Resonansi Nol

G Wira Negara
Chapter #6

Chapter 6: Pendakian Sunyi dan Sinyal yang Berdarah

Udara subuh di jalur menuju wilayah Batu mulai terasa mencekik. Bukan karena kurangnya oksigen, tapi karena dinginnya yang menusuk ke pori-paru seperti ribuan jarum mikro. Gee duduk di boncengan motor Yos, tubuhnya condong ke depan, berusaha melindungi ransel berisi instrumen Sofia dari angin yang menghempas. Di depan mereka, motor Grace yang lebih ramping—sebuah motor custom berwarna hitam legam tanpa plat nomor—melaju tanpa suara, seolah-olah ia membelah kegelapan tanpa menyentuh aspal.

​"Berapa jauh lagi, Grace?!" teriak Yos. Suaranya gemetar, entah karena kedinginan atau karena ketakutan yang sejak tadi ia coba bungkam dengan lelucon-lelucon garing.

​Grace tidak menjawab lewat suara. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, memberikan isyarat tiga jari. Tiga kilometer lagi menuju kaki Gunung Banyak. Gee bisa merasakan detak jantung Yos melalui punggung sahabatnya itu. Cepat dan tidak beraturan. Tuk-tuk-tuk-tuk. Bagi Gee, detak jantung itu terdengar seperti transmisi kode Morse yang panik.

​Gee memejamkan mata, mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya. Tanpa obat, otaknya adalah antena raksasa yang tidak memiliki sakelar off. Ia bisa mendengar gesekan ban motor dengan aspal seolah itu adalah suara amplas yang digosokkan ke sarafnya. Ia bisa merasakan keberadaan menara-menara pengawas di kejauhan—titik-titik panas elektromagnetik yang berdenyut di dalam gelap.

​"Sofia," bisik Gee ke mikrofon kecil yang terselip di kerah jaketnya. "Lakukan pemindaian pasif. Jangan kirim ping apa pun. Kita harus tetap di bawah radar."

​“Status Pasif. Master, tingkat stres biologis Anda meningkat 40%. Disarankan untuk melakukan pernapasan diafragma,” suara Sofia terdengar datar, namun entah kenapa terasa seperti teguran dari seorang ibu yang kaku.

​"Diamlah, Sofia. Bernapas saja terasa sakit sekarang," gerutu Gee. Ia merasakan cairan hangat mengalir dari lubang hidung kirinya. Ia menyekanya dengan punggung tangan. Darah. Lagi. Tekanan intrakranialnya mulai naik karena ia dipaksa memproses spektrum gelombang yang seharusnya tidak bisa ditangkap manusia.

​Mereka mulai memasuki jalur pendakian. Jalanan aspal berganti menjadi makadam yang kasar dan licin oleh embun. Cahaya lampu motor mereka memantul di antara batang-batang pohon pinus yang berdiri kaku seperti barisan tentara yang sedang berjaga. Di sini, kesunyian terasa begitu padat hingga kau bisa mendengarnya.

​Grace mendadak mengerem motornya. Yos hampir saja menabraknya kalau tidak segera membanting setir ke kanan.

​"Matikan lampu. Sekarang," perintah Grace. Suaranya dingin, nyaris berupa bisikan yang mendesis.

​"Apa? Kita tidak akan bisa melihat apa-apa, Grace!" protes Yos, namun ia tetap memutar kunci kontaknya.

​"Mereka punya pemindai termal[14] di pos depan. Kalau lampu kalian menyala, kita akan terlihat seperti sasaran tembak di tengah kegelapan ini," Grace turun dari motornya, gerakannya gesit dan sunyi. Ia mengeluarkan sebuah teropong digital kecil dari kantong jaketnya. "Gee, kemari."

​Gee turun dengan kaki yang terasa seperti jeli. Ia mendekat ke arah Grace yang sedang tiarap di balik semak-semak.

​"Lihat ke arah jam satu. Di atas bukit itu," Grace menyodorkan teropongnya.

​Gee melihatnya. Bukan lewat lensa teropong, tapi lewat matanya sendiri yang kini mulai berpendar biru redup. Di puncak bukit yang seharusnya menjadi tempat wisata paralayang itu, kini berdiri sebuah kubah geodesik [15] yang dikelilingi oleh pemancar satelit berukuran raksasa. Area itu disinari oleh lampu sorot putih yang sangat tajam, bergerak menyapu hutan di bawahnya secara ritmis. Ada beberapa kendaraan taktis berwarna hitam pekat yang terparkir di sekelilingnya.

​"Itu pusat sarafnya untuk wilayah ini," bisik Grace.

"Jika kita bisa masuk ke ruang transmisi utama, kita bisa menyuntikkan virus feedback milikmu. Itu akan membakar sirkuit mereka secara fisik."

​"Bagaimana cara kita lewat? Penjaganya bukan cuma manusia, kan?" tanya Gee. Ia bisa merasakan keberadaan drone kecil yang berputar-putar di atas mereka—suara baling-balingnya yang sangat halus terdeteksi oleh saraf pendengarannya.

​"Penjaga manusia adalah masalah kecil. Masalah besarnya adalah sistem keamanan otonom mereka," Grace mengeluarkan sebuah alat yang tampak seperti pistol suar, tapi dengan banyak modifikasi kabel. "Ini adalah pemancar gelombang elektromagnetik jarak dekat. Aku hanya punya dua tembakan. Kita harus menggunakannya hanya saat benar-benar terjepit."

​Yos mendekat, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya bulan yang pucat. "Jadi... rencananya kita merangkak naik ke sana, menghindari drone pembunuh, dan meretas sistem paling canggih di negara ini? Hanya kita bertiga?"

​"Kau bisa tetap di sini menjaga motor kalau kau mau, Yos," kata Gee sambil menatap sahabatnya.

Lihat selengkapnya