Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #27

Utusan Pohon Tua

Perbatasan Suaka Tengah terasa berbeda dari hutan yang baru saja mereka tinggalkan.

Hutan Pakis Raksasa masih menyisakan bayang-bayangnya di belakang, dengan batang-batang purba yang menjulang seperti tiang-tiang raksasa dan daun lebar yang menggantung rendah di bawah remang abadi Sindhu. Namun semakin jauh mereka berjalan, vegetasi mulai berubah. Tanah menjadi lebih terbuka. Akar-akar besar yang sebelumnya saling bertaut seperti dinding perlahan menipis dan digantikan oleh hamparan rerumputan pendek yang menyala lembut.

Di depan mereka, tiga jalur air membentang menuju lembah yang lebih luas.

Dari kejauhan, ketiganya tampak seperti pita cahaya yang mengalir di atas tanah.

Itulah jaringan sungai utama Sindhu.

Tidak seperti sungai di dunia manusia yang mereka kenal, aliran-aliran itu tidak sekadar membawa air. Cahaya Prana mengalir di dalamnya, bergerak bersama arus seperti serbuk bintang yang tenggelam dalam air bening. Setiap beberapa saat, permukaan sungai berpendar, memperlihatkan pola-pola garis yang saling menyambung jauh ke hulu.

Baning berjalan paling depan.

Langkahnya tetap lambat, tetapi teratur.

Banyu berada beberapa meter di belakangnya bersama Laras. Kondisi Banyu sudah membaik sejak mereka beristirahat di Hutan Pakis Raksasa, meskipun tubuhnya belum benar-benar pulih. Ia masih sesekali menekan dada ketika Pasak Karma terasa berdenyut. Namun kini ia tidak lagi mudah terjatuh.

Laras membawa bekal buah purba dalam wadah daun yang dibuatnya sendiri. Pakaian serat pohon yang dikenakannya juga sudah mengalami beberapa perbaikan. Ia mulai terbiasa dengan tekstur kasar serat tersebut di kulit.

Tidak ada lagi benda dari dunia manusia yang dapat diandalkan.

Anehnya, setelah beberapa waktu, Laras justru merasa lebih ringan.

"Berhenti," kata Baning.

Laras mengangkat kepala.

Mereka berada di sebuah bidang tanah yang luas. Di depan terdapat batu-batu datar berwarna hitam kebiruan yang menandai batas Suaka Tengah. Di baliknya, tiga sungai utama mulai bercabang menuju wilayah yang berbeda.

Banyu merasakan sesuatu sebelum melihat apa pun.

Ada gerakan di atas.

Bukan burung.

Terlalu cepat.

Ia menengadah.

Sebuah benda kecil meluncur dari balik daun.

Awalnya Laras mengira itu sepotong ranting yang jatuh tertiup angin.

Kemudian benda itu mengepakkan sesuatu.

Sepasang sayap yang terbuat dari daun.

Sosok kecil itu berputar satu kali di udara, menyelip di antara dua cabang, kemudian menukik tajam menuju Baning.

"Baning!"

Laras refleks mengangkat tangannya.

Namun Baning tidak bergerak.

Sosok tersebut berhenti tepat di depan wajah Baning.

Ukurannya tidak lebih besar daripada lengan bawah Laras.

Tubuhnya menyerupai boneka kecil yang dibuat dari ranting kayu tua. Lengannya kurus, kakinya bercabang seperti akar muda, sementara bagian kepalanya memiliki dua tonjolan kecil seperti mata yang menyala hijau. Sepasang sayap daun menempel di punggungnya dan terus bergerak cepat, menghasilkan suara berdesir.

Ia terengah-engah.

"Baning! Baning! Aku akhirnya menemukanmu!"

Suaranya cepat.

Sangat cepat.

Bahkan Laras kesulitan mengikuti.

Baning menundukkan kepala.

"Kala."

Sosok kecil itu berhenti mengepak.

"Kau mengenalku?"

"Aku mengenal semua ranting yang membawa kabar dari Kyai Ulin."

Kala tampak lega.

"Syukurlah. Aku sudah berputar tiga kali mengelilingi bukit karena jalur utara penuh kabut dan—"

"Pesan."

Kala langsung diam.

Ia menegakkan tubuh.

Wajah kayunya berubah serius.

"Benar. Pesan."

Ia melayang lebih dekat.

"Kyai Ulin mengirimku."

Mendengar nama itu, Baning menjadi sangat diam.

Bahkan Laras yang belum memahami sepenuhnya arti nama tersebut dapat melihat perubahan pada sikap Danyang tua itu.

Ada penghormatan.

Bukan rasa takut.

Bukan kewaspadaan seperti ketika ia membicarakan Ki Ganggeng.

Penghormatan yang jauh lebih tua.

"Katakan," ujar Baning.

Kala mengangguk cepat.

"Ki Ganggeng sudah bergerak."

Suasana berubah.

Angin yang sejak tadi bergerak di antara rerumputan seolah berhenti.

Banyu merasakan denyut Prana di bawah tanah menegang.

Kala melanjutkan.

"Pasukannya sudah menyebar. Bukan puluhan. Bukan ratusan."

Ia mengangkat kedua tangan kecilnya.

"Ribuan."

Laras mengerutkan dahi.

"Ribuan apa?"

Kala menoleh kepadanya.

Baru saat itulah ia benar-benar menyadari keberadaan dua manusia di belakang Baning.

Tubuh kecilnya membeku di udara.

Sayap daunnya berhenti mengepak.

"Manusia."

Suaranya hampir berbisik.

Laras secara refleks bersiap.

Banyu justru menundukkan kepala sedikit.

Kala mundur.

Kemudian mundur lagi.

"Kalian... manusia?"

Laras menatap Baning.

Baning tetap tenang.

"Ya."

Kala melihat Banyu.

Kemudian Laras.

Kemudian kembali kepada Baning.

"Kalian membawa manusia?"

"Kami tidak membawanya," jawab Baning. "Mereka datang."

Kala berputar cepat mengitari Banyu.

"Manusia hidup?"

Banyu tidak bergerak.

Kala terbang mendekati dadanya.

Kemudian matanya tertuju pada garis gelap yang terlihat samar di bawah pakaian serat Banyu.

Ia berhenti.

"Pasak Karma."

Banyu mengangguk.

Kala mundur perlahan.

"Aku pernah melihat bekas itu pada roh yang menanggung luka dunia."

Banyu menjawab pelan.

"Aku juga sedang belajar apa artinya."

Kala tampak kebingungan.

"Kau tidak takut?"

Banyu menatapnya.

"Takut."

Jawaban itu membuat Kala terdiam.

"Tapi aku tidak ingin rasa takutku membuatku berhenti."

Untuk pertama kalinya, Kala tidak langsung menjawab.

Ia memandang Banyu cukup lama.

Kemudian ia menoleh kepada Laras.

"Dan kau?"

Laras mengangkat alis.

"Aku apa?"

"Kau juga membawa Pasak?"

"Tidak."

Kala mengamati pakaian daun yang dikenakannya.

"Jadi kau manusia biasa."

Laras hampir tertawa.

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Aku tahu."

Kala kembali menghadap Baning.

"Ini gawat."

Lihat selengkapnya