Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #29

Kepungan Air Hitam

Remang abadi Sindhu terasa semakin berat ketika mereka memasuki hulu rawa.

Tidak ada matahari yang bisa dijadikan penanda waktu, tidak ada pagi atau sore yang benar-benar datang. Hanya kabut kelabu yang menggantung rendah di antara pepohonan purba, sementara cahaya ungu pucat dari jaringan Prana jauh di bawah tanah sesekali menembus celah-celah akar dan batu. Setelah perburuan dimulai di Lembah Sungai Sunda Purba, Baning membawa Banyu dan Laras melalui jalur sempit yang hanya dapat dilalui dengan berjalan satu per satu. Dinding batu di kedua sisi mereka semakin rapat, seolah-olah bumi sengaja menutup tubuhnya untuk menyembunyikan sebuah ruang kecil di balik hulu rawa.

Pelataran Batu Suaka.

Baning menyebutnya demikian ketika mereka tiba.

Tempat itu sebenarnya tidak terlihat seperti tempat perlindungan. Tidak ada bangunan, tidak ada gerbang, bahkan tidak ada batas yang jelas selain lingkaran batu-batu tua yang setengah tertanam di tanah. Akar pohon purba menjalar di sepanjang dinding, membentuk semacam atap alami. Di tengah pelataran terdapat permukaan batu datar yang ditumbuhi lumut keperakan, dan di belakangnya sebuah celah kecil mengarah lebih dalam ke batu.

Namun begitu Banyu melangkah melewati batas batu pertama, tubuhnya langsung merasakan perbedaannya.

Suara seruling jelaga yang sejak tadi mengejar mereka menjadi lebih jauh.

Bukan hilang.

Masih terdengar, tipis dan melengking di balik kabut.

Tetapi pengaruhnya berkurang.

Pusing di kepala Banyu mereda. Napasnya kembali teratur. Bahkan Pasak Karma di dadanya tidak lagi terasa sepanas sebelumnya.

Laras berdiri di sampingnya sambil mengusap tengkuk.

“Tempat ini benar-benar seperti… menutup suara.”

“Bukan menutup,” jawab Baning.

Ia bergerak perlahan memasuki pelataran.

“Suaka mengingat hukum yang lebih tua daripada amarah.”

Laras memandang batu-batu di sekeliling mereka. “Dan hukum itu masih berlaku?”

Baning berhenti.

“Selama tanah masih mengingatnya.”

Banyu menunduk.

Di bawah kakinya, lumut keperakan bergerak sangat halus.

Seperti bernapas.

Ia menarik napas panjang.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Setelah berlari, berpindah jalur, dan bersembunyi dari ribuan Roh Murka, ketenangan itu terasa hampir tidak masuk akal. Banyu bahkan sempat berpikir mereka mungkin telah berhasil memutus jejak.

Namun Laras tidak terlihat yakin.

Ia terus menatap ke arah celah masuk.

Tangannya sesekali menyentuh tongkat kayu Ulin yang diberikan Baning kepadanya sebelum mereka meninggalkan Arteri Utara. Tongkat itu sederhana. Tidak ada ukiran rumit atau logam di ujungnya. Hanya sebatang kayu tua berwarna cokelat gelap dengan beberapa garis alami seperti urat daun yang mengilap samar.

Baning menyebutnya kayu yang telah diberkati.

Bukan senjata.

Tetapi Laras tidak pernah menganggap benda yang dapat dipakai untuk bertahan hidup sebagai sekadar benda.

“Berapa lama kita bisa di sini?” tanyanya.

Baning tidak menjawab segera.

Ia memandang ke arah rawa.

Banyu mengikuti tatapannya.

Air yang mengelilingi Pelataran Batu Suaka tampak tenang.

Terlalu tenang.

Permukaan rawa tidak bergerak meskipun tidak ada satu pun daun yang benar-benar diam di Sindhu. Kabut yang tadi mengambang di atas air sekarang menggantung tanpa arah.

Banyu merasakan sesuatu di telapak kakinya.

Getaran.

Sangat kecil.

Ia berjongkok dan menempelkan tangan ke tanah.

Dingin.

Lalu—

Duk.

Satu denyut.

Banyu mengangkat kepala.

“Baning.”

“Aku tahu.”

Duk.

Denyut kedua.

Lebih kuat.

Laras langsung berdiri.

“Apa itu?”

