Sudah berulang kali getaran ponsel mengirim dengung halus di atas kasur Nara. Di sana, ia hanya bisa merasakan sisa getar BlackBerry itu dalam pelukan kedua lututnya. Begitu dering berhenti, satu pesan BBM menyala di layar.
[Rio: Aku jemput kamu sekarang, pagi tadi Dika tiba-tiba dateng ke rumah aku ngomong sama kakak aku, ini dia nunggu di Sevel4 mau ngomong sama kamu juga.]
Belum selesai otaknya memproses sisa rasa dingin di taman semalam, getaran ponsel itu terasa seperti tangan yang ingin mencengkeram bahunya kuat-kuat dan menariknya kembali pada Rio.
Selembar formulir pembayaran IPB5 ikut terseret saat Nara menarik bajunya dengan asal. Tulisan Belum Terbayar di sana sempat tertangkap matanya sebelum ia menyambar kertas itu kembali. Dengan terburu-buru, ia menyelipkan formulir itu ke dasar lemari, jauh di bawah tumpukan pakaian yang lain.
Setelah tiba di Seven Eleven Roxy, Nara dan Rio duduk bersebelahan di kursi besi, punggung keduanya tidak menyentuh sandaran. Di sekelilingnya orang-orang datang dan pergi sambil tertawa. Ia mengamati salah satunya sebentar sebelum kembali ke wajah Dika sambil menggigit-gigit ujung sedotan plastik minuman itu.
"Langsung aja lah yah, gue buru-buru juga." Dika minum sebentar. "Tadi pagi, Gue ke rumah Rio, udah gue ceritain juga ke keluarga Rio," ucap Dika dengan suara lembut selagi memutar tutup botol minumnya.
Sedotan plastik milik Nara sudah tak berbentuk. Bekas gigitan yang dalam membuatnya mengkerut hingga benar-benar pipih, memutus aliran air, ia tak lagi meneguknya dengan penuh.
"Gue juga udah denger semua ceritanya dari Rio. Ya... gue juga enggak mau kalian lepas gitu aja." Dika mencondongkan bahunya lebih dekat sebelum melanjutkan. "Terserah yah kalian mau uang dari mana, yang jelas... gue cuma mau duit semua customer gue balik."
"Aku minta maaf banget ya, Kak. Waktu itu aku sama Rio juga syok pas tau kena tipu. Aku sama Rio bakal secepatnya cari cara untuk kembaliin semua uang itu," ujar Nara yang hanya bisa melihat alis tebalnya Dika.
"Ya terserah kalian aja sih, gue kasih waktu tiga hari. Kalo enggak ada kejelasan, kita ke hukum aja."
"Yaudah gini aja, secepatnya gue kabarin nanti. Gue omongin dulu sama Nara." Rio menjawab dengan nada yang sama tenangnya.
Botol air mineral itu terasa semakin dingin di telapak tangannya. Tidak ada yang bisa ia bantah dari kalimat Dika barusan. Sampai ke hukum pun pasti Rio dan Nara yang salah.
"Kalo gitu gue cabut duluan ya, kabarin gue aja nanti."
"Lo langsung balik?" tanya Rio.
"Ke kampus dulu gue bentaran, ngambil ijazah."
Punggung Dika menjauh, hanya menyisakan kursi kosong di hadapan mereka.
"Itu si Dika kenal sama Amel juga? Kan kalian satu kantor?"
"Kami satu kampus, Dika sama Amel junior."
"Dika sih aku tau, Amel aku baru tau, ya?"
"Masih mau dibahas sampe kapan?"
"Aku ke kamar mandi dulu bentar," pungkas Nara, langkahnya berjalan menuju toilet terasa kaku, seperti banyak sesuatu yang menggantung tapi tak bisa ia susun rapi di kepalanya.
Di depan cermin kamar mandi itu, ia mengusap wajahnya dengan kucuran air keran dan mengibas-ngibaskan tangannya yang masih basah, sambil mengikat ulang rambut panjangnya ala kadarnya. Pikirannya sudah jauh ke depan, Nara sadar waktu itu ia tak mengecek lebih jauh kebenaran penjual di Batam.
Kali ini angka dua puluh juta milik customer Dika sudah menempel di kepalanya, ia membagi setengah dengan Rio, sepuluh juta bagiannya. Di catatan ponselnya, ia mengetik daftar barang yang bisa ia jual cepat. Tapi tak juga sampai menyentuh angka sepuluh juta.
Genggaman ponselnya mengencang, sesak di dadanya semakin menghimpit, jika bisa teriak sekencang-kencangnya ia sudah melakukannya sejak tadi.
Meja itu tampak bermil-mil jauhnya. Di sana, botol air mineral milik Nara masih menyisakan setengah isi yang sudah tak lagi nampak butiran air menempel di kemasannya. Ia duduk, dan baru ingat bahwa di balik angka sepuluh juta itu masih ada biaya kuliah yang harus ia tabung untuk mengejar masuk UHAMKA di tahun ini.
"Jadi gini, Ra. Sebelum kesini, aku sempet ngobrol sama kakakku. Dia bisa bantuin kita."
"Kak Mira? Kak Mira mau bantuin gimana maksudnya?"
"Dia bisa pinjem uang koperasi di kantornya, nanti kita bayarnya cicil 1 juta perbulan kira-kira."
Nara masih menyimak sambil mengelap-ngelap telapak tangan yang masih sedikit lembab dengan kaosnya.