Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #31

Amuk Ki Ganggeng

Remang abadi Sindhu malam itu terasa lebih gelap daripada biasanya.

Awan racun menggantung rendah di atas Lembah Sungai Sunda Purba, berlapis-lapis seperti jelaga yang tidak pernah menemukan jalan untuk terangkat ke langit. Tidak ada matahari, tidak ada bulan, bahkan tidak ada kilau bintang yang mampu menembus kabut pekat itu. Hanya cahaya samar dari aliran Prana di bawah tanah dan pantulan pucat lumut-lumut purba di sela batu yang membuat Pelataran Batu Suaka tidak sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan.

Tetapi sungai di luar suaka tidak lagi tampak seperti sungai.

Airnya naik.

Mula-mula hanya beberapa jengkal di atas tepian batu. Kemudian satu lengan. Lalu dua kali tinggi tubuh Laras.

Permukaan Sungai Sunda Purba yang sejak tadi bergolak tiba-tiba menggembung di tengah lembah, seolah sesuatu yang sangat besar sedang bangun dari dasar dunia. Air hitam berputar melawan arah arus. Lumpur, serpihan akar, sisa-sisa benda yang tidak lagi dapat dikenali, dan lapisan minyak yang berkilau kusam terangkat bersama pusaran itu.

Baning membuka kedua matanya.

Tubuh raksasa sang penyu batu masih berdiri di depan pintu sempit suaka. Retakan-retakan kecil menjalar di beberapa bagian tempurungnya akibat bentrokan sebelumnya dengan Panglima Buaya Jelaga. Di belakangnya, dinding batu yang ia bangun untuk melindungi Banyu dan Laras telah penuh guratan hitam. Cairan korosif menetes dari permukaannya dan mendesis setiap kali menyentuh lumut.

Laras menggenggam tongkat Ulin dengan kedua tangan.

Lengannya masih tegang akibat pertarungan tadi. Napasnya pendek, tetapi teratur. Ia melirik ke arah Banyu yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Lengan kiri Banyu masih terbungkus kasar oleh serat daun dan potongan kulit pohon yang Laras gunakan sebagai perban darurat. Sebagian pembalut itu telah berubah gelap. Panas dari luka akibat semburan minyak hitam Panglima Buaya Jelaga belum sepenuhnya hilang. Setiap kali Banyu bergerak, rahangnya mengeras sedikit, menahan rasa sakit yang menjalar sampai bahu.

Namun bukan luka itu yang membuat wajahnya pucat.

Banyu sedang memandang sungai.

Ada sesuatu di dalam sana.

Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kemarahan yang mereka hadapi beberapa saat lalu.

“Baning…”

Suara Banyu nyaris tidak terdengar.

Baning tidak menjawab.

Ia sedang mendengarkan.

Bukan dengan telinga.

Seluruh tubuh batu itu bergetar perlahan, seakan setiap lapisan tanah di bawahnya sedang mengirimkan berita yang sama. Getaran itu datang dari sungai, dari akar-akar yang menembus tanah, dari batu-batu yang telah berada di sana jauh sebelum manusia memiliki nama untuk air.

Kemudian suara itu datang.

Bukan dari satu tempat.

Dari segala arah.

Dari air.

Dari tanah.

Dari kabut.

Dari ribuan roh yang bersembunyi di balik pepohonan purba.

“MANUSIA.”

Satu kata.

Namun ketika kata itu terdengar, seluruh lembah bergetar.

Laras refleks menurunkan tubuhnya. Tongkat Ulin hampir terlepas dari tangannya.

Banyu merasa dadanya seperti dihantam gelombang.

Suara itu bukan sekadar suara seseorang yang berteriak. Itu adalah suara sungai yang kehilangan kesabarannya. Suara bendungan yang pecah setelah bertahun-tahun menahan air. Suara banjir bandang yang menyeret rumah, pohon, tanah, dan kenangan sekaligus.

Air di tengah sungai terus membubung.

Seratus meter.

Dua ratus.

Lebih tinggi.

Sampai akhirnya sesuatu menyeruak dari pusaran hitam itu.

Kepala.

Panjang dan menyerupai kepala naga purba, tetapi tidak memiliki keindahan makhluk dalam dongeng. Wajahnya tersusun dari lumpur hitam, akar mati, serpihan batu, dan lapisan limbah yang mengeras seperti sisik. Dua mata merah membara terbuka di dalamnya.

Kemudian lehernya naik.

Tubuhnya naik.

Semakin tinggi.

Semakin tinggi.

Sampai kepalanya menembus kabut racun dan tubuh bagian atasnya menjulang di atas lembah seperti bukit yang hidup.

Air terus mengalir dari tubuh raksasa itu.

Tidak.

Bukan mengalir.

Menetes.

Setiap tetesnya berwarna hitam.

Beberapa jatuh ke sungai dan langsung menyebar menjadi lingkaran minyak. Beberapa mengenai batu-batu di sekitar suaka dan membuat permukaannya berasap.

Laras mendongak.

Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke Sindhu, ia tidak mampu menyembunyikan ketakutan dari wajahnya.

“Ya Tuhan…”

Banyu tidak menjawab.

Ia hanya berdiri.

Ki Ganggeng.

Bukan seluruh tubuhnya.

Hanya proyeksi kesadarannya.

Namun bahkan bagian kecil dari kesadaran sang penjaga sungai itu sudah cukup untuk membuat seluruh langit Sindhu terasa terlalu sempit.

Kepala naga itu menunduk.

Dua mata merahnya menatap langsung ke arah Pelataran Batu Suaka.

Ke arah Baning.

Ke arah Banyu.

Ke arah Laras.

Dan ketika mulutnya terbuka, suara yang keluar membuat tanah bergetar.

“KAU.”

Air sungai menghantam dinding lembah.

Banyu menahan napas.

Ia tahu suara itu ditujukan kepadanya.

“Manusia yang membawa bau racun ke tanah kami.”

Ki Ganggeng menggerakkan kepalanya sedikit. Lumpur dan limbah yang membentuk rahangnya retak, lalu menyatu kembali.

“Manusia yang datang ke sungai kami setelah tangan manusia mengorek perut bumi.”

Gelombang besar mengangkat dirinya di belakang sang naga air.

“Manusia yang membawa besi.”

Gelombang berikutnya menjulang.

“Api.”

Air naik lebih tinggi.

“Racun.”

Satu lagi.

“Dan keserakahan.”

Setiap kata membuat air sungai bergetar.

Laras mengangkat tongkatnya.

“Banyu, jangan mendekat.”

Banyu tidak menjawab.

Matanya masih terpaku pada Ki Ganggeng.

Ada rasa takut di sana. Sangat nyata.

Tubuhnya ingin mundur.

Kakinya terasa berat. Tenggorokannya kering. Luka di lengan kirinya berdenyut seirama dengan gemuruh sungai. Naluri paling sederhana dalam tubuh manusia mengatakan kepadanya bahwa sesuatu sebesar itu tidak seharusnya dilawan.

Bahkan jangan didekati.

Jangan ditatap.

Jangan diberi alasan untuk menyerang.

Tetapi Banyu teringat pada sesuatu yang dikatakan Baning jauh sebelum mereka mencapai tempat ini.

Takut adalah suara tubuh.

Ia bukan selalu suara kebenaran.

Banyu menarik napas.

Kemudian melangkah maju.

“Banyu!”

Laras langsung memegang bahunya.

“Jangan.”

Banyu berhenti sebentar.

Ia menoleh.

Wajah Laras pucat. Ada lumpur menempel di pipinya dan beberapa helai rambut menutupi kening. Tangannya masih menggenggam tongkat Ulin begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

“Aku tahu apa yang mau kamu lakukan,” katanya.

“Kalau begitu kamu tahu aku harus maju.”

“Tidak.” Laras menggeleng. “Aku tahu kamu merasa harus maju. Itu berbeda.”

Banyu terdiam.

Laras menatap luka di lengan kirinya.

“Kamu hampir kehilangan tanganmu beberapa menit lalu.”

“Aku masih bisa menggerakkannya.”

“Bukan itu masalahnya.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu maju ke sana, dia bisa membunuhmu.”

Banyu memandang naga air di atas sungai.

“Aku tahu.”

Jawaban itu justru membuat Laras terdiam.

Tidak ada keberanian palsu dalam suara Banyu. Tidak ada keyakinan bahwa ia tidak akan mati. Tidak ada anggapan bahwa empati akan membuat semua makhluk berhenti menyerang.

Ia hanya tahu bahwa ia takut.

Dan tetap akan maju.

Banyu perlahan melepaskan tangan Laras dari bahunya.

“Kalau aku tetap di sini,” katanya, “dia akan terus menyerang.”

Laras ingin membantah.

Namun sebuah suara berat terdengar dari belakang mereka.

“Biarkan dia.”

Baning.

Laras menoleh.

Baning berdiri dengan empat kakinya tertanam kuat di tanah. Batu-batu kecil terus berjatuhan dari bagian tubuhnya yang retak.

“Baning?”

“Ki Ganggeng tidak datang untuk mendengar alasan.”

Baning memandang sang naga air.

“Namun ia mungkin datang untuk mendengar pengakuan.”

Laras menggigit bibir.

“Dan kalau dia tetap menyerang?”

Baning tidak langsung menjawab.

“Kalau demikian, kalian akan tahu bahwa luka di dalam dirinya masih lebih besar daripada kata-kata yang dapat kalian berikan.”

Jawaban itu tidak menenangkan.

Tetapi cukup jujur.

Banyu melangkah lagi.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Ia melewati batas dinding batu perlindungan.

Kaki telanjangnya menginjak tanah basah yang dingin.

Di depannya hanya ada air hitam yang bergerak seperti laut sedang mengamuk.

Ki Ganggeng memperhatikannya.

“Manusia.”

Lihat selengkapnya