Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #30

Bentrok Pertama di Suaka

Tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang bergerak lebih dulu.

Mungkin Roh Murka yang paling dekat dengan batas pelataran.

Mungkin Panglima Buaya Jelaga yang menggerakkan ekornya.

Atau mungkin Seruling Jelaga yang kembali melengking dari balik kabut, mengirimkan satu nada panjang yang terasa seperti kuku menggores bagian dalam tengkorak.

Yang Banyu tahu, sesaat setelah nada itu terdengar, air hitam di luar Pelataran Batu Suaka mendidih.

Ratusan kepala muncul bersamaan.

Roh-roh lintah raksasa merayap keluar dari rawa dengan tubuh yang basah oleh cairan hitam. Roh amfibi melompat dari batu ke batu. Beberapa memiliki kaki belakang besar seperti katak purba, tetapi lengan mereka panjang dan kurus, sementara rahang mereka dipenuhi gigi-gigi kecil. Di belakang mereka, serangga air raksasa bergerak dengan kaki berlapis kerak hitam.

Lalu semuanya menerjang.

Banyu hanya sempat menarik napas.

“Datang.”

Baning menghentakkan satu kakinya.

DUK!

Tanah meledak.

Bukan ledakan api, melainkan semburan batu.

Dari permukaan pelataran, dinding-dinding batu menjulang secara tiba-tiba. Bongkahan-bongkahan besar menyembul dari tanah seperti tulang punggung bumi yang dipaksa keluar. Satu tembok memotong barisan depan Roh Murka, yang lain muncul tepat di belakangnya, menjepit puluhan makhluk di antara dua bidang batu.

Teriakan meledak.

Cakar-cakar hitam menggores permukaan dinding.

Rahang menggigit.

Asap korosif mengepul.

Namun batu tidak runtuh.

“Jangan keluar dari lingkaran suaka!” suara Baning menggema.

Laras sudah bergerak.

Ia menggenggam tongkat kayu Ulin dengan kedua tangan, menurunkan pusat berat tubuhnya, lalu menunggu satu roh amfibi melompat melewati dinding batu.

Makhluk itu datang dengan mulut terbuka.

Laras memutar tubuh.

Tongkat menghantam rahang.

Buk!

Roh itu terpental ke samping dan menghantam batu.

Laras tidak berhenti.

Seekor lintah raksasa merayap dari bawah. Tubuhnya melingkar, ujung mulutnya membuka lebar, mengarah tepat ke kaki Laras.

Ia mundur setengah langkah.

Tongkat diputar dari bawah ke atas.

Buk!

Lintah itu terhempas kembali ke rawa.

Laras menatap tongkatnya.

Tidak ada cairan hitam yang menempel.

Permukaan kayu hanya memancarkan cahaya hijau keemasan yang sangat tipis.

Kayu Ulin Sindhu benar-benar berbeda dari benda apa pun yang pernah ia gunakan di dunia manusia.

Ia tidak sekadar keras.

Kayu itu menolak.

Energi korosif yang melekat pada tubuh Roh Murka seperti kehilangan daya begitu bersentuhan dengan permukaan tongkat. Jelaga yang seharusnya merambat justru pecah menjadi butiran hitam, lalu menguap sebelum sempat menempel.

Laras mengerti sekarang kenapa Baning memberikan benda itu kepadanya.

“Bagus,” gumamnya.

Seekor roh lain melompat.

“Masih bisa dipakai.”

Tongkat kembali berayun.

Sementara itu, Banyu berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Ia tidak membawa senjata.

Tidak punya apa pun selain kedua tangannya.

Ia melihat pertempuran yang terjadi di depan mata dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Setiap kali Laras memukul, bukan darah yang keluar, melainkan gumpalan asap hitam dan serpihan energi korosif. Setiap kali Baning menghantam tanah, batu-batu bergerak seperti bagian tubuhnya sendiri.

Tetapi di balik semua kekerasan itu, Banyu masih melihat sesuatu.

Ketakutan.

Roh-roh itu takut.

