Air hitam jatuh dari langit.
Bukan lagi sekadar hujan. Bukan pula gelombang biasa yang pecah di tepian sungai. Massa air tercemar yang digerakkan kesadaran Ki Ganggeng telah berubah menjadi dinding raksasa, menutupi seluruh pandangan di luar Pelataran Batu Suaka. Lumpur, minyak, racun, dan serpihan kehidupan yang pernah hanyut di sepanjang Sungai Sunda Purba bercampur menjadi satu tirai hitam yang meluncur dari langit menuju tanah.
Gemuruhnya membuat tulang-tulang terasa bergetar.
Banyu berdiri paling depan.
Tubuhnya kaku. Luka di lengan kirinya terasa panas sampai ke tulang. Perban dari serat tumbuhan yang tadi membungkus luka telah basah oleh keringat dan percikan air. Setiap tarikan napas terasa seperti menarik udara yang penuh debu batu.
Di belakangnya, Laras menancapkan tongkat Ulin ke tanah.
Baning berdiri di antara mereka dan gelombang.
Tubuh batu raksasa itu sudah tidak setegap sebelumnya. Retakan menjalar dari sisi tempurung hingga kaki depan. Beberapa bagian permukaannya terkikis oleh racun Ki Ganggeng, meninggalkan cekungan hitam yang mengeluarkan uap tipis. Namun keempat kakinya masih tertanam di tanah.
Ia tidak bergeser.
“Baning!” teriak Laras.
“Jangan bergerak.”
Suara Baning rendah, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalamnya.
Kelelahan.
Banyu mengenal suara itu.
Baning telah menggunakan terlalu banyak tenaga sejak kepungan dimulai. Dinding batu yang ia bangun berkali-kali, benturan dengan Panglima Buaya Jelaga, perlindungan terhadap Roh Murka, hingga gelombang terakhir Ki Ganggeng telah menguras sesuatu yang tidak dapat dipulihkan hanya dengan beristirahat beberapa saat.
Namun Baning tetap berdiri.
“Dinding ini tidak akan menahan semuanya,” katanya.
Laras menoleh pada benteng batu di depan mereka.
Benar.
Retakan telah memenuhi seluruh permukaannya.
Batu pertama sudah hancur.
Batu kedua miring.
Batu ketiga mulai terkelupas lapis demi lapis, seperti tanah liat yang disiram asam.
“Kalau begitu kita lawan sampai—”
“Tidak.”
Baning memotongnya.
Laras mengerutkan dahi.
“Kita tidak akan melawan.”
Banyu menatap Baning.
“Lalu?”
Baning menundukkan kepala sedikit.
“Tanah akan membawa kalian.”
Sebelum Banyu sempat memahami maksudnya, Baning mengangkat salah satu kaki depannya.
Lalu menghentakkannya.
Bukan sekadar menghantam tanah.
Seluruh energi magis yang masih tersisa di dalam tubuh batu itu dilepaskan sekaligus.
Tanah berguncang.
Banyu kehilangan keseimbangan.
“Laras!”
“Aku di sini!”
Permukaan pelataran tiba-tiba mengeluarkan suara retak panjang.
Bukan seperti batu pecah.
Lebih seperti sesuatu yang telah dikunci selama ribuan tahun akhirnya dipaksa membuka diri.
Garis retakan muncul di bawah kaki Banyu.
Menjalar ke bawah Laras.
Kemudian melebar.
“Baning, apa yang—”
Tanah runtuh.
Banyu jatuh lebih dulu.
Laras ikut terseret.
Keduanya terperosok ke dalam kegelapan sebelum sempat menemukan pegangan. Banyu hanya sempat mendengar Laras berteriak dan merasakan tangan seseorang mencengkeram kain di bahunya.
Mereka jatuh.
Tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuat tubuh mereka menghantam permukaan batu yang dingin.
Banyu terguling.
Punggungnya membentur dinding.
“Ah—!”
Rasa sakit menjalar dari bahu sampai leher.
