Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #26

Kabar dari Langit Retak

Tidak ada yang memperingatkan mereka bahwa langit Sindhu bisa bergetar.

Sejak pertama kali membuka mata di dunia itu, Banyu mengira langit adalah satu-satunya hal yang tidak berubah. Remang keperakan selalu menggantung di atas hutan, kabut bercahaya bergerak lambat tanpa arah angin yang jelas, dan jauh di balik lapisan-lapisan warna pucat itu tidak pernah terlihat matahari maupun malam. Sindhu terasa seperti sebuah dunia yang menahan napas dalam-dalam dan lupa bagaimana caranya mengembuskannya.

Karena itu, ketika getaran pertama datang, Laras sempat mengira tanah di bawah kaki mereka yang bergerak.

Mereka baru saja meninggalkan Hutan Pakis Raksasa.

Baning berjalan di depan dengan langkah-langkah berat yang teratur, sementara Laras dan Banyu mengikuti melalui jalur tanah yang semakin menanjak. Vegetasi raksasa perlahan menipis. Batang pakis yang selama beberapa waktu menjulang seperti tiang-tiang bangunan mulai berganti menjadi semak rendah dan rumput bercahaya. Di hadapan mereka terbentang Dataran Tinggi Pakis, sebuah bukit terbuka yang permukaannya ditutupi rerumputan pendek berwarna hijau kebiruan.

Dari tempat itu, mereka dapat melihat jauh ke segala arah.

Lembah-lembah Sindhu tampak seperti lautan kabut. Sungai purba berkelok di kejauhan dalam garis-garis cahaya perak, membelah hutan-hutan raksasa dan dataran luas yang belum pernah disentuh tangan manusia. Sesekali terlihat kawanan roh bergerak di antara pepohonan, transparan dan samar seperti pantulan makhluk hidup di permukaan air.

Laras berhenti sebentar untuk mengatur napas.

Ia memandang ke atas.

"Langitnya selalu begini?"

Baning tidak menoleh.

"Begini bagaimana?"

"Seperti sore yang tidak selesai."

"Di Sindhu, waktu tidak ditentukan oleh matahari."

"Terus oleh apa?"

"Resonansi."

Laras mengerutkan dahi.

Belum sempat ia bertanya lagi, sesuatu menghantam ruang di sekitar mereka.

Dum.

Bukan suara.

Getaran.

Udara berdenyut.

Rumput-rumput di dataran tinggi merunduk serempak, padahal tidak ada angin. Kabut di lembah berputar dalam lingkaran besar. Cahaya yang keluar dari rerumputan mendadak berkedip-kedip seperti ribuan kunang-kunang yang kehilangan arah.

Banyu berhenti.

Tangannya spontan mencengkeram bagian depan dadanya.

"Apa itu?"

Baning mengangkat kepala.

Untuk pertama kalinya sejak Laras mengenalnya, gerakannya tidak terlihat tenang.

Getaran kedua datang.

Kali ini jauh lebih keras.

DUUMMMMM.

Suara frekuensi rendah memenuhi langit.

Banyu jatuh berlutut.

Napasnya terputus.

Laras langsung berbalik dan menangkap bahunya sebelum tubuhnya benar-benar ambruk ke tanah.

"Banyu!"

Ia berlutut di sampingnya.

Banyu mencengkeram dadanya dengan kedua tangan. Wajahnya memucat begitu cepat sehingga Laras merasa darahnya sendiri ikut dingin.

"Tarik napas."

Banyu mencoba.

Tidak berhasil.

Dadanya seperti terkunci dari dalam.

"Banyu, lihat aku."

Ia membuka mata.

Pupilnya bergetar.

"Jangan... jangan sentuh..."

"Apa?"

"Langit."

Laras mendongak.

Baru saat itulah ia melihatnya.

Di kejauhan, tepat di atas garis hutan yang membentang menuju arah hulu, kabut Sindhu sedang robek.

Sebuah garis cahaya ungu muncul dari balik lapisan kabut.

Awalnya tipis.

Kemudian melebar.

