Malam di kota Malang tidak pernah terasa sedingin ini. Angin yang berhembus dari arah Batu biasanya membawa kesegaran, tapi malam ini, angin itu terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit leher Gee. Di belakang motor Yos yang masih melaju tak tentu arah, Gee menggenggam erat ponsel Yos. Layarnya retak, menyala redup dalam kegelapan gang, namun foto rumahnya yang dikirim oleh nomor asing itu tetap terlihat begitu jelas. Begitu nyata. Begitu mengancam.
"Gee! Kita ke mana?!" teriak Yos. Suaranya pecah, ada getaran panik yang tidak bisa ia sembunyikan. Motor Supra-nya kini mengeluarkan suara ngik-ngik yang menyedihkan, seolah-olah mesin tua itu juga ikut ketakutan.
"Jangan ke rumah! Jangan dulu!" balas Gee, suaranya parau karena debu dan sisa adrenalin.
"Cari tempat yang tidak punya CCTV. Parkir di belakang pasar burung Splendid. Kita butuh waktu untuk berpikir."
Yos membanting setir ke kiri, nyaris menabrak tumpukan karung beras di depan sebuah toko yang sudah tutup. Mereka membelah jalanan yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan berwarna kuning kusam terlihat berayun ditiup angin, menciptakan bayangan panjang yang seolah-olah mengejar mereka.
Bagi Gee, lampu-lampu itu bukan sekadar cahaya; ia bisa melihat denyut energi di dalamnya. Ia bisa mendengar suara listrik yang mengalir di kabel-kabel udara—sebuah dengungan konstan yang kini mulai menyakiti bagian belakang kepalanya.
Mereka sampai di area belakang pasar burung. Bau kotoran unggas yang menyengat dan kayu basah memenuhi indra penciuman. Sunyi, kecuali suara kepakan sayap burung-burung di dalam sangkar yang terganggu oleh kehadiran mereka.
Yos mematikan mesin motor, lalu turun dengan kaki yang lemas. Ia langsung bersandar di tembok kusam yang penuh dengan coretan grafiti pudar.
"Sial... sialan," kutuk Yos sambil menyeka keringat dingin di wajahnya. "Mereka tahu rumahmu, Gee. Mami... bagaimana dengan Mami?"
Gee terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras daripada gelombang kejut listrik mana pun. Ia menutup matanya, dan seketika bayangan Mami yang sedang menyiapkan obat di meja makan muncul. Mami yang selalu cemas. Mami yang tidak tahu apa-apa tentang menara pemancar, tentang Sofia, atau tentang proyek SOULS.
"Mereka tidak akan menyentuhnya sekarang," ucap Gee, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Yos. "Mami adalah sandera. Kalau mereka menyakiti Mami, mereka kehilangan kendali atas diriku. Mereka ingin aku menyerahkan diri.
Mereka ingin dirinya ini "kembali dan masuk ke dalam sangkar mereka."
Gee merasakan dadanya sesak. Tanpa pil biru dan putih itu, emosinya meluap-luap tanpa penyaring. Rasa marah, rasa bersalah, dan rasa takut bercampur menjadi satu, menciptakan badai di dalam kepalanya. Ujung jari-jarinya mulai mengeluarkan percikan biru lagi, kecil tapi cukup untuk membakar ujung jaket denimnya.
"Gee, tanganmu..." Yos menunjuk dengan ngeri.
"Aku tahu! Aku tidak bisa mengontrolnya, oke?!"
bentak Gee. Ia langsung menyesal saat melihat wajah Yos yang tampak tercengang. "Maaf, Yos. Kepalaku... rasanya mau meledak. Suara-suara ini tidak mau berhenti."
Gee duduk di aspal yang kasar. Ia mengeluarkan kartu memori yang tadi ia selamatkan dari tabletnya. Kartu itu kecil, hitam, dan tampak tidak berarti, tapi di dalamnya tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan sistem yang sedang mencoba menjajah pikiran manusia.
"Kita harus menemui Grace. Sekarang," kata Gee.
"Tapi bagaimana? Kita tidak tahu dia di mana, dan ponselmu sudah hangus!"
"Sofia," bisik Gee. Ia teringat Sofia bukan hanya ada di gudang belakang rumahnya. Ia telah menanamkan core Sofia ke dalam jaringan cloud[12] terenkripsi yang bisa ia akses dari mana saja. Ia mengambil ponsel Yos lagi. "Yos, aku pinjam ponselmu sebentar. Aku harus melakukan remote access."