Angin malam di daerah Kayutangan, Malang, punya cara sendiri untuk menusuk hingga ke tulang. Bukan hanya karena suhunya yang turun drastis, tapi karena ada sesuatu yang aneh dalam udara itu—seperti ada muatan listrik statis yang membuat bulu kuduk Gee berdiri terus-menerus. Ia duduk di boncengan motor Supra butut milik Yos yang knalpotnya sudah bocor, mengeluarkan suara brem-brem yang tidak stabil. Setiap kali Yos menarik gas, Gee merasa jantungnya ikut bergetar, bukan karena takut jatuh, tapi karena otaknya kini merespons setiap mesin di sekitarnya sebagai sekumpulan frekuensi yang berisik.
"Kau yakin kita tidak sedang menyerahkan nyawa secara sukarela?" teriak Yos di balik helm yang kacanya sudah baret-baret parah. Suaranya hampir tenggelam oleh deru angin dan klakson angkot yang menyalip mereka dengan ugal-ugalan.
Gee tidak menjawab. Tangannya memegang erat tas ransel lusuh yang berisi "nyawa" Sofia—sebuah perangkat modifikasi yang ia bangun semalaman dengan mata merah karena kurang tidur. Di dalam tas itu, sirkuit-sirkuit yang ia solder sendiri terasa hangat. Ia bisa merasakan denyut energi dari baterai litium yang ia paralelkan secara paksa.
"Yos, pelankan motornya kalau sudah dekat tikungan depan," bisik Gee, meskipun ia tahu Yos tidak akan mendengarnya tanpa teriakan. Ia menyentuh belakang kepala Yos, memberinya kode tepukan dua kali—bahasa rahasia yang mereka kembangkan sejak SMP.
Mereka berhenti di sebuah gang sempit yang gelap, tepat di belakang deretan ruko tua yang menghadap langsung ke arah menara pemancar utama. Menara itu berdiri tegak, sebuah konstruksi besi yang tampak angkuh, dikelilingi pagar kawat berduri yang dialiri listrik. Di puncaknya, lampu merah kecil berkedip-kedip, mengirimkan sinyal yang bagi orang normal tidak terasa apa-apa, tapi bagi Gee, itu terdengar seperti jeritan frekuensi tinggi yang menyobek selaput daranya.
"Sial, baunya amis," gumam Yos saat turun dari motor. Ia mengendus udara. "Seperti bau besi berkarat dicampur... aku tidak tahu, apa seperti bau rumah sakit?"
Gee turun dengan langkah kaku. Kakinya masih terasa sedikit gemetar karena ia benar-benar tidak meminum obatnya selama 24 jam terakhir. Dunianya kini bukan lagi kabut abu-abu; dunianya menjadi kumpulan warna dan suara yang hampir tak tertahankan. Ia melihat kabel-kabel di tiang listrik di atas mereka seolah-olah mereka adalah pembuluh darah yang berdenyut.
"Itu bukan bau besi, Yos. Itu bau ozon[6]. Frekuensi di sini sangat kuat sampai-sampai ia mengionisasi udara di sekitar menara," jelas Gee sambil membuka ranselnya. Ia mengeluarkan sebuah tablet yang layarnya sudah retak di pojok kiri, namun sistem operasinya sudah ia rombak total.
"Gila. Jadi mereka benar-benar sedang memanggang otak kita pelan-pelan?" Yos mendekat ke arah pagar, memperhatikan dua orang penjaga berseragam hitam tanpa lencana yang sedang berpatroli di dalam area menara. Mereka tidak membawa senjata api, tapi ada tongkat pendek di pinggang mereka yang mengeluarkan bunyi bzzzzt kecil secara periodik.
"Mereka ingin semua otak di kota ini bergetar di ritme yang sama agar mudah dikendalikan," Gee mulai mengetik di tabletnya. Barisan kode hijau merayap cepat. "Aku akan mencoba masuk ke protokol[7] jabat tangan (handshake) mereka. Kalau aku bisa menyisipkan skrip backdoor[8] ke dalam transmisi berikutnya, kita bisa melihat apa sebenarnya yang mereka kirimkan."
Gee memejamkan mata sejenak. Ia mencoba melakukan apa yang dikatakan Grace Jangan dilawan. Gunakan sebagai kompas.
Seketika, rasa sakit di kepalanya berubah. Dengungan yang tadinya menyiksa perlahan berubah menjadi pola. Ia mulai bisa "melihat" gelombang elektromagnetik yang keluar dari menara itu. Mereka berbentuk spiral, biru pucat yang pudar, menyebar ke arah pemukiman warga seperti jaring laba-laba raksasa. Dan di tengah jaring itu, ada satu simpul hitam yang pekat.
"Ada yang tidak beres," bisik Gee.
Keringat sebesar biji jagung mulai menetes dari pelipisnya.
"Sistemnya... sistemnya tidak statis. Ia merespons. Ia tahu aku sedang melihatnya."
"Apa maksudmu? Itu cuma besi dan kabel, kan?" Yos mulai terlihat gelisah. Ia memegang sebuah pipa besi pendek yang ia temukan di pojok gang, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
"Tidak. Ini bukan cuma mesin. Ada kesadaran di dalamnya. Sofia... Sofia bilang ini adalah feedback loop[9]," tangan Gee mulai bergetar hebat. Di layar tabletnya, muncul pesan peringatan dengan huruf merah yang berkedip
SINKRONISASI TERDETEKSI. PUTUSKAN KONEKSI SEKARANG.
Tiba-tiba, lampu merah di puncak menara berhenti berkedip. Ia menyala terus-menerus, mengeluarkan cahaya yang lebih terang dan tajam. Detik berikutnya, suara sirine yang sangat rendah—begitu rendah hingga hampir tidak terdengar oleh telinga manusia namun mampu membuat organ dalam bergetar—mulai menderu.