Resonansi Nol

G Wira Negara
Chapter #9

Chapter 9: Persimpangan Tak Kasat Mata

​​Kota Malang tidak lagi terasa seperti rumah. Begitu roda motor hitam itu melindas aspal jalanan Ijen yang biasanya megah, Gee merasakan perubahan atmosfir yang begitu kental hingga ia bisa merasakannya di pangkal lidahnya—rasa tembaga dan debu sisa ledakan. Lampu-lampu jalan masih mati, menyisakan keremangan yang hanya dipecahkan oleh sorot lampu kendaraan militer yang sesekali melintas