Resonansi Nol

G Wira Negara
Chapter #7

Chapter 7: Kebohongan yang Berpendar

​​Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin dari liang lahat. Ribuan lampu indikator dari rak server di sekeliling Gee berkedip-kedip, menciptakan pantulan biru yang aneh di mata Grace yang kini basah. Gee berdiri mematung. Dadanya naik turun dengan tidak beraturan, setiap tarikan napasnya terasa seperti menghirup serpihan kaca. Kata "Prototipe" masih bergema di kepalanya, memantul-mantul di antara dinding tengkoraknya yang kini mulai berdenyut menyakitkan.

​"Grace... katakan sesuatu yang masuk akal," suara Gee keluar seperti gesekan amplas pada lantai yang kasar. Ia tidak berteriak. Ia hanya ingin dunia berhenti berputar sejenak. "Katakan kalau pria tua bangka di kursi roda itu sedang berhalusinasi."

​Grace tidak menjawab. Ia berdiri tiga langkah di belakang Gee, kepalanya tertunduk begitu dalam hingga rambut hitamnya menutupi wajahnya. Isaknya terdengar lirih, sebuah suara manusiawi yang terasa sangat palsu di tengah laboratorium yang steril ini.

​"Maafkan aku, Gee," bisik Grace akhirnya. "Mereka punya rekaman ayahku. Dia bukan di pangkalan udara... dia di ruang interogasi mereka sejak minggu lalu. Kalau aku tidak membawamu kemari, mereka akan melakukan 'sinkronisasi paksa'[17] pada otaknya. Aku tidak punya pilihan!"

​"Pilihan selalu ada, Grace!" Gee meledak. Ia berbalik, dan tanpa sadar tangannya menghantam salah satu pilar logam di dekatnya.

​BUM!

​Pilar itu penyok ke dalam, meninggalkan bekas kepalan tangan yang dalam. Percikan listrik biru melonjak dari buku jari Gee, membakar udara hingga menyisakan bau ozon yang tajam. Gee tidak merasakan sakit di tangannya; ia hanya merasakan kekosongan yang meluap. Selama ini ia pikir ia sedang berjuang untuk kemanusiaan, untuk kebebasan, bersama seseorang yang memahaminya. Ternyata, ia hanya seekor anjing pelacak yang dituntun kembali ke tuannya.

​Pria tua di kursi roda itu terkekeh. Suara tawanya kering, seperti suara daun kering yang diinjak. "Drama remaja yang sangat menyentuh. Tapi mari kita bicara fakta, Gerard. Atau harus kupanggil dengan nomor serimu, G-14?"

​Gee menoleh ke arah pria itu. Tatapannya kini penuh kebencian yang murni. "Namaku Gerard Arya Wijaya. Dan aku bukan barang milikmu."

​"Oh, kau memang milikku. Secara biologis, secara intelektual, bahkan secara paten," pria itu menggerakkan kursi rodanya mendekat. Cahaya dari monitor besar di belakangnya menyoroti bekas luka operasi yang mengerikan di pelipisnya—sebuah lubang kecil tempat kabel-kabel elektroda pernah tertanam. "Kau pikir kenapa kau tidak bisa mengontrol kekuatanmu? Kenapa kau butuh pil-pil membosankan dari ibumu? Itu bukan untuk menyembuhkanmu, bodoh. Itu untuk menekan lonjakan data agar otakmu tidak terbakar sebelum waktunya. Kami menyebutnya 'masa inkubasi'[18]."

​Gee merasakan mual yang luar biasa. Ia teringat Mami. Wajah cemas Mami, tangan Mami yang gemetar saat memberikan obat... apakah Mami juga bagian dari ini?

​"Mami... dia tidak tahu apa-apa, kan?" tanya Gee, suaranya kini bergetar karena ketakutan yang nyata.

​"Ibumu? Dia hanyalah perawat yang terlalu baper," pria itu melambaikan tangan dengan acuh. "Dia mencurimu dari laboratorium ini saat kau masih berusia tiga tahun, mengira dia bisa memberikan 'kehidupan normal' pada sebuah proyek senjata bernilai miliaran dolar. Dia pikir dengan pil penenang dosis tinggi, dia bisa menghapus jati dirimu. Tapi frekuensi SOULS tidak bisa dibohongi. Ia mengenali penciptanya."

​Tiba-tiba, suara keras terdengar dari pintu lorong. Yos menerjang masuk dengan napas tersengal, pipa besinya masih tergenggam erat. Ia berhenti seketika saat melihat pemandangan di depannya Gee yang berpendar biru, Grace yang menangis, dan seorang pria tua yang tampak seperti penjahat di film.

​"Gee! Apa yang terjadi? Siapa kakek-kakek ini?!" teriak Yos. Ia melihat ke arah Grace. "Grace, kenapa kau diam saja? Kenapa mereka tidak menyerang kita?!"

​"Yos, pergi dari sini," ucap Gee tanpa menoleh. "Sekarang. Lari secepat yang kau bisa."

​"Apa? Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu di sini!" Yos melangkah maju, namun sebuah dinding energi transparan tiba-tiba muncul di antara mereka, melemparkan Yos kembali ke lantai dengan kekuatan besar.

​"YOS!" Gee mencoba menerjang dinding itu, tapi ia justru tersengat oleh aliran listrik yang jauh lebih kuat dari miliknya. Ia jatuh berlutut, mengerang kesakitan saat saraf-sarafnya dipaksa menerima input berlebih.

​"Cukup permainannya," suara pria tua itu berubah menjadi dingin dan penuh otoritas. "G-14, pasang dirimu ke terminal utama. Jika kau menurut, temanmu yang berisik ini dan ayah gadis itu akan dibebaskan. Jika tidak... aku akan memulai proses 'Sinkronisasi Paksa' sekarang juga, dan kau tahu persis apa artinya itu bagi penduduk kota Malang di bawah sana."

Lihat selengkapnya