Amarah mereka memang nyata. Kebencian mereka juga nyata. Tetapi di balik mata merah dan tubuh yang telah terdistorsi, ada rasa sakit yang terlalu besar untuk disebut sekadar kemarahan.

Mereka menyerang seperti makhluk yang yakin bahwa jika mereka berhenti menyerang, mereka sendiri akan kembali merasakan luka yang telah membuat mereka gila.

“Jangan!”

Banyu maju.

Satu Roh Murka melompat melewati celah dinding.

Laras hendak memukulnya.

“Jangan bunuh!”

Tongkat Laras berhenti sepersekian detik.

Roh itu sudah berada di depan mereka.

Laras mengubah arah ayunan.

Buk!

Bukan kepala.

Bahu.

Makhluk itu terlempar dan berguling di atas batu.

Laras menoleh tajam.

“Aku tidak berniat membunuh.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu jangan berteriak seolah aku—”

Seekor lintah muncul dari belakang Banyu.

Laras langsung memutar tubuh.

“Banyu!”

Tongkat menghantam makhluk itu tepat sebelum mulutnya menyentuh punggung Banyu.

Tubuh lintah terlempar.

Banyu tersentak.

Laras menggeram.

“Jangan melamun!”

“Aku tidak melamun.”

“Waktu bukan tempat yang bagus untuk berdebat!”

Banyu hampir menjawab, tetapi suara geraman yang jauh lebih besar membuatnya diam.

Di seberang pelataran, Panglima Buaya Jelaga mulai bergerak.

Tubuh raksasa itu keluar sepenuhnya dari air hitam.

Setiap gerakannya membuat permukaan rawa bergelombang. Kaki-kakinya yang besar menghantam lumpur, dan duri-duri besi di sepanjang punggungnya memantulkan cahaya merah dari kabut.

Baning berdiri di hadapannya.

“Berhenti.”

Panglima tidak menjawab.

Ia membuka mulut.

Banyu langsung merasakan sesuatu yang aneh.

Bau panas.

Bukan seperti napas.

Seperti minyak yang dibakar.

“Baning!”

Panglima menyemburkan cairan hitam.

Semburan itu melesat seperti hujan dari pipa tekanan tinggi.

Baning menghantam tanah.

Dinding batu muncul.

Cairan minyak menghantamnya.

Sssssss—

Batu mendesis.

Permukaannya langsung menghitam.

Sebagian dinding meleleh.

Baning terdorong setengah langkah.

Panglima kembali mengangkat kepala.

Laras masih berdiri di sisi lain, dikelilingi beberapa roh kecil.

Banyu melihat arah semburan berikutnya.

Ia tahu sebelum siapa pun bergerak.

“Laras!”

Panglima menyembur.

Banyu berlari.

Tidak berpikir.

Tidak menghitung risiko.

Ia hanya melihat Laras berdiri tepat di jalur cairan hitam itu.

“Laras!”

Banyu menghantam tubuh Laras dari samping.

Mereka jatuh.

Namun semburan tidak sepenuhnya meleset.

Cairan panas mengenai lengan Banyu.

Ia menjerit.

“AAAH!”

Rasa sakitnya datang seketika.

Panasnya bukan sekadar membakar kulit.

Cairan itu seperti menggigit.

Menembus kain.

Menembus kulit.

Menjalar ke daging dengan sensasi seperti ribuan jarum panas yang ditusukkan bersamaan.

Banyu berguling menjauh.

Laras bangkit.

“Banyu!”

Ia melihat lengan Banyu.

Kulitnya merah gelap, beberapa bagian mulai menghitam. Asap tipis keluar dari permukaannya.

“Banyu!”

“Aku masih hidup.”

“Kau gila?!”

Banyu mencoba bangkit.

Tangannya gemetar.

“Tidak apa-apa.”

“Jangan bilang tidak apa-apa!”

Laras berlutut di sampingnya.

Ia hendak menyentuh luka itu, tetapi berhenti ketika menyadari kulit Banyu masih mengepulkan asap.

Lihat selengkapnya