Gedung perpustakaan kota Malang itu nampak seperti sisa-sisa kejayaan masa lalu yang dipaksa bertahan di tengah kepungan beton modern. Arsitektur kolonialnya masih kokoh, dengan pilar-pilar besar yang sudah mulai ditumbuhi lumut tipis di bagian bawahnya. Bau di dalam sini selalu sama perpaduan antara kertas tua yang perlahan melapuk, pembersih lantai murah, dan aroma tubuh orang-orang yang hanya ingin mencari tempat tidur gratis di siang hari yang terik.
Gee berdiri di lobi, merasa sedikit pening. Sesuai janjinya pada Grace, ia sama sekali tidak menyentuh pil biru dan putih pagi ini. Akibatnya, dunianya meledak menjadi ribuan fragmen sensorik yang tajam. Ia bisa mendengar detak jarum jam di ruang referensi dari jarak sepuluh meter. Ia bisa merasakan tekstur kasar kain kausnya yang bergesekan dengan kulit pundaknya. Setiap percakapan lirih pengunjung perpustakaan terdengar seperti teriakan di telinganya.
"Fokus, Gee. Jangan pecah," bisiknya pada diri sendiri sambil mengepalkan genggaman tangannya tangan kuat-kuat. Ia merasakan letupan listrik statis yang kecil di telapak tangannya, membuat bulu kuduknya berdiri.
Ia berjalan menyisiri rak-rak buku besar berbahan kayu jati yang gelap. Jari-jarinya sesekali menyentuh punggung buku—ensiklopedia yang sudah berdebu, kamus bahasa asing yang jarang disentuh, hingga novel-novel sastra yang halamannya sudah menguning. Di sudut terjauh perpustakaan, di antara rak kategori Sains & Teknologi yang sepi, ia melihatnya.
Grace sedang duduk di sebuah kursi kayu yang nampak sudah sangat tidak nyaman. Di depannya berserakan beberapa map cokelat dan sebuah laptop tua yang bodinya penuh dengan stiker-stiker pudar. Dia tidak memakai seragam sekolah hari ini. Dia mengenakan jaket denim kebesaran dan kacamata berbingkai tipis yang membuatnya terlihat jauh lebih dewasa.
Gee menarik kursi di hadapannya, menimbulkan suara decitan keras yang membuat seorang pustakawan tua di kejauhan berdehem keras.
"Kau tepat waktu. Dan kau tidak minum obatmu," Grace menyapa tanpa mengangkat pandangan dari layar laptopnya. Mata tajamnya tetap memindai barisan data.
"Bagaimana kau tahu?" Gee duduk dengan kaku, merasa sedikit waswas.
Grace akhirnya menatapnya. Senyumnya tipis, hampir tidak terlihat, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Gee merasa seolah ia sedang dipindai oleh sinar X-ray. " Pupil matamu melebar. Kau gelisah. Dan kau terus-menerus mengetukkan jarimu ke meja dengan frekuensi yang tidak beraturan. Gee yang 'dijinakkan' tidak punya energi sebanyak itu."
Gee menghentikan ketukan jarinya. "Jadi, kau menyuruhku kemari hanya untuk melakukan observasi medis? Karena kalau iya, aku lebih baik pulang dan tidur."
"Jangan tersinggung, jenius," Grace menutup laptopnya dengan suara klik yang mantap. Ia menggeser salah satu map cokelat ke arah Gee. "Lihat ini."
Gee membukanya perlahan. Di dalamnya ada beberapa lembar cetakan grafik frekuensi radio dan peta kota Malang yang sudah ditandai dengan lingkaran merah di beberapa titik strategis. Titik-titik itu bukan lokasi sekolah atau kantor pemerintahan. Itu adalah lokasi menara pemancar baru.
"Aku sudah memantau ini selama tiga bulan," Grace memulai, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang sangat serius. "Setiap kali menara baru ini aktif, ada lonjakan frekuensi rendah yang tidak tercatat dalam dokumen publik. Mereka menyebutnya infrastruktur 5G atau penguatan sinyal, tapi itu bohong. Ini adalah senjata psiko-akustik[2]."
Gee mengerutkan kening, mencoba memproses informasi itu di tengah kebisingan pikirannya yang liar. "Senjata? Untuk apa? Kenapa harus di Malang?"
"Karena Malang adalah kota pendidikan. Ribuan anak muda, ribuan otak yang sedang dalam masa pertumbuhan paling aktif. Kalau kau ingin menguji sistem kontrol pikiran skala besar, kau tidak akan melakukannya di kota metropolis yang sudah terlalu kacau seperti Jakarta. Kau melakukannya di sini, di mana suasananya tenang dan orang-orangnya tidak terlalu curiga," Grace mencondongkan tubuhnya ke depan. "Mereka menyebut proyek ini SOULS. Sychronized Oscillating Universal Latency System[3]. Tapi itu hanya nama keren untuk pencurian jiwa secara massal."