Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #34

Lautan Memori Ordovisium

Tidak ada lagi lorong.

Kalimat itu terdengar sederhana di dalam kepala Banyu, tetapi tubuhnya membutuhkan beberapa detik untuk mempercayainya.

Ia melangkah keluar bersama Laras dan Baning, lalu berhenti.

Di hadapan mereka terbentang lautan.

Bukan sungai bawah tanah. Bukan gua. Bukan pula genangan luas yang bisa disebut danau. Yang terbentang di bawah remang es abadi itu adalah samudra yang begitu luas hingga ujungnya tidak terlihat, membeku dalam satu keheningan yang terasa lebih tua daripada ingatan manusia.

Permukaannya berupa hamparan es bening kebiruan yang membentang sampai ke batas kabut. Tidak ada cakrawala yang benar-benar jelas. Langit dan laut seperti telah dilebur menjadi satu bidang pucat, dipisahkan hanya oleh kabut putih yang bergerak lambat. Pilar-pilar es raksasa menjulang dari permukaan samudra, beberapa setinggi bukit, beberapa bahkan menembus lapisan kabut di atasnya. Bentuknya tidak beraturan. Ada yang menyerupai tombak, ada yang seperti akar pohon terbalik, dan ada pula yang melebar seperti menara kristal yang tumbuh dari dasar laut.

Di dalam pilar-pilar itu, sesuatu bergerak.

Laras tidak langsung menyadarinya.

Ia masih terpaku pada luasnya tempat itu.

“Ini...” suaranya nyaris tidak keluar. Napasnya berubah menjadi kabut tipis yang segera diserap oleh udara dingin. “Ini laut?”

Baning berhenti di samping mereka. Tubuh batu tuanya tampak semakin kecil di hadapan bentangan putih-biru itu.

“Bukan laut yang masih hidup,” jawabnya.

Banyu menatapnya.

Baning menggerakkan kepalanya perlahan ke arah samudra beku.

“Ini laut yang mengingat.”

Kalimat itu membuat Laras menelan ludah.

Ia menatap kembali ke bawah kakinya.

Barulah ia melihat sesuatu di balik es.

Mula-mula hanya bayangan.

Kemudian bentuk.

Lalu jumlahnya.

Ribuan.

Tubuh-tubuh panjang menyerupai tabung bergerigi membeku di bawah permukaan. Sebagian lurus, sebagian melengkung, sebagian lagi tersusun dalam kelompok seperti kawanan yang pernah bergerak bersama sebelum waktu berhenti. Cangkang-cangkang besar dengan pola spiral dan ruas-ruas panjang memenuhi dasar samudra. Ada yang ukurannya tidak jauh lebih besar daripada lengan manusia, tetapi banyak yang panjangnya mencapai beberapa meter.

Orthoceras.

Laras mengenal bentuk itu dari gambar-gambar fosil yang pernah ia lihat dalam buku dan laporan geologi.

Namun buku tidak pernah menyiapkan seseorang untuk melihat ribuan makhluk itu sekaligus.

Tidak sebagai fosil.

Sebagai kenangan.

“Ya ampun...” bisiknya.

Di antara tubuh-tubuh Orthoceras, berdiri terumbu karang raksasa.

Bukan karang yang biasa ia kenal dari laut modern. Struktur-struktur itu menjulang seperti kota yang dibangun oleh makhluk yang tidak mengenal arsitektur manusia. Pilar-pilar bercabang membentuk labirin, dinding-dinding batu hidup menjulur ke segala arah, dan rongga-rongga gelap di antaranya masih menyimpan bayangan kehidupan yang pernah berenang di sana.

Semuanya sempurna.

Tidak membusuk.

Tidak hancur.

Tidak terkikis.

Mereka hanya membeku.

Seolah seseorang telah mengambil satu detik dari sebuah dunia yang sedang sekarat, kemudian memaksanya tidak pernah bergerak lagi.

Laras berjongkok.

Tangannya perlahan menyentuh permukaan es, tetapi ia segera menariknya kembali karena dinginnya menggigit sampai ke tulang.

“Tidak mungkin,” katanya pelan.

Baning menoleh.

“Yang tidak mungkin?”

“Bentuknya.” Laras menunjuk ke bawah. “Kalau ini benar-benar memori, kenapa semuanya masih utuh?”

“Karena ingatan tidak tunduk pada pelapukan.”

Laras mengerutkan kening.

Baning tidak segera menjelaskan. Ia justru memandang samudra di depan mereka, seakan mencari sesuatu yang hanya dapat dilihat oleh makhluk yang hidup jauh lebih lama daripada sejarah manusia.

“Di dunia kalian,” katanya akhirnya, “sesuatu mati lalu tubuhnya dikembalikan kepada tanah. Waktu memakannya sedikit demi sedikit. Tulang menjadi batu. Batu menjadi pasir. Pasir dibawa air. Nama hilang.”

