada sensasi hangat yang langsung turun dari lidah menuju dada, kemudian menyebar ke lengan dan kaki. Tubuhnya yang sejak tadi terasa berat tiba-tiba seperti mendapatkan kembali sedikit tenaga.
Laras mengunyah perlahan.
"Ini..."
"Prana."
Ia menatap buah itu.
"Kalau manusia punya buah seperti ini, sudah pasti dijual mahal."
Baning tidak tertawa, tetapi suara rendah dari tenggorokannya terdengar seperti batu yang bergeser.