Di sampingnya, Laras jatuh dengan suara keras lalu segera mengerang.
“Laras?”
“Aku… hidup.”
Suara itu terdengar serak.
Banyu mencoba duduk.
Kegelapan menyelimuti mereka.
Tidak ada cahaya langit.
Tidak ada kabut racun.
Tidak ada sungai hitam yang menggantung di atas kepala.
Hanya kegelapan.
Banyu mengulurkan tangan.
“Laras?”
Tangan lain segera meraih pergelangan tangannya.
“Aku di sini.”
Ia mengembuskan napas lega.
Kemudian sesuatu yang besar jatuh dari atas.
Batu.
Tanah.
Debu.
Banyu refleks menutupi kepala dengan tangan kanan.
Tubuh Baning meluncur melalui celah yang sama, jauh lebih besar daripada mereka, dan menghantam dasar lorong dengan suara yang membuat lantai bergetar.
Setelah itu, terdengar suara retakan berat dari atas.
Baning menutup jalan.
Batu-batu besar bergerak sendiri.
Satu demi satu.
Mereka naik dari dinding dan langit-langit lorong, bergeser dengan lambat tetapi pasti, menyusun diri menjadi kubah batu yang rapat. Tidak ada lagi lubang yang menghubungkan mereka dengan pelataran.
Ketika batu terakhir terkunci, suara gemuruh dari luar mendadak teredam.
Tidak hilang.
Masih ada.
Tetapi jauh.
Sangat jauh.
Seperti badai yang terjadi di balik gunung.
Banyu terdiam.
Laras juga.
Mereka berdua duduk dalam gelap sambil mendengarkan napas masing-masing.
“Dia berhasil,” bisik Laras.
Banyu menoleh ke arah suara Baning.
“Baning?”
Tidak ada jawaban.
Banyu langsung bangkit.
“Baning?”
Tangannya meraba-raba dinding.
Beberapa detik kemudian, sebuah cahaya sangat samar muncul di hadapan mereka.
Bukan cahaya Prana.
Cahaya dari retakan batu di tubuh Baning.
Ia sedang duduk dengan tubuh membungkuk. Kepalanya tertunduk. Napasnya terdengar berat, seperti batu-batu besar bergesekan jauh di dalam bumi.
Laras mendekat.
“Kamu baik-baik saja?”
Baning tidak menjawab segera.
“Aku masih ada.”
Itu saja.
Laras menghela napas.
Banyu melihat ke atas.
Langit-langit batu di atas mereka begitu rapat sehingga tidak ada satu pun cahaya dari luar yang dapat menembusnya.
“Ki Ganggeng?”
“Masih di atas.”
Baning mengangkat kepalanya perlahan.
“Namun ia tidak dapat melihat jalan ini.”
“Dia bisa menghancurkan batu?” tanya Laras.
“Bisa.”
Jawaban itu membuat Laras menegang.
“Kalau begitu—”
“Tidak dengan cepat.”
Baning memejamkan mata.
“Dan bukan tanpa menghancurkan bagian sungai yang juga ia jaga.”
Banyu memahami maksudnya.
Lorong ini bukan sekadar terowongan.
Ini adalah bagian dari Sindhu.
Jalur air purba.
Ki Ganggeng menguasai massa air tercemar, tetapi kekuasaannya tidak berarti ia dapat menghancurkan seluruh jaringan sungai tanpa menghancurkan sesuatu yang masih ia lindungi.
Bahkan di tengah kemurkaan, batas itu masih ada.
Sisa kesadaran seorang penjaga.
Sebuah hukum lama yang belum sepenuhnya mati.
Laras duduk bersandar pada dinding.
Baru sekarang ia membiarkan tubuhnya menunjukkan betapa lelah dirinya.
Kedua bahunya turun. Tangannya masih menggenggam tongkat Ulin, tetapi tidak lagi dalam posisi bertarung. Lumpur mengering di pipinya. Napasnya panjang dan berat.
Banyu memperhatikannya.
“Kamu terluka?”
“Tidak parah.”
“Lengan?”