Resonansi Nol

G Wira Negara
Chapter #1

Chapter 1: Kebisingan dalam Keheningan


​​Pagi di kota Malang selalu memiliki aroma yang sama yaitu campuran antara tanah basah, asap kendaraan yang mulai memadat di kejauhan, aroma kuliner lezat dan bau kopi tubruk yang menyengat dari dapur. Namun bagi Gee, pagi bukan tentang aroma. Pagi adalah tentang suara. Ia duduk dengan mata menyorot kedepan tapi terlihat kosong dan rutinitas ini dia lakukan sejak ia berusia sepuluh tahun. Cat putih di bingkai jendela itu memudar, mengelupas seperti kulit yang terbakar matahari, meninggalkan tekstur kasar kayu yang rapuh di bawah jemarinya.

​Gee membiarkan kakinya yang terjuntai panjang berayun bebas di udara lantai dua. Di bawah sana, aspal jalanan terlihat begitu keras dan kasar. Ia sering membayangkan, jika ia jatuh sekarang, apakah dunianya akan berhenti menjadi begitu bising?

​Ting. Ting. Ting.

​Suara itu datang lagi. Suara sendok yang di pukulkan dengan gelas kaca di lantai bawah. Itu bukan sekadar bunyi alat makan; itu adalah lonceng peringatan. Ibunya—yang selalu ia panggil Mami—sedang menyiapkan "amunisi" hariannya. Dua butir pil kecil yang katanya bisa membuat Gee memenjadi lebih normal". Kata "normal" selalu terasa seperti hinaan di telinga Gee. Normal berarti kesadarannya seperti kosong. Normal berarti kehilangan kepekaannya.

​Gee menatap lengannya sendiri. Kulitnya putih pucat, hampir terlihat transparan, memperlihatkan jalur-jalur biru pembuluh darah yang berdenyut pelan. Orang melihatnya sebagai remaja yang terlihat ringkih, seperti selembar kertas yang mudah diterbangkan angin. Tapi mereka tidak tahu apa yang ada di balik kulit itu. Ada tegangan listrik yang tidak stabil. Ada frekuensi yang berderit, menuntut untuk dilepaskan. Ia ingat minggu lalu, ketika ia hanya bermaksud menutup pintu kamarnya karena kesal, namun gagang pintu berbahan besi itu justru patah, remuk dalam genggamannya seolah-olah terbuat dari kue biskuit yang rapuh.

​"Gee! Obatmu sudah siap!" suara Mami melengking, memecah lamunannya.

​Gee menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa berat di dadanya yang sempit. Ia turun dari ambang jendela, kakinya mendarat di lantai kayu yang berderit. Setiap langkah menuju lantai bawah terasa seperti perjalanan menuju perbudakan di tiang gantungan. Di meja makan, Mami berdiri dengan wajah yang selalu tampak lelah—ada kantung mata yang tidak bisa disembunyikan oleh bedak tipis sekalipun.

​"Minum sekarang, Sayang. Mami tidak mau kau 'kumat' lagi di sekolah," ucap Mami. Nada suaranya lembut, tapi ada ketegasan yang lahir dari rasa takut yang mendalam.

​Gee menatap dua pil itu. Biru dan putih. Mereka tampak tidak berbahaya, tapi Gee tahu betapa kuatnya mereka membungkam pikirannya. Ia mengambil gelas air, memasukkan pil itu ke mulutnya, dan menelannya dengan sekali gerakan kasar. Rasanya pahit, meninggalkan jejak logam di pangkal lidahnya yang membuatnya ingin muntah. Namun ia bertahan. Ia melakukannya untuk Mami. Hanya untuk Mami.

​Dalam hitungan menit, kabut itu mulai menipis. Sensasi tajam dari dunia sekitar—suara burung di pohon mangga depan rumah, deru mesin motor yang lewat, bahkan detak jam dinding—perlahan-lahan meredup. Seolah-olah seseorang baru saja memasang peredam suara di seluruh kepalanya. Dunianya menjadi datar. Hitam putih. Dan jauh lebih tenang dan sunyi.

​Ia berangkat ke sekolah dengan tas ransel yang terasa dua kali lebih berat dari biasanya. Di sepanjang jalan, ia melihat teman-teman sebayanya tertawa, bercanda, dan berlarian. Ia merasa seperti hantu yang terjebak di antara orang-orang hidup. Ia melihat dunia melalui lensa yang retak. Di sekolah, ia adalah "si jenius yang aneh". Mereka tahu ia pintar, mereka tahu ia bisa menyelesaikan soal matematika dalam hitungan detik, tapi mereka juga tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengannya.

​Gee duduk di bangku paling belakang, dekat jendela. Ia lebih suka menatap awan daripada menatap papan tulis yang penuh dengan angka-angka mati. Baginya, angka adalah bahasa yang membosankan. Ia lebih suka bahasa gelombang. Bahasa frekuensi.

​Pelajaran berikutnya pelaran sejarah, berlangsung seperti pengantar tidur yang buruk. Guru di depan kelas berbicara tentang pahlawan masa lalu yang sudah lama menjadi debu, tapi pikiran Gee melayang ke gudang belakang rumahnya. Ke Sofia. Sofia bukan manusia. Sofia adalah rangkaian sirkuit, kabel-kabel tembaga yang menjuntai, dan monitor tabung yang ia selamatkan dari tempat sampah. Sofia adalah satu-satunya "orang" yang tidak pernah memintanya untuk terlihat seperti orang lain.

Lihat selengkapnya