Dataran Es Karang Purba terbentang di hadapan mereka seperti sisa dunia yang sengaja dibekukan sebelum sempat runtuh.
Banyu berjalan paling belakang setelah Baning, sementara Laras berada di antara keduanya. Langkah mereka perlahan, bukan hanya karena permukaan es licin, tetapi karena setiap meter yang mereka tempuh membawa mereka semakin jauh ke dalam ingatan yang tidak seharusnya dimiliki manusia.
Pilar-pilar es menjulang di kiri dan kanan, sebagian berdiri tegak seperti menara, sebagian miring dan saling bertumpu, membentuk lorong alami yang panjang. Cahaya biru pucat dari dalam es membuat semuanya terlihat seperti berada di dasar samudra yang tidak lagi memiliki air. Di balik lapisan kristal yang transparan, bentuk-bentuk kehidupan purba masih tampak jelas.
Seekor Orthoceras raksasa membeku dalam posisi berenang. Cangkangnya memanjang, beruas-ruas, dengan bagian tubuh lunaknya masih samar terlihat di balik kristal. Tidak jauh darinya, sebuah koloni karang purba membentuk lengkungan besar seperti gerbang kota yang ditinggalkan. Di antara cabang-cabangnya, bayangan makhluk-makhluk kecil masih tertahan dalam posisi bergerak.
Sesekali cahaya bergerak di dalam pilar.
Danyang Karang.
Mereka tidak lagi muncul sebagai sosok yang jelas seperti sebelumnya. Mereka hanya berupa bayangan yang berenang di antara kristal, terkadang mendekat, kemudian menghilang lagi ke dalam kedalaman es.
Mereka mengawasi.
Banyu bisa merasakannya.
Bukan sebagai tatapan yang mengancam, melainkan sebagai perhatian yang berat. Seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak kehancuran dan kini tidak lagi mudah percaya kepada siapa pun yang datang membawa janji.
Baning terus berjalan.
Tubuh batu tuanya meninggalkan jejak cahaya tipis di atas permukaan es. Setiap kali kakinya menekan lantai, kristal-kristal kecil di sekitarnya bergetar halus.
“Jangan terlalu dekat dengan pilar,” katanya tanpa menoleh.
Laras mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena yang tersimpan di dalamnya bukan sekadar tubuh.”
Laras menatap salah satu pilar di sebelahnya.
“Memori?”
“Kesadaran.”
Laras langsung menjauh setengah langkah.
Banyu tersenyum tipis meskipun dadanya masih terasa berat.
Baning memang selalu punya cara membuat sesuatu yang indah terdengar mengerikan.
Mereka melewati sebuah pilar yang begitu besar sampai Laras harus mendongakkan kepala untuk melihat ujungnya. Di dalamnya, seekor makhluk laut dengan tubuh panjang dan rahang yang tidak dikenalnya membeku bersama beberapa organisme kecil yang tampak seperti tanaman.
Laras berhenti.
“Baning.”
Makhluk batu itu tidak langsung menjawab.
“Ya?”
“Kenapa planet harus melakukan ini?”
Baning berhenti.
Laras menunjuk ke dalam pilar.
“Mereka indah.”
Suaranya tidak terdengar seperti pertanyaan ilmiah. Lebih seperti keberatan yang sudah lama mengendap.
“Lihat tempat ini.” Laras menatap ke segala arah. “Mereka punya terumbu. Mereka punya kehidupan yang luar biasa banyak. Mereka membangun ekosistem sendiri. Mereka bukan monster.”
Baning berbalik menghadapnya.
“Mereka memang bukan monster.”
“Lalu kenapa harus dihancurkan?”
Banyu ikut berhenti.
Ia tahu pertanyaan itu bukan cuma milik Laras.
Sejak melihat Lautan Memori Ordovisium, ia juga memikirkan hal yang sama. Ia telah merasakan bagaimana makhluk-makhluk itu mati. Ia telah merasakan kepanikan mereka ketika oksigen menghilang dari air.
Tetapi mengetahui bahwa mereka gagal tidak membuat kematian mereka terasa lebih ringan.
Baning memandang mereka berdua cukup lama.
“Karena planet tidak menilai kehidupan dari keindahannya.”
Laras mengernyit.
“Lalu dari apa?”
“Dari keseimbangannya.”
Angin dingin melintas di antara pilar-pilar.
Tidak benar-benar terasa sebagai angin. Lebih seperti aliran energi yang melewati tubuh mereka.
Baning melanjutkan langkah.