Satu kilatan menyambar dari ujung ke ujung.

Ungu.

Lalu emas.

Kemudian keduanya bercampur menjadi warna yang terlalu terang untuk disebut cahaya biasa.

Petir tidak turun dari langit.

Petir itu seperti muncul dari dalam langit sendiri.

KRRRAAAAKK!

Retakan cahaya membelah lapisan kabut abadi.

Laras menutup wajah dengan lengan ketika semburan cahaya menyapu dataran tinggi. Udara berbau seperti batu yang terbakar setelah hujan, tetapi di balik aroma itu ada sesuatu yang lebih asing—bau ozon, logam panas, dan tanah basah yang baru dibelah.

Banyu menundukkan kepala.

Sakit.

Bukan sakit seperti luka.

Bukan seperti tulang patah atau otot tertarik.

Ini terasa seperti tubuhnya menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar lalu sesuatu itu dipaksa bergerak secara tiba-tiba.

Pasak Karma di dadanya berdenyut.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian seluruh garis luka di bawah kulitnya menyala redup.

Banyu menggertakkan gigi.

"Aduh..."

Laras menahan bahunya.

"Apa yang terjadi?"

"Bukan... dari sini."

"Jelaskan."

"Getarannya..."

Banyu menarik napas pendek.

"...datang dari bawah."

Dentuman berikutnya membuat tanah berguncang.

Kali ini Laras ikut kehilangan keseimbangan.

Baning tetap berdiri.

Tubuh batunya bergetar, tetapi ia tidak jatuh.

Ia menatap ke arah hulu.

Mata keemasannya menjadi lebih terang.

"Sudah dimulai."

Laras menatapnya tajam.

"Apa yang sudah dimulai?"

Baning tidak menjawab.

Ia terus melihat retakan di langit.

Satu lagi petir ungu-keemasan menyambar.

Kabut abadi tersibak untuk sesaat.

Di baliknya, Laras melihat sesuatu yang tidak pernah seharusnya ada di Sindhu.

Sebuah garis hitam.

Lurus.

Tipis.

Jauh di atas cakrawala.

Seperti bayangan sebuah benda yang menembus dunia.

Kemudian garis itu lenyap ketika kabut menutup kembali.

Laras menelan ludah.

"Baning."

Danyang tua itu akhirnya berpaling.

"Manusia di dunia kalian telah menancapkan pasaknya lebih dalam."

"Pasak?"

"Bor."

Satu kata itu membuat perut Laras terasa jatuh.

"Bor plasma."

Baning mengangguk.

"Yang menembus tujuh belas kilometer?"

"Ya."

Laras berdiri.

Ia menatap ke arah hulu.

Pikiran tentang Kertajaya langsung kembali menghantam kepalanya.

Desa.

Bu Rukmini.

Pak Sugeng.

Rumah-rumah yang berdiri di antara sawah dan sungai.

Jalan yang diblokade.

Air hitam.

Suara mesin.

Dan Aureum.

Semua muncul sekaligus.

"Berarti mereka masih mengebor."

Baning mengangguk.

"Mereka belum berhenti."

Laras mengumpat pelan.

"Kita sudah masuk sini. Kita bahkan belum tahu jalan keluar. Dan mereka masih mengebor?"

"Mereka tidak mengetahui bahwa dunia kalian hanya satu sisi."

Laras menatap Baning.

"Maksudmu?"

"Setiap pukulan di tanah manusia memiliki gema di sini."

Baning mengangkat satu kaki dan menekankannya perlahan ke tanah.

Getaran kecil merambat melalui permukaan dataran tinggi.

"Tanah yang kalian gali tidak berhenti pada tanah yang bisa disentuh tangan. Jalur sungai purba melanjutkan dirinya ke Sindhu. Ketika bor itu menembus kedalaman yang menjadi batas antara dunia kalian dan lapisan atas Sindhu, kekuatan yang dilepaskannya tidak lagi hanya merusak batu."

Baning menatap langit.

"Ia merobek hubungan."

Petir kembali menyambar.

Lihat selengkapnya