Resonansi Luka

Luminaminalu
Chapter #5

RASA YANG BERGANTI

Sambungan telepon itu akhirnya terhubung, membawa suara berat Bapak yang langsung menyapa. Seketika itu juga, napas Nara terasa pendek dan berat, seolah udara di sekitarnya mendadak hilang.

​"Nara udah transfer semalem duitnya, beli barang di mana?"

"Di Tangerang, sekalian langsung ada yang mau beli, jadi Bapak bisa langsung ganti duit kamu," suara Bapak di seberang sana terdengar buru-buru.

"Enggak usah, pegang aja duitnya, mana tau ada barang lagi," ucap Nara, jemarinya masih di atas keyboard. "Kan jauh banget dari Bogor ke Tangerang naik motor, umur udah 50an berasa kayak 30an?" Nara tertawa kecil.

"Kamu di Jakarta udah ada rencana mau ngapain?"

​Nara tertegun, lidahnya mendadak kelu. "Cari kerja atau nyoba buka bisnis kecil aja dulu sambil nungguin SNMPTN tahun depan," jawab Nara kikuk. "Pak yang soal ujian di UIN."

​Terdengar helaan napas pendek dari ujung telepon sebelum Nara selesai bicara "Ya, enggak apa-apa kalau belom lolos, yang penting kamu udah punya rencana mau ngapain di Jakarta."

​Nara tidak menjawab. Ia menunduk, sibuk mengikis pinggiran meja kayu dengan ujung kukunya yang gemetar.

​"Bapak cuma mau bilang, kamu pulang aja lah dulu. Emangnya kamu masih ada duit?" sambungnya.

​"Masih," jawab Nara singkat, tangannya mulai mengumpulkan serpihan kayu meja di telapak tangan. "Lagian susah kalau mau gerak di Bogor, akses dari rumah ke jalan raya jauh banget."

"Kuliah aja deket rumah, banyak kampus di sini."

"Iya, tapi jurusan Psikologi-nya di Bogor sedikit, lebih banyak pilihan di Jakarta."

​"Yaudah, Nanti Bapak coba tanyain temen Bapak di Jakarta, barangkali ada lowongan," sahut Bapak. Hening sejenak, sebelum suaranya kembali terdengar. "Coba tanya Rio juga, di kantornya ada posisi kosong tidak?"

​"Iya, nanti Nara tanyain. Ya udah, Nara tidur dulu, ya. Nanti dikabari lagi kalau ada apa-apa."

Setelah sambungan telepon itu terputus, Nara hanya sanggup menatap layar ponsel yang perlahan menggelap. Ia tahu itu pilihan paling logis, tapi justru hal itu yang paling ingin ia hindari.

Nara tak bisa membayangkan harus memberitahukan masalah hidupnya sekarang, apalagi dengan hubungannya dan Rio yang sudah tinggal kenangan. Selama ini, Rio adalah satu-satunya alasan Bapak dan Mama melepasnya di Jakarta.

Mengakui bahwa hubungannya sudah kandas sama saja dengan menyerahkan tiket kepulangannya. Ia sudah bisa menebak suara tegas Bapak yang akan langsung menyuruhnya berkemas jika tahu tidak ada lagi yang menjaganya di Jakarta.

​Pintu-pintu lain harus segera ia temukan sendiri. Dokumen daftar riwayat hidup kini menjadi satu-satunya pegangan yang paling nyata di pikirannya.

Nara menghidupkan kembali laptop yang suhunya sedingin telapak tangannya itu. Cahaya di layarnya sudah memantulkan wajahnya yang pucat, sementara jarum jam telah lama melampaui angka dua belas.

Di luar sana, hiruk-pikuk kota telah padam, menyisakan gemuruh di dadanya yang kini terdengar semakin lantang.

​Laman jobsearch kini memenuhi layar, mengunci penuh pandangan Nara. Jari-jemarinya menari lincah mengisi kolom akun dan menyusun riwayat hidup yang sudah ia siapkan.

Satu folder baru berjudul "Loker Admin Toko" sudah berisi dokumen hasil revisi yang disesuaikan dengan kriteria lowongan. Guliran di layar berlanjut, lalu terhenti tepat pada kolom Admin Gudang. Folder kedua pun menyusul dengan isi profil yang sudah dirombak ulang.

​Namun, begitu lowongan ketiga muncul, gerakan tangannya melambat. Alih-alih membuat folder baru, dahi Nara perlahan mengernyit saat membaca baris lokasi dan deskripsi pekerjaannya. Ia menarik buku catatan cokelat dari tumpukan di sudut meja, lalu menuliskan satu nama dengan teliti: Asemka.

​Tulisan itu membuatnya refleks mendekat ke pendar monitor. Matanya terpaku lama pada kata grosir dan barang unik. Seketika, bayangan tentang tumpukan mainan lucu mulai beradu dengan hitungan modal di kepalanya.

Tak ada lagi profil yang dirombak, ia hanya mencatat alamat dan nama toko itu, seolah rencana besar baru saja menggeser tumpukan daftar riwayat di benaknya.

***

Dengan langkah yang tak beraturan, Nara bangkit dari meja belajarnya dan menyambar handuk dari paku di balik pintu. Ia juga menuju wastafel untuk membasuh wajahnya yang kucel itu sambil memikirkan kapan waktu yang pas untuk pergi ke toko Asemka yang sudah ia catat semalam.

Sudah berkali-kali juga ia sibuk mengecek iklan Tokobagus10 yang dibuat kemarin. Sampai detik ini pun tak ada pesan singkat yang masuk untuk bertanya apalagi sekadar negosiasi. Tak ingin berhenti begitu saja, ia membuka beranda Facebook untuk memasang iklan di status kabar beranda miliknya.

Lihat selengkapnya