“Dulu, lautan adalah dunia terbesar yang dikenal kehidupan. Ia menjadi tempat segala sesuatu tumbuh. Kehidupan berkembang, jumlahnya meningkat, dan keberhasilan itu membuat mereka tidak lagi mengenal batas.”
Laras mengikuti.
“Mereka terlalu banyak?”
“Bukan sekadar terlalu banyak.”
Baning menatap ke bawah permukaan es.
“Mereka mengambil tanpa mengembalikan.”
Banyu memperhatikan aliran tipis di bawah lapisan es yang tadi mereka temukan. Air jernih itu masih bergerak ke arah utara.
“Bukankah itu yang dilakukan semua kehidupan?”
“Dalam batas tertentu.”
Baning melangkah melewati sebuah retakan tua yang membeku di permukaan.
“Seekor hewan memakan tumbuhan. Tumbuhan mengambil mineral dari tanah. Mineral kembali ke tanah ketika tubuh membusuk. Air membawa sebagian ke sungai. Sungai membawanya ke laut. Laut mengembalikan sebagian kepada daratan.”
Ia berhenti.
“Itu sirkulasi.”
Banyu mengangguk.
“Masalah muncul ketika sesuatu mengambil lebih cepat daripada dunia mampu mengembalikannya.”
Laras memandangi es.
“Dan mereka melakukan itu?”
“Terus-menerus.”
Baning mengangkat kepalanya.
“Karena mereka berhasil.”
Laras terdiam.
Baning menatap pilar-pilar yang menjulang di sekeliling mereka.
“Keberhasilan adalah salah satu ujian paling sulit bagi kehidupan. Saat makhluk hidup gagal, ia biasanya belajar. Ia terpaksa berubah. Ia terpaksa mencari cara baru untuk bertahan.”
Ia mengetukkan satu kaki ke lantai es.
“Namun ketika sebuah spesies menjadi terlalu dominan, ia dapat hidup cukup lama tanpa pernah merasa perlu berubah.”
Banyu merasakan sesuatu bergerak dalam pikirannya.
“Stagnasi.”
Baning mengangguk.
“Hukum Stagnasi Pertama.”
Laras menatapnya.
“Jelaskan.”
“Spesies yang menolak beradaptasi, tetapi terus mengeruk nutrisi dari lingkungannya, pada akhirnya akan mengubah lingkungannya menjadi sesuatu yang tidak mampu lagi menopangnya.”
Baning berjalan lagi.
“Lalu planet merespons.”
“Dengan kepunahan?” tanya Banyu.
“Dengan antibodi.”
Kata itu terdengar aneh di tengah lautan es.
Laras menyipitkan mata.
“Antibodi planet?”
“Anggap saja demikian.”
Baning menunjuk samudra beku di bawah mereka.
“Pembekuan Agung bukan sekadar cuaca buruk. Ia adalah respons. Ketika keseimbangan tidak dapat dipulihkan dari dalam sistem kehidupan itu sendiri, planet memutus sistem tersebut.”
Laras terdiam cukup lama.
Mereka terus berjalan di antara pilar-pilar es.
“Jadi planet membunuh mereka supaya kehidupan lain bisa berkembang?”
“Ya.”
Jawaban Baning begitu sederhana hingga justru terasa kejam.
Laras menghela napas.
“Berarti planet tidak peduli.”
Baning berhenti.
“Tidak.”
“Tidak peduli?”
“Planet tidak memiliki kewajiban untuk memihak satu spesies.”
Banyu menatap Baning.
Makhluk batu itu berbicara tanpa emosi, tetapi bukan karena ia dingin. Justru sebaliknya. Ada kesedihan yang sangat tua dalam suaranya.
“Planet menjaga keberlangsungan kehidupan. Bukan keberlangsungan satu bentuk kehidupan.”
Kalimat itu menetap di kepala Banyu.
Ia memandang Orthoceras yang membeku di bawah kakinya.
Selama ini, ia selalu membayangkan kepunahan sebagai akhir.
Sesuatu mati.
Sesuatu hilang.
Lalu dunia bergerak maju.
Tetapi Sindhu memperlihatkan hal yang berbeda.
Kepunahan juga merupakan keputusan ekologis.
Bukan keputusan yang baik.
Bukan keputusan yang menyenangkan.
Namun keputusan untuk memutus sebuah pola ketika pola itu telah menjadi ancaman bagi seluruh sistem.
Laras berjalan dengan wajah murung.
“Jadi mereka tidak diberi kesempatan?”
“Mereka sudah diberi kesempatan.”
“Berapa lama?”