Kegelapan di dalam Arteri Utara tidak terasa seperti malam.
Malam masih menyimpan kemungkinan adanya cahaya. Bahkan di remang abadi Sindhu, selalu ada sesuatu yang memantul dari lumut, aliran Prana, atau kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan purba. Tetapi kegelapan di lorong ini berbeda. Ia padat, dingin, dan begitu tenang sampai suara napas sendiri terdengar seperti sesuatu yang asing.
Banyu berjalan paling depan bersama Laras, sementara Baning bergerak beberapa langkah di belakang mereka.
Air jernih yang tadi hanya mengalir setinggi mata kaki kini perlahan naik sampai betis. Arusnya tidak deras, tetapi terus bergerak ke arah utara, mengikuti kemiringan lorong batu yang hampir tidak terlihat. Sesekali cahaya keperakan muncul di dasar air, lalu lenyap lagi ketika tertutup bayangan.
Pada awal perjalanan, Banyu masih mengira rasa dingin itu hanya akibat mereka masuk semakin jauh ke dalam tanah.
Ia salah.
Dingin itu bukan berasal dari batu.
Bukan pula dari air.
Ia datang dari sesuatu yang jauh lebih tua.
“Berhenti.”
Suara Baning terdengar dari belakang.
Banyu dan Laras berhenti hampir bersamaan.
“Ada apa?” tanya Laras.
Baning tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya dan menyentuhkan salah satu kakinya ke permukaan air.
“Air berubah.”
Banyu menatap aliran di depannya.
“Berubah bagaimana?”
“Dengarkan.”
Banyu diam.
Pada awalnya ia hanya mendengar tetesan air dari langit-langit. Satu tetes jatuh ke permukaan sungai kecil di bawah mereka. Lalu satu lagi. Kemudian suara langkah Laras yang pelan.
Namun di antara semua suara itu ada sesuatu yang lain.
Sebuah desis.
Sangat halus.
Seperti seseorang menarik napas panjang di balik dinding.
Banyu berlutut dan menyentuh air.
Jarinya langsung terasa mati rasa.
Ia menarik tangan.
“Dingin.”
Laras memandangnya.
“Seberapa dingin?”
“Bukan cuma suhu.”
Banyu menatap telapak tangannya sendiri.
“Airnya seperti… mengingat dingin.”
Laras mengernyit.
“Air bisa mengingat suhu?”
“Entahlah.”
Banyu memandang ke depan.
“Tapi tubuhku merasakannya begitu.”
Baning mengangguk pelan.
“Intuisimu mulai membaca lapisan memori.”
Banyu tidak langsung memahami kalimat itu.
Namun ia tidak bertanya.
Rasa dingin mulai menembus telapak kakinya.
Beberapa langkah kemudian, ia bisa merasakan dingin itu sampai ke tulang betis.
Air yang semula jernih dan mengalir tenang mulai mengeluarkan kabut tipis. Kabut tersebut merayap rendah di atas permukaan air, putih kebiruan, hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan.
Laras mengusap kedua lengannya.
“Kita harus terus?”
“Ya,” jawab Baning.
“Kalau suhunya terus turun?”
“Kita terus.”
Laras mendengus kecil.
“Tentu saja.”
Ia membuka anyaman sederhana yang dibawanya dan mengeluarkan beberapa lembar serat pakis purba yang sudah dikeringkan. Sejak kehilangan hampir seluruh perlengkapan modern mereka, Laras semakin terampil menggunakan apa pun yang tersedia di Sindhu. Ia tidak lagi memandang tumbuhan sebagai sekadar sesuatu yang bisa dimakan atau digunakan sebagai bahan bakar. Ia mulai mengenali mana yang lentur, mana yang menyerap air, mana yang mampu menahan panas, dan mana yang justru menyimpan energi Prana.
Ia mendekati Banyu.
“Angkat tangan.”
Banyu menurut.
