Kota Malang mendadak menjadi kota mati, tapi bukan jenis kematian yang tenang. Ini adalah kematian yang dipenuhi oleh suara alarm mobil yang menyalak tak terkendali karena sirkuitnya korsleting, dan teriakan-teriakan panik dari balik jendela rumah warga yang gelap gulita. Di puncak Gunung Banyak, sisa-sisa kubah geodesik itu masih mengeluarkan asap hitam yang berbau plastik terbakar dan daging yang hangus. Cahaya bulan yang pucat adalah satu-satunya saksi bisu atas hancurnya pusat saraf SOULS di Jawa Timur.
Gee masih tergeletak di atas lantai semen yang retak. Napasnya pendek-pendek, terdengar seperti suara kertas yang diremas. Yos terus mengguncang bahunya, air matanya membasahi jelaga yang menempel di pipi Gee. "Gee, jangan bercanda... Bangun, sialan! Kau sudah menang, jangan mati sekarang!"
Grace berdiri beberapa meter dari mereka, mematung di bawah bayangan rak server yang masih sesekali mengeluarkan percikan listrik. Wajahnya tidak lagi menunjukkan ketegaran sebelumnya. Ia nampak seperti gadis remaja biasa yang baru saja menyadari bahwa ia telah mengkhianati satu-satunya hal yang nyata dalam hidupnya demi sebuah janji kosong. Di tangannya, ia masih memegang belati kecil, tapi tangannya gemetar hebat hingga benda itu jatuh dan berdenting pelan di lantai.
"Dia... dia tidak mati," bisik Grace, suaranya hampir tidak terdengar di tengah deru angin gunung yang masuk lewat lubang di dinding. "Dia hanya overload. Otaknya baru saja membuang ribuan gigabyte data langsung ke jaringan listrik. Dia butuh waktu."
"Waktu?!" Yos menoleh dengan mata merah penuh kemarahan. "Dia baru saja membakar kepalanya sendiri demi menyelamatkan ayahmu yang bahkan aku tidak tahu masih hidup atau tidak! Jangan bicara soal waktu padaku!"
Tiba-tiba, Gee tersedak. Ia memuntahkan cairan bening bercampur sedikit darah, lalu matanya terbuka sedikit. Pupilnya tidak lagi berpendar biru, tapi terlihat sangat pudar, seolah-olah warna aslinya telah tersedot habis.
"Sofia..." gumam Gee. Suaranya serak, nyaris hilang.
"Sofia sudah tidak ada, Gee. Kau menghancurkannya bersama menara itu," jawab Yos sambil membantu Gee duduk bersandar pada tumpukan kabel yang meleleh.
Gee menatap langit-langit ruangan yang hancur. Ia tidak merasa sedih. Ia merasa kosong. Keheningan di dalam kepalanya terasa begitu asing. Selama bertahun-tahun, ia hidup dengan dengungan, bisikan frekuensi, dan kebisingan listrik. Sekarang, semuanya hilang. Dunia terasa begitu sunyi, begitu tumpul. Ia merasa seperti baru saja kehilangan salah satu panca indranya.
"Grace," panggil Gee pelan.
Grace mendekat dengan ragu. Ia berlutut di depan Gee, tidak berani menatap matanya. "Maafkan aku, Gee. Aku..."
"Simpan permintaan maafmu," potong Gee. "Ayahmu. Di mana dia?"
Grace menunjuk ke arah pintu besi di sudut ruangan yang nampak masih tertutup rapat. "Mereka menahannya di ruang isolasi bawah tanah. Sistem penguncinya biner. Karena listrik mati total, pintu itu harusnya terkunci secara mekanik. Kita butuh linggis atau sesuatu yang lebih kuat untuk membukanya."
Yos berdiri, mengambil kembali pipa besinya. "Aku yang urus. Kau jaga dia, Grace. Dan kalau kau mencoba macam-macam lagi, aku bersumpah pipa ini akan mendarat di kepalamu tanpa peduli kau ini perempuan atau bukan."
Yos berjalan menuju pintu bawah tanah, meninggalkan Gee dan Grace dalam kecanggungan yang mencekam. Di luar sana, suara sirene terdengar semakin dekat. Cahaya lampu dari kendaraan militer atau polisi mulai terlihat menyisir lereng gunung. Mereka tidak punya banyak waktu.
"Kenapa kau melakukannya, Grace?" tanya Gee sambil mencoba menggerakkan ujung jari-jarinya. Rasanya seperti ribuan semut sedang menggigit sarafnya.
"Karena aku takut," jawab Grace jujur. Ia memeluk lututnya sendiri. "Mereka menunjukkan padaku apa yang bisa mereka lakukan pada pikiran manusia. Mereka menunjukkan ayahku yang sedang dipaksa hidup di dalam simulasi mimpi buruk yang terus berulang. Aku tidak sekuat kau, Gee. Aku tidak punya sesuatu yang bisa melawan mereka."