Bintaro, Juli 2011 ...
Lagu Peterpan sudah hampir satu album mengalun dari speaker kecil di sudut meja sejak jam satu siang di kontrakan jalan Sarmili Bintaro, demi menemani Arka yang sejak tadi sibuk menyetrika pakaian di ruang tengah.
Baju yang baru saja selesai disetrika dilipat satu per satu, masih hangat di telapak tangan Arka. Sambil menyampirkan handuk di bahunya, ia menyelipkan baju itu di tumpukan paling bawah agar yang lama kebagian dipakai lebih dulu.
Sementara itu, tumpukan piring di dapur beres dalam hitungan menit di tangan Arka, kucuran keringat di wajahnya membuat siapa pun mungkin mengira ia baru saja menghabiskan setengah hari untuk pekerjaan yang menguras tenaga.
Suara mesin Sanyo7 yang berisik seketika memecah sunyi saat Arka mencolok colokan air di bawah wastafel. Sambil menunggu bak penuh, pandangannya tertuju pada sudut rak berlumut tempat botol sabun cuci muka yang sudah digunting sejak dua hari lalu tampak menganga. Seolah botol itu pasrah isinya dikerok habis untuk terakhir kali.
Begitu bilasan terakhir tuntas dan suara gemericik air mereda, Arka mendongak menatap cermin kamar mandi yang hanya mampu membiaskan wajah ovalnya secara samar. Ia lantas memamerkan senyum tipis andalannya. Senyum yang kata orang-orang mirip Lee Min Ho, meski kata mereka juga, kemiripan itu baru sah kalau dilihat pakai teropong dari jauh.
Cuma gue doang kayaknya baru putus bisa ganteng begini di kaca. Masa iya enggak ada cewek yang bertahan?
Waktu SMA, Bela bilang Arka terlalu kaku, hubungannya bertahan hanya lima hari. Masuk kuliah tingkat satu, Dea hanya bertahan tiga hari sebelum menghilang tanpa kabar. Tiap kali Arka coba dekati di kampus, Dea sudah lebih dulu memutar mengambil jalan berlawanan. Bahkan tujuh hari lalu, Sarah mengakhiri semuanya lewat pesan singkat yang isi kalimatnya masih terus tinggal diingatannya.
[Sarah: Maaf, kita putus aja ya, kamu garing banget.]
Kalimat pemutus hubungan itu masih tersimpan rapi, tertahan di dalam kotak masuk Nokia X28 miliknya seolah enggan untuk dihapus. Sesaat setelah kabar putus itu tersebar tujuh hari lalu, seorang teman di kampus langsung menudingnya dengan sebutan 'Playboy'. Tanpa sadar, sorot mata tajam Arka sore itu sudah jadi peringatan keras bagi si pengucap kata tersebut.
Tanpa membuang kata untuk beradu mulut, ia langsung melajukan motornya ke kosan sang mantan dan mengucapkan satu kata yang masih tersimpan di ujung lidahnya.
Balikan.
Sialnya, sore itu Arka justru pulang dengan penolakan yang terasa lebih dingin dari air bak mandinya sekarang ini.
Ketika masuk ke kamar masih mengenakan handuk di pinggangnya, satu postingan dari admin grup Detective Conan muncul di baris paling atas, memamerkan daftar panjang berisi nama-nama anggota yang baru saja bergabung. Di bawahnya, kolom komentar sudah penuh dengan sambutan selamat datang silih berganti dari anggota lain, persis seperti saat Arka bergabung tiga hari lalu.
Begitu selesai mengenakan pakaian dan sibuk merapikan rambutnya, suara bising dari acara kuis di TV ruang tengah mendadak meninggi, menembus celah pintu kamar yang masih terbuka lebar. Namun, Arka tetap bergeming di depan laptopnya, asyik menelusuri daftar nama member baru yang satu per satu terbuka dalam tab baru. Ia sempat tertahan pada akun bernama Fiki yang hanya memajang siluet senja dari kejauhan, sebelum akhirnya kursor itu berpindah ke nama Sheila-yang ternyata cuma menampilkan seekor kucing putih berbulu lebat.
Guliran layarnya tertahan pada profil ketiga milik Nara, sebuah foto yang memamerkan empat gadis dengan pose ceria, di mana sosok wanita di tengah seketika mencuri seluruh fokusnya, menariknya seperti magnet hingga membuat senyum simpul mengembang begitu saja di wajah Arka.
Sampai akhirnya ledakan tawa kakak sepupunya dari ruang tengah menyambar telinga dan memutuskan tarikan magnet itu secara paksa, membuat Arka refleks menyambar gagang pintu, menutupnya sesenyap mungkin hingga keriuhan di ruang tamu meredup.
Belum sempat tubuhnya rebahan lagi di kasur, ketukan kasar pintu kamar seketika membuat Arka tersentak.
"Kamu ngapain ngunci-ngunci kamar?" Suara kakak sepupunya melengking dari balik pintu.
"Enggak apa-apa," jawab Arka cepat, tangannya refleks menjauhkan laptop dari jangkauan pandangan pintu.
"Buka aja pintu kamar, ngapain sih dikunci-kunci."
Ada rasa sesak yang tak asing ikut muncul, menariknya kembali pada kesadaran bahwa sesuatu yang ia anggap miliknya tak pernah benar-benar bertahan lama, sementara cahaya redup lampu kamar menyorot tubuhnya yang perlahan meringkuk memeluk guling demi menahan sesak yang kembali memenuhi dada.
Segala keresahan yang selama ini dipendamnya seolah ingin tumpah hingga kepedihan itu tak tertanggungkan lagi, membuat pelukannya pada guling semakin mengencang begitu bayangan foto Nara tadi kembali melintas di pikiran.