Kabut hitam itu datang lebih dulu daripada suara.
Ia merayap rendah di atas permukaan Sungai Sunda Purba, menggulung seperti asap yang keluar dari luka bumi yang tak pernah sempat menutup. Dari dasar lembah yang begitu dalam, kabut itu perlahan naik menyusuri dinding-dinding ngarai, menyelinap di antara akar-akar pohon purba dan batuan besar yang menggantung seperti rahang patah. Remang abadi Sindhu membuat segala sesuatu tampak kehilangan batas. Langit tidak benar-benar gelap, tetapi juga tidak pernah cukup terang untuk disebut pagi. Hanya warna kelabu keunguan yang tertahan di balik kabut, seolah dunia sedang menahan napas.
Banyu berhenti berjalan.
Di hadapannya, lembah Sungai Sunda Purba membentang jauh ke utara. Dinding-dinding ngarai menjulang di kiri dan kanan, terjal dan hitam, dengan guratan batu yang terlihat seperti bekas aliran air dari zaman yang bahkan tidak lagi memiliki nama. Jauh di bawah sana, sungai raksasa mengalir lambat. Airnya tidak jernih seperti Arteri Utara yang mereka ikuti sebelumnya. Warnanya keruh keabu-abuan, hampir hitam di beberapa bagian, dengan lapisan tipis seperti minyak yang sesekali menangkap cahaya ungu dari langit.
Laras berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Ia menoleh ke kiri.
Kemudian ke kanan.
“Kenapa berhenti?”
Banyu tidak langsung menjawab.
Ada sesuatu yang berubah.
Bukan pada sungai. Bukan pada kabut. Bahkan bukan pada tanah di bawah telapak kaki mereka.
Pada udara.
Udara Sindhu biasanya terasa hidup. Bahkan ketika mereka melewati tempat-tempat yang penuh penderitaan, selalu ada sesuatu di dalamnya—denyut lembut, aliran yang sulit dijelaskan, semacam napas panjang yang membuat tubuh sadar bahwa dunia ini masih bergerak.
Sekarang napas itu seperti menghilang.
Banyu mengangkat wajahnya.
Dan kemudian terdengar satu nada.
Panjang.
Tipis.
Melengking.
Suara itu datang dari tempat yang tidak jelas.
Bukan dari atas.
Bukan pula dari bawah.
Nada tersebut seperti lahir dari seluruh dinding lembah sekaligus.
Laras membeku.
Nada berikutnya menyusul.
Lebih rendah.
Kemudian naik lagi, bergetar panjang dengan lengkungan yang membuat dada terasa sesak.
Seruling.
Banyu mengenalinya sebelum pikirannya sempat memberikan nama.
Alunan itu bukan musik dalam pengertian yang pernah ia kenal di dunia manusia. Tidak ada keindahan di dalamnya. Tidak ada irama yang mengajak tubuh mengikuti ketukan. Tidak ada ketenangan seperti suara seruling yang dimainkan di malam hari.
Ini adalah suara yang seolah dibuat dari sesuatu yang pernah menangis terlalu lama.
Sebuah ratapan yang diberi lubang-lubang nada.
Laras menelan ludah.
“Banyu…”
“Aku dengar.”
Nada ketiga menghantam dinding ngarai.
Wiiiiiiiiing—
Suara itu memantul.
Sekali.
Dua kali.
Puluhan kali.
Sampai terdengar seperti ratusan seruling sedang dimainkan dari segala penjuru.
Banyu merasakan kulit kepalanya meremang.
Ia menarik napas.
Pelan.
Tetapi sebelum udara memenuhi paru-parunya, suara itu berubah.
Untuk sesaat, di antara nada-nada melengking tersebut, ia mendengar suara lain.
Suara manusia.
“Sudah selesai.”
Banyu membuka mata.
Di sebelahnya, Laras tiba-tiba memegang lengannya.
“Kau dengar juga?”
Banyu menatapnya.
“Suara apa?”
“Bukan seruling.”
Laras menggeleng pelan. Wajahnya mulai pucat.
“Aku dengar seseorang bilang… kita sudah terlambat.”
Banyu tidak menjawab.
Karena sekarang ia juga mendengarnya.
Bukan suara yang sama.
Suara yang muncul tepat di belakang telinganya.