Laras melilitkan serat pakis di sekitar lengan kanannya, lalu melewati bahu dan punggung. Beberapa lapis ia susun di sekitar dada.
“Ini buat apa?” tanya Banyu.
“Menahan dingin.”
“Pakis bisa?”
“Tidak sepenuhnya.”
Laras mengikat simpul terakhir.
“Tapi setidaknya tidak membiarkan panas tubuhmu langsung hilang.”
Kemudian ia melihat lengan kiri Banyu.
Luka bakar akibat minyak hitam Panglima Buaya Jelaga membuat bagian kulit di sekitar siku dan lengan bawah masih kemerahan gelap. Beberapa garis hitam dari Pasak Karma terlihat samar di antara luka itu.
Laras menyentuh pembalutnya.
“Yang ini jangan terlalu ketat.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak sedang tanya.”
Banyu tersenyum tipis.
Laras kemudian membalut lengan kirinya dengan lapisan pakis yang lebih longgar.
“Kalau air masuk ke luka, bilang.”
“Kalau sakit?”
“Bilang juga.”
“Bukannya tadi kamu bilang aku tidak harus terlihat kuat?”
“Betul.”
Laras menatapnya datar.
“Jadi sekarang jangan sok kuat.”
Banyu mengangguk.
Baning memperhatikan mereka dari belakang.
Ia tidak berkomentar.
Mereka kembali berjalan.
Lorong semakin sempit.
Dinding-dindingnya mulai berubah warna. Batu cokelat keabu-abuan yang sebelumnya mendominasi kini perlahan berubah menjadi putih pucat. Lapisan tipis es tumbuh di antara retakan. Mula-mula hanya sebesar kuku. Kemudian sepanjang lengan. Di beberapa bagian, kristal air menggantung dari dinding seperti kaca yang tumbuh secara alami.
Banyu mengulurkan tangan.
Jari-jarinya hampir menyentuh salah satu kristal.
“Jangan.”
Baning memperingatkan.
Banyu berhenti.
“Kenapa?”
“Itu bukan es biasa.”
Banyu menatap kristal tersebut.
“Memori?”
“Sebagian.”
Baning bergerak mendekat.
Cahaya biru perlahan muncul dari dalam kristal.
Dan saat cahaya itu menyala, Banyu melihat sesuatu.
Bukan dengan mata.
Dengan ingatan yang bukan miliknya.
Air.
Laut yang begitu luas sampai tidak ada daratan di cakrawala.
Di dalamnya hidup makhluk-makhluk asing yang tidak pernah ia kenal. Tubuh mereka berlapis cangkang. Beberapa memiliki kaki berjumlah terlalu banyak. Ada yang berenang dengan gerakan seperti daun. Ada pula yang berdiam di dasar laut, membangun koloni karang raksasa yang membentuk benteng-benteng hidup.
Semuanya bergerak.
Semuanya tumbuh.
Semuanya mengambil.
Kemudian laut berubah.
Banyu tersentak mundur.
Napasnya tercekat.
Cahaya biru di kristal padam.
Laras langsung menangkap bahunya.
“Apa?”
Banyu menelan ludah.
“Aku melihat laut.”
“Laut?”
“Bukan laut seperti sekarang.”
Baning mengangguk.
“Karena itu bukan sekadar fosil.”
Laras mendekati dinding.
Kini ia memperhatikannya dengan lebih teliti.
Di balik lapisan es transparan, ada bentuk-bentuk yang membeku di dalam batu.
Sebuah trilobit.
Tubuhnya terlipat di antara lapisan mineral.
Di sebelahnya terdapat struktur seperti kipas.
Karang purba.
Lebih jauh lagi ada fosil organisme kecil yang bentuknya tidak dikenal Laras.
Semuanya memancarkan pendaran biru.
“Ini benar-benar fosil,” bisik Laras.
“Dan memori.”
Baning menunjuk salah satu trilobit.
“Arteri Utara tidak hanya mengalirkan air.”
“Lalu apa?”
“Ingatan.”