Resonansi Luka

Luminaminalu
Chapter #1

HITUNGAN MUNDUR

Jakarta, Juli 2011 ...

​Hujan yang tampias dari atap Halte UIN membuat kertas komik Detective Conan yang baru terbuka segelnya itu mengerut. Namun, lirikan pada jam tangan jauh lebih menyita perhatian ketimbang komik di tangannya.

​Seketika plester kecil yang menempel di lutut mulai terasa dingin, padahal sudah diganti dengan yang baru pagi tadi. Ia menarik rok hitamnya dari lantai halte yang basah, menaikkannya sedikit hingga batas dengkul sambil membungkuk membelakangi orang di sebelahnya.

​Ujung jarinya menekan pinggiran perekat itu, menjaga agar tetap menempel kuat meski kulit di bawahnya sudah lama tidak merasakan udara.

​Sambil terus mengusapnya, pikiran yang sama setiap dua tahun terakhir ini seketika berputar di kepala: selama ini aku capek mengalah, berharap dia berubah. Tapi sekarang aku tidak tahu mana yang lebih melelahkan; bertahan atau pergi.

Sementara itu, getaran yang terasa di balik saku memancarkan kedip merah samar menembus kain yang menampilkan notifikasi BlackBerry, satu-satunya pesan yang datang menyapa pagi itu.

[Rio: Good luck ya Nara buat tes ujian UIN-nya hari ini. Awas ya sayang kalo sampe enggak lolos, 'hadiahnya' tetep yang itu!]

Nara tersentak. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Saat mengintip lagi, barisan pesan singkat itu tak bergeser satu huruf pun. Kini, tiang halte UIN yang kokoh di sebelahnya menjadi tumpuan akhir kepala yang terasa penuh itu.

"Ra, maaf banget, nyokap ribet banget, gue mau ujian aja persiapannya udah kayak mau perang," ucap Lila setelah turun dari angkot, tangannya langsung sibuk melipat payung dan botol minum yang Lila pegang. "Tumben lo dateng lebih cepet dari gue?"

"Kan mau ujian, Lil," jawab Nara langsung berdiri dan menutup komik yang ia baca tadi.

"Ra, lo sakit? Lemes banget?" tanya Lila menatap serius ke wajah Nara.

​"Cuma capek aja gue begadang semaleman belajar." Nara mengalihkan pandangan, menendang batu kecil di depan sampai hilang dari jangkauan sepatunya.

Keningnya mengerut sejenak, Lila tampak menimbang sesuatu. "Eh, lo udah ada rencana kalau kita enggak keterima di UIN, Ra? Nyokap kayaknya udah nentuin hidup gue seratus tahun ke depan. Kalau enggak lulus, gue wajib bimbel. Kudu banget Negeri, titik. Enggak mau tau pokoknya."

Nara tidak langsung menjawab. Ia menunduk sebentar, "Palingan UHAMKA aja. Kuliah mah dimana aja gue, yang penting tetep Psikologi. Ngincer Negeri biar... ya, biar gratisan aja, gue enggak mau sampe kejadian IPB keulang lagi."

​"Oh, masih ngincer itu? Ngebet banget sih di Psikologi," tanya Lila sambil menoleh ke arah Nara. "Eh, tapi gue mau dong ikut Bidikmisi1 juga, itu caranya gimana? Barengan, ya?" lanjutnya.

​"Bisul kali ah, ngebet," Nara menyenggol bahu Lila sambil nyengir. "Ya, entar gue cari tahu dulu infonya di warnet," pungkas Nara.

Melihat peserta lain masuk ke gedung yang berdiri megah di hadapannya, Nara menarik tangan Lila mengikuti arus peserta untuk ke lantai atas tanpa perlu banyak bicara.

Nara menyisir setiap pintu di sepanjang lorong kampus, mencoba menemukan ruang ujiannya dan ruangan Lila. Ia mencocokkan nomor dari pintu satu ke pintu lainnya dengan kartu peserta bertuliskan Ujian Mandiri Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2011.

Papan nomor di ambang pintu itu menunjukkan bahwa ruang ujian mereka bersebelahan. Lila berpaling cepat hingga rambut lurusnya terayun, memperlihatkan cekungan lesung pipit yang dalam. Ia sibuk menunjuk-nunjuk teras balkon, memberi isyarat untuk berkumpul di sana jika salah satu dari mereka selesai lebih dulu.

Setibanya di ruang ujian yang sudah hening itu, Nara tertunduk. Langkahnya lebar-lebar membelah barisan meja yang sudah penuh, menuju satu-satunya kursi kosong yang tersisa di ujung ruangan.

Di atas mejanya sudah tergeletak modul soal, lembar jawaban, dan selembar kertas kosong. Ia segera meletakkan ranselnya di sandaran kaki kursi besi, tapi pesan BBM dari Rio pagi tadi tentang 'hadiah' itu tidak juga ikut terhempas.

Lihat selengkapnya