“Kamu tidak bisa memperbaiki apa pun.”
Banyu berbalik cepat.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya kabut.
Kabut hitam yang sekarang mulai menutupi jalan yang baru saja mereka lewati.
Suara seruling kembali melengking.
Dan kali ini, Banyu merasakan sesuatu menghantam kepalanya.
Pusing.
Bukan pusing seperti kelelahan.
Bukan pula seperti kurang makan atau kurang tidur.
Rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang memasukkan jari ke dalam pikirannya lalu memutarnya perlahan.
Banyu terhuyung.
Laras segera menopang bahunya.
“Banyu!”
“Aku… tidak apa-apa.”
“Jangan bohong.”
“Aku masih bisa berdiri.”
“Berdiri bukan berarti baik-baik saja.”
Laras sendiri nyaris jatuh ketika berkata demikian.
Banyu menangkap lengannya.
Bulu kuduk Laras berdiri seluruhnya. Rambut-rambut halus di tengkuknya terlihat jelas ketika ia menundukkan kepala. Ia mengusap kedua lengannya sendiri, berusaha menghilangkan sensasi dingin yang tiba-tiba menjalar sampai ke tulang.
“Aku benci suara ini,” bisiknya.
Banyu menatap kabut.
Ia juga membencinya.
Tetapi bukan karena suaranya buruk.
Ia membencinya karena suara itu terasa seperti sesuatu yang tahu persis di mana harus menyentuh ketakutan manusia.
Seruling itu tidak menyerang tubuh.
Ia menyerang ruang di dalam kepala.
Nada panjang berikutnya membuat Banyu melihat sesuatu.
Desa Kertajaya.
Sawah yang mengering.
Ciasem yang hitam.
Bu Rukmini berdiri di pinggir sungai dengan wajah penuh air mata.
Dania menatapnya dari kejauhan.
Laras terbaring di tanah.
Banyu sendiri berlutut di antara lumpur hitam.
Kemudian semuanya menjadi kosong.
Tidak ada manusia.
Tidak ada sungai.
Tidak ada hutan.
Tidak ada yang tersisa.
Hanya sebuah suara yang berbisik:
“Begitulah akhirnya.”
Banyu memejamkan mata keras-keras.
“Bukan.”
Bisikan itu muncul lagi.
“Manusia selalu gagal.”
“Bukan.”
“Kamu juga manusia.”
Banyu menarik napas.
Dadanya terasa sakit.
Pasak Karma di kulitnya seperti ikut terbakar.
“Kamu membawa dosa mereka.”
Banyu membuka mata.
Tangannya gemetar.
“Aku tahu.”
Bisikan itu berhenti.
Hanya sesaat.
Lalu terdengar suara lain.
“Kalau begitu kenapa masih mencoba?”
Pertanyaan itu jauh lebih berbahaya daripada ancaman.
Banyu tidak langsung menjawab.
Karena ia sendiri pernah menanyakannya.
Kenapa?
Kenapa harus menyelamatkan sesuatu yang mungkin tidak layak diselamatkan?
Kenapa harus mempertahankan manusia ketika hukum kuno Sindhu sendiri menetapkan kepunahan mereka sebagai syarat Resonansi Keenam?
Kenapa ia harus berdiri di antara dua dunia yang sama-sama terluka?
Kenapa harus mencari jalan yang bahkan Baning belum tentu tahu?
Jawabannya tidak datang sebagai kata-kata.
Ia datang sebagai ingatan.
Tangannya sendiri di dalam air Ciasem yang hitam.
Lututnya di lumpur.
Rasa terbakar yang menembus kulit.
Dan satu kalimat yang keluar dari mulutnya saat itu.
Aku manusia.
Banyu menarik napas panjang.
“Aku tidak tahu.”
Laras menoleh.
“Apa?”
Banyu memandangnya.
“Aku tidak tahu apakah manusia pantas diselamatkan.”
Laras diam.
“Aku tidak tahu apakah kita berhasil. Aku juga tidak tahu apakah Ki Ganggeng akan percaya pada kita.” Banyu menelan ludah. “Tapi kalau aku berhenti hanya karena aku takut gagal, berarti suara ini benar.”
Laras memandang wajahnya beberapa detik.
Kemudian mengangguk kecil.
“Kalau begitu jangan dengarkan.”
“Aku sedang mencoba.”