Resonansi Nol

Oleh: G Wira Negara

Blurb

Ketika jagat raya mendadak bisu dan frekuensi digital yang biasanya memenuhi udara mati seketika, dunia tidak menjadi damai; ia menjadi predator. Di tengah kegelapan total ini, hanya ada satu ritme yang tersisa—sebuah denyut organik yang bergetar di balik tubuh seorang manusia bernama Gee. Dia bukan sekadar pelarian; dia adalah anomali, satu-satunya jantung yang berdetak dengan kode yang mampu meruntuhkan atau membangkitkan peradaban.

​Perjalanan ini bermula dari pelukan dingin kota Malang, di mana kabut pegunungan menyembunyikan langkah pertamanya. Gee adalah target paling dicari di muka bumi, sebuah aset biologis yang dikejar oleh arogansi tanpa batas. Dari sudut-sudut rahasia di Jawa Timur, ia dipaksa menembus jantung besi Jakarta melaui sepanjang jalur di pulau jawa hingga menuju Ibu kota yang kini menjelma menjadi labirin beton tanpa cahaya, di mana setiap bayangan adalah mata-mata dan setiap desah angin adalah ancaman maut.

​Ini bukan sekadar pelarian fisik, melainkan sebuah dialektika antara nurani dan kehancuran. Gee berdiri di persimpangan yang mustahil bergabung dengan "Proyek Gila"—sebuah ambisi teknokratis yang menuntut penyerahan total hati nuraninya demi keteraturan semu—atau memilih untuk memberontak dan menghadapi pemusnahan total. Proyek ini adalah manifestasi dari arogansi manusia yang ingin bermain sebagai Tuhan, sebuah skema yang ingin mengubah detak jantung menjadi algoritma statis.

​Dalam perjalanan maut kembali menuju Malang, setiap kilometer yang ditempuh adalah saksi bisu atas terkikisnya rasa kemanusiaan. Jika keberlangsungan dunia bergantung pada satu nyawa, apakah kita berhak mencuri jiwanya? Kita dipaksa merasakan gesekan sepatu Gee di aspal yang retak, mendengar napasnya yang memburu saat musuh mendekat, dan merasakan empati yang mengiris saat ia menyadari bahwa di dunia yang serba canggih ini, hal yang paling berbahaya adalah menjadi sepenuhnya manusia.

Lihat selengkapnya