Ia mengangkat satu kaki batunya dan melangkah perlahan ke atas es.

“Di Sindhu, ada tempat-tempat di mana kematian tidak langsung dilepaskan.”

Banyu mengikuti.

“Untuk apa?”

“Untuk mengingat sebabnya.”

Mereka berjalan beberapa langkah.

Es di bawah kaki mereka begitu bening sehingga Banyu merasa seolah-olah sedang berjalan di atas langit yang terbalik. Setiap kali kakinya menyentuh permukaan, lingkaran cahaya pucat merambat jauh ke bawah, menembus lapisan es dan menghilang di antara tubuh-tubuh purba.

Tidak ada suara retakan.

Tidak ada suara angin.

Hanya bunyi langkah mereka yang teredam, seperti dunia di sini tidak benar-benar mengizinkan suara untuk menjadi keras.

Laras berdiri lagi.

“Jadi ini...” Ia memandang ke sekeliling. “Kepunahan pertama?”

Baning mengangguk.

“Resonansi Pertama.”

Banyu menatap ke bawah.

Ia telah mendengar kisahnya.

Ia tahu angkanya.

Delapan puluh lima persen kehidupan laut musnah.

Ia tahu bahwa lautan kehilangan keseimbangannya, bahwa organisme laut purba menguasai kedalaman tanpa pernah menemukan jalan keluar menuju daratan. Ia tahu tentang nutrisi yang dikonsumsi tanpa batas, karbon yang terkunci, dan air yang perlahan kehilangan napasnya.

Semua itu sebelumnya hanyalah pengetahuan.

Sebuah rangkaian kata yang terdengar seperti sejarah planet.

Tetapi sekarang sejarah itu ada tepat di bawah telapak kakinya.

Banyu perlahan berjongkok.

“Jangan.”

Suara Baning terdengar berat.

Banyu menoleh.

“Kenapa?”

“Belum tentu kau perlu menyentuhnya.”

Banyu memandang tangannya sendiri.

Laras juga memperhatikannya.

Ia tahu Baning bukan sedang melarang tanpa alasan. Sejak pertama kali bertemu makhluk batu itu, ia mulai memahami bahwa setiap tempat di Sindhu memiliki cara sendiri untuk menyimpan luka. Ada tempat yang dapat dilihat. Ada yang dapat didengar. Ada yang dapat dirasakan melalui tubuh.

Dan Banyu semakin sering menjadi wadah bagi semuanya.

Namun kali ini, ia tidak ingin sekadar melihat.

“Aku ingin tahu bagaimana rasanya,” katanya.

Baning diam.

“Banyu,” Laras memperingatkan.

“Aku cuma ingin tahu.”

Ia menempelkan telapak tangannya pada es.

Dingin menyambar.

Bukan dingin biasa.

Tidak seperti air sungai yang menusuk kulit, tidak seperti udara pegunungan yang membuat jari kaku. Dingin ini masuk langsung ke dalam kesadaran.

Dunia menghilang.

Banyu berdiri di tempat yang sama, tetapi sekaligus tidak lagi berada di sana.

Ia mendengar suara.

Tidak ada bahasa.

Tidak ada kalimat.

Hanya tekanan.

Kelaparan.

Sesak.

Lautan.

Begitu luas sampai tidak ada tempat untuk melarikan diri.

Banyu melihat air berwarna biru tua. Ribuan makhluk bergerak di dalamnya. Orthoceras berenang di antara terumbu karang raksasa. Tubuh-tubuh lunak yang tidak ia kenal berputar mengikuti arus. Ada kehidupan di mana-mana.

Terlalu banyak.

Air penuh dengan gerakan.

Penuh dengan kehidupan.

Namun ada sesuatu yang salah.

Banyu tidak tahu kapan ia menyadarinya.

Mungkin ketika ia melihat makhluk-makhluk itu terus memakan.

Atau ketika ia melihat aliran nutrisi yang masuk ke laut kemudian tidak pernah kembali.

Atau ketika warna biru air mulai berubah.

Lebih keruh.

Lebih berat.

Lebih gelap.

Oksigen berkurang.

Sedikit demi sedikit.

Tidak ada satu makhluk pun yang memahami apa yang sedang terjadi.

Tidak ada satu pun yang berhenti untuk bertanya.

Kehidupan terus berjalan karena kehidupan selalu menganggap dirinya harus terus berjalan.

Banyu melihat ikan-ikan purba bergerak lebih lambat.

Melihat organisme dasar laut mulai diam.

Melihat makhluk-makhluk yang tadinya memenuhi air mencari oksigen yang semakin sedikit.

Tidak ada.

Mereka berenang lebih jauh.

Tidak ada.

Mereka bergerak ke atas.

Tidak ada.

Air yang dahulu menjadi rumah berubah menjadi sesuatu yang menutup paru-paru mereka.

Kemudian datanglah keheningan.

Banyu terengah.

Tangannya masih menempel pada es.

Lihat selengkapnya