Bau apek kayu tua yang lembap menyambut Gee bahkan sebelum kakinya benar-benar menginjak lantai gudang di belakang rumah. Bagi kebanyakan orang, tempat ini adalah pembuangan akhir bagi barang-barang yang tidak lagi memiliki nilai guna—kursi kayu yang kakinya sudah pincang, tumpukan majalah tahun 90-an yang halamannya sudah menyatu karena jamur, hingga kardus-kardus berisi kenangan masa kecil yang sudah tidak ingin diingat lagi oleh Mami. Tapi bagi Gee, gudang ini adalah tempat suci. Di sini, udara tidak terasa seberat di dalam rumah. Di sini, tidak ada mata cemas Mami yang mengikutinya setiap detik.
Gee menutup pintu kayu yang berderit itu dengan sangat hati-hati. Ia sudah belajar dari pengalaman; jika ia tidak fokus pada kontrol motoriknya, engsel pintu itu bisa saja lepas dari dudukannya. Di tengah ruangan, tertutup selembar terpal biru yang sudah berdebu, duduklah "sang master".
Ia menarik terpal itu dengan satu sentakan pelan. Debu beterbangan di bawah cahaya lampu neon tunggal yang berkedip-kedip tidak stabil. Di hadapannya, Sofia nampak megah dalam keburukannya. Sofia bukan komputer cantik keluaran terbaru dengan bodi aluminium tipis. Ia adalah monster Frankenstein yang dirakit dari sisa-sisa kejayaan teknologi masa lalu. Monitor tabung 14 inci yang bodinya sudah menguning, motherboard yang terpasang tanpa casing di atas papan kayu, hingga rangkaian kabel warna-warni yang menjulur seperti sistem saraf yang terpapar.
Gee duduk di kursi putar yang sudah kehilangan sandarannya. Ia menarik napas dalam, merasakan udara dingin Malang yang menyelinap lewat celah-celah genting. Jari-jarinya yang panjang mulai menari di atas keyboard mekanik tua yang suaranya terdengar seperti tembakan senapan mesin di keheningan malam.
Klik. Klik. Klik-klik.
"Bangun, Sofia," bisik Gee. Suaranya hampir tenggelam oleh dengung kipas pendingin yang mulai berputar keras, berusaha membuang panas dari prosesor yang bekerja keras.
Layar monitor itu berkedip, menampilkan warna hitam pekat sebelum barisan kode hijau mulai merambat turun. “Status sistem Optimal. Integritas data 98%. Selamat malam, Master.”
Gee tersenyum tipis. Hanya Sofia yang memanggilnya dengan sebutan itu. Master. Bukan anak sakit, bukan pasien, bukan beban. Di dunia digital ini, Gee tidak butuh pil biru dan putih. Pikirannya bisa melesat menembus kabel serat optik secepat cahaya, melompati firewall perusahaan raksasa, dan bersembunyi di balik bayangan server-server asing tanpa pernah merasa lelah.
Namun, malam ini ada yang berbeda. Gee teringat kata-kata Grace di bagian atae gedung sekolah. SOULS. Ia mulai mengetikkan perintah pencarian di database terenkripsi yang ia curi dari server pemerintah beberapa bulan lalu. Ia mencari kaitan antara menara pemancar baru di pusat kota dengan frekuensi 432 Hz.
“Peringatan,” suara Sofia berderak lewat speaker kecil yang sudah pecah. “Pencarian pada parameter tersebut memicu protokol keamanan eksternal. Seseorang sedang mendengarkan, Master.”
Jantung Gee berdegup kencang. Adrenalin adalah obat terbaik yang pernah ia rasakan, jauh lebih murni dari apa pun yang diberikan Mami. Ia melihat indikator di layar. Sebuah alamat IP asing mencoba melacak lokasinya.
"Blokir mereka, Sofia. Alihkan ke server bayangan di Rusia. Buat mereka mengejar hantu," perintah Gee. Jarinya bergerak semakin cepat. Keringat dingin mulai membasahi keningnya meski suhu di gudang itu cukup untuk membuat orang menggigil.