Resonansi Luka

Luminaminalu
Chapter #6

PESAN TIBA-TIBA

Dua tahun sebelumnya ...

Di papan tulis itu, tak ada nama Nara di daftar peringkat sepuluh besar. Kakinya bergetar hebat hingga meja kayu di depannya ikut berderak, seolah membantu menyamarkan suara degup jantung yang sejak tadi berdentum di dada.

​"Naraveligha!" panggil Bu Dina lantang. Meja guru di depan sana sudah menggunung dengan tumpukan rapor.

​Mama bangkit, disusul Nara dengan telinga yang mendenging akibat detak jantungnya sendiri.

​"Bu, ini rapor Nara. Syarat naik kelas itu maksimal nilai merah hanya boleh dua," jelas Bu Dina tanpa basa-basi. "Nara ada tiga."

​Nara meraih selembar tisu di sudut meja guru dengan gerakan kaku, menyeka peluh yang mulai merembes di keningnya. Mama mencodongkan bahu, menatap angka-angka itu dengan napas berat.

​"Ra, lebih serius lagi belajarnya. Kurang-kurangi dulu OSIS-nya," pungkas Bu Dina.

​Nara hanya menunduk. Kalimat itu terus bergaung bahkan sampai mereka duduk di dalam angkot yang penuh sesak. Di sebelah Nara, seorang ibu paruh baya terus berceloteh bangga tentang ranking tiga anaknya, membanding-bandingkannya dengan sang juara kelas.

Suara ibu itu cuma jadi kebisingan yang mengganggu di telinga Nara. Sudah ranking pun tidak menjamin apa-apa, kalau begitu lebih baik tidak ranking sekalian, pikirnya. Untungnya, getar ponsel di saku seragam putihnya segera mengalihkan pikirannya.

​[Rio: Aku sudah di rumah kamu, ya. Hari ini ambil rapor, kan?]

​Nara tak membalas. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku di dadanya.

Sesampainya ​di rumah, Rio sudah menunggu dengan sekotak donat. Alih-alih menghibur, Rio justru menggeleng melihat rapor yang tergeletak di meja. Ia menutup mulut rapat-rapat, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang berat.

​"Kamu memang bandel, Ra. Pasti karena baca komik terus. Kamu lebih hafal cerita komik daripada ceritaku," ucap Rio dingin.

​"Bukan gitu, aku sibuk OSIS juga," bela Nara pelan.

​"Masa anak IPA tapi merah di Kimia dan Biologi?" Rio menutup rapor itu dengan suara yang pelan dan tegas. "Begini aja, kalau sampe kamu enggak naik kelas, aku kasih hadiah, ya?"

​Nara tertawa kecil, meski hambar. "Loh, kok enggak naik malah dikasih hadiah?"

​"Habisnya kamu enggak pernah mau kalau dikasih 'hadiah' yang satu itu. Anggap aja ini motivasi." Rio menggigit donat kacang itu. "Padahal aku udah sering ya bantuin PR Kimia kamu sama si Lila juga tuh. Aku kira hasilnya bakalan ngebantu." sambungnya sambil mengunyah potongan donat.

​Tawa Nara padam seketika. Matanya terpaku pada sampul rapor di depannya. Ia tahu persis maksud Rio. 'Hadiah' itu memang sesuatu yang selama dua tahun ini selalu ia hindari; sentuhan yang lebih jauh, yang menurut Rio adalah tanda kedewasaan.

Setiap kali tatapan atau cara bicara Rio mulai terasa sesak di dada, Nara selalu menemukan alasan untuk meraih ponselnya. Lebih baik begitu daripada duduk sendirian di bangku angkot yang penuh, tanpa satu pun orang yang ia kenal di sampingnya.

***

Helaan napas panjang akhirnya membuyarkan kepingan ingatan dua tahun lalu itu. Nara segera beralih membuka grup komunitas Conan, mencoba menenggelamkan diri di sana demi mengusir sisa-sisa masa lalu yang mendadak mampir tanpa izin.

Berbagai postingan di grup terus bermunculan. Ada yang mengirimkan status galau, mengirim lirik lagu, kuis dadakan, semuanya bersahutan mengisi beranda. Di bagian paling atas, postingan admin pun sudah lebih dulu menunggu.

[Admin: Halo, Minna, Konnichiwa ^^. Kali ini admin mau ngadain Gathering di Jakarta tanggal 10 Juli 2011 di Kota Tua, yang mau ikutan silakan komen di bawah, mau tukeran nomor hp boleh juga ya buat mempermudah komunikasi.]

Meskipun bertemu seseorang dari forum online bukan hal baru, entah kenapa kali ini ada dorongan untuk mempersiapkan waktu dan pakaian. Terlebih lagi, ini adalah kali pertama Nara melingkari kalender dengan penuh persiapan. Ia bisa membayangkan bertemu banyak anggota lain tanpa perlu lagi menyembunyikan koleksi komiknya.

Lihat selengkapnya