Resonansi Luka

Luminaminalu
Chapter #2

WAJAH YANG DIKENAL

H-3 Sebelum Pengumuman UIN ...

"Kok, tumben banget kamu ngajak makan di sini?" Nara bertanya sambil sedikit menjinjit, menghitung gilirannya. "Kayaknya kita belum pernah makan di sini."

Bahu orang di depannya hanya bergeser satu senti sejak sepuluh menit berlalu, memaksa kedua kaki Nara tetap menumpu di sana. Ia menekan selembar tisu untuk menyeka butiran peluh yang sudah menggelitik kumis tipisnya.

Punggung Rio yang lebih tinggi dua puluh senti dari kepala Nara itu, cukup menyelamatkan kulit putihnya dari terik matahari yang memancar.

"Kak Mira ngidam, pengen makan mi ayam di sini, jadi sekalian aja kita makan," jawab Rio sambil mencari tempat duduk. "Lagian kamu kan yang pilih-pilih makanan. Kalau aku tanya, jawabnya pasti terserah."

Tisu yang setengah basah itu seketika lecek karena genggaman tangan Nara yang tiba-tiba saja mengerat setelah mendengar kehamilan Kak Mira. Ia mengepalkan tisu rusak itu di dalam saku jaketnya, menahan diri agar tidak bergerak meski plester di dengkulnya mendadak terasa tidak nyaman.

"Daripada kamu capek berdiri, aku antre aja ya. Kamu cari tempat duduk dulu, sayang."

Baru selangkah Nara menjauh, suara Rio kembali menyusul, memaku posisinya di atas lantai kayu yang berdecit.

"Ra, kamu kenapa, sih? Kayaknya udah jarang banget manggil aku 'Sayang'? Kan aku udah bilang, kalau enggak ada 'Sayang'-nya, jatah hadiah kamu ke aku bakal numpuk, lho," goda Rio.

Nara tak langsung menjawab, lebih memilih melihat antrean yang masih mengular di belakang Rio.

"Udah ada yang antre lagi. Aku cari tempat dulu ya, ntar makin rame... Sayang," ujarnya, berusaha terdengar senatural mungkin.

Tepat saat membalikkan badan, Nara mengincar satu bangku kosong di dekat pintu keluar. Sebelum pengunjung lain menyadari celah itu, Nara sudah lebih dulu memacu langkah, nyaris berlari seolah sedang berlomba dengan orang lain yang juga mendekati kursi itu.

Sukses mengamankan tempat, Nara duduk di bawah kipas angin dinding yang baling-balingnya sudah penuh kepulan debu. Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi, melambai pada Rio yang bahunya tampak menjulang menembus kerumunan orang yang sedang celingukan itu.

"Ra, Dika udah transfer 20 juta yah ke rekening kamu dia beli 5 BB Bold2 katanya, Ra." ucap Rio yang duduk di hadapannya saat sedang menunggu pesanan Mi Ayam Jakarta di sekitar Roxy.

"Oh, dia jadi order ya, mantep juga dia bantuin kita jualan. Yaudah nanti abis kita makan transfer aja ke supplier, nih dia udah kasih totalan juga," jawab Nara, masih berkutat pada angka-angka di layar ponselnya.

"Terus pengumuman UIN kamu kapan?"

Mendengar pertanyaan itu, siku Nara terlepas dan menyenggol sendok di sampingnya hingga jatuh berantakan sebelum sempat ia mengambilnya.

"Maaf, maaf," Nara menyahut sembari membereskan sendok dan garpu yang berhamburan. Ia meletakkannya kembali ke tempat semula satu per satu. "Masih tiga hari lagi pengumumannya," lanjutnya.

"Kamu ngapain sih, Ra?" Rio bertanya seraya menarik kursi di hadapan Nara.

"Iya, ini aku beresin dulu. Maaf, maaf," balas Nara sambil terus menunduk, merapikan meja dengan gerakan yang tampak buru-buru.

"Nanti kamu langsung aja tungguin aku di deket kos kamu, warnet biasa."

"Warnet Corenet?" Nara mendongak, menunggu anggukan konfirmasi dari Rio.

"Iya, hafal banget." Rio mengangkat satu alisnya, memberi penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan. "Jangan-jangan kamu masih sering main gim ke sana, ya?"

Pertanyaan Rio tenggelam di balik kepulan uap mi ayam yang baru saja tersaji. Bukannya meraih sumpit, Nara justru tetap membungkuk menghadap ponsel demi menyunting sebuah catatan di sana. Kalimat 'Hari pengumuman UIN' pun berubah dengan cepat menjadi 'Hari penentuan keputusan'.

"Eh ini kira-kira kita transfer aja duitnya ke supplier di Batam ini aman enggak, yah?" ucap Rio. Pelipisnya melipat, menerawang ke arah langit-langit kedai Mi Ayam. "Aku soalnya ngecek di FB-nya kayak aneh gitu," sambungnya.

"Aneh gimana?" jawab Nara, mulutnya penuh dengan suapan mi ayam.

"Masa iya yang ini harganya semurah itu? Harga normalnya aja kan empat jutaan, Ra. Ini cuma satu juta, lho," sangsi Rio.

"Tapi kan kita udah pernah transaksi sama dia, dan bener dikirim, waktu itu kita beli 1 kan?" ujar Nara yang berbicara sedikit meyakinkan Rio. "Dika juga bilang hp-nya udah nyampe kan?"

"Iya, sih. Ya sudahlah." Rio menunjuk mangkuk Nara dengan ujung sumpitnya. "Itu kamu makan enggak habis?"

"Enggak... aku udah kenyang," pungkas Nara.

Bilik ATM di seberang jalan itu menyita seluruh perhatian, membuat Nara tak lagi memedulikan Rio yang masih sibuk mengunyah mi ayam menghabiskan miliknya, sementara tangannya masih mendekap ponsel yang menunjukkan pertambahan saldo di SMS banking. Bersamaan dengan itu, cantolan motor sudah terisi satu kantong mi ayam pesanan Kak Mira.

Begitu motor terparkir di seberang kedai, Nara langsung menghampiri mesin ATM dan mentransfer lima belas juta rupiah yang sudah sukses berpindah dari saldonya ke rekening supplier di Batam. Satu pesan pun dikirim pada BBM mengakhiri urusan transfer Nara, tepat sebelum ia menaiki jok motor.

Angin mulai menerpa wajah ketika jarum speedometer menunjukkan angka enam puluh di jalur menanjak. Upaya Nara mengenakan helm mendadak buyar ketika genggamannya meregang. Helm itu meluncur jatuh, mendarat dengan suara benturan keras di tengah jalan.

"Maaf, maaf, aku enggak sengaja," ucap Nara dengan lesu.

"Kamu gimana, sih, Ra? Ngapain aja? Ambil helmnya!" bentak Rio.

"Aku yang ambil? Kamu kan tahu aku nggak bisa nyeberang," sahut Nara tanpa melepas pandangan dari helmnya yang tergeletak di tengah jalan.

"Kan kamu yang jatuhin, masa aku yang ambil? Ya, kamu yang ambil, lah!" Rio tetap bersikeras, tak beranjak dari motor.

Lihat selengkapnya