Baning tidak menjawab.

Air rawa bergerak.

Awalnya hanya riak kecil di antara rumpun tanaman air. Kemudian riak itu meluas ke seluruh permukaan, membentuk lingkaran-lingkaran gelap yang saling bertabrakan.

Banyu bangkit.

Warna air berubah tepat di depan mata mereka.

Cokelat kehijauan menjadi abu-abu.

Abu-abu menjadi hitam.

Bukan sekadar keruh.

Hitam pekat.

Seperti minyak yang menelan cahaya.

Bau menyusul beberapa detik kemudian.

Minyak mentah.

Lumpur busuk.

Logam terbakar.

Dan sesuatu yang tajam seperti bahan kimia yang mengendap terlalu lama.

Laras menutup hidung.

“Tidak…”

Air mulai naik.

Pelan.

Tetapi terus naik.

Permukaan rawa yang sebelumnya berada beberapa meter di bawah pelataran kini merambat ke atas melalui celah-celah batu. Air hitam mengalir seperti jari-jari panjang yang mencari jalan, menyusup di antara akar, membasahi lumut, lalu menutupi tanah di sekitar batas suaka.

Banyu melihat salah satu akar tua berubah warna ketika tersentuh air itu.

Ujungnya menghitam.

Lalu retak.

Laras menggenggam tongkat Ulin lebih erat.

“Mereka sudah menemukan kita.”

Baning menatap air.

“Ya.”

“Berapa banyak?”

“Cukup.”

Jawaban itu justru membuat Laras semakin tegang.

Air hitam terus naik.

Tidak lama kemudian, seluruh jalur keluar yang mereka gunakan tadi terputus.

Pelataran Batu Suaka menjadi pulau kecil di tengah rawa yang telah berubah menjadi lautan jelaga.

Banyu menatap sekeliling.

Dinding batu di kiri dan kanan terlalu terjal untuk didaki dengan cepat. Jalur di belakang mereka tertutup air. Di depan, rawa telah berubah menjadi sesuatu yang bergerak dan bernapas.

Mereka terjebak.

Tetapi bukan itu yang paling membuat Banyu takut.

Ia mendengar suara dari dalam air.

Bukan suara seruling.

Suara gerakan.

Satu.

Dua.

Puluhan.

Kemudian ratusan.

Sesuatu berenang di bawah permukaan.

Laras mengangkat tongkat Ulin.

“Baning.”

“Aku melihatnya.”

Permukaan air pecah.

Seekor lintah raksasa melompat keluar.

Tubuhnya panjang hampir dua kali tinggi manusia, hitam mengilap dengan lapisan seperti kerak logam yang menempel di kulitnya. Mulut bundarnya membuka dan memperlihatkan cincin gigi kecil yang bergerak-gerak.

Ia jatuh kembali ke air.

Kemudian muncul yang lain.

Lalu yang lain.

Ratusan.

Lintah-lintah raksasa memenuhi rawa, berenang melingkar mengelilingi pelataran. Di antara mereka terdapat serangga air purba dengan kaki-kaki panjang seperti tombak, kumbang rawa sebesar kerbau, dan makhluk-makhluk amfibi yang bentuk tubuhnya sulit dikenali karena seluruh permukaannya tertutup lapisan hitam korosif.

Beberapa memiliki mata merah.

Beberapa bahkan tidak memiliki mata.

Namun semuanya bergerak menuju satu arah.

Pelataran.

Banyu merasakan perutnya mengeras.

Mereka bukan sekadar mengepung.

Mereka menunggu.

Seolah menunggu seseorang memberikan perintah.

Lalu air di bagian paling depan terbelah.

Sesuatu yang jauh lebih besar muncul.

Punggungnya pertama kali terlihat.

Hitam.

Panjang.

Dipenuhi duri-duri yang menyerupai tulang besi.

Satu duri.

Dua.

Sepuluh.

Puluhan duri membentang dari tengkuk sampai ujung ekornya.

Tubuh raksasa itu naik perlahan dari air, membawa lumpur hitam yang mengalir dari sela-sela sisiknya.

Kepalanya muncul terakhir.

Panjang.

Berat.

Dengan moncong lebar dan rahang yang terlihat seperti pintu batu yang dipenuhi gigi.

Banyu pernah melihat gambar fosil makhluk purba di dunia manusia.

Lihat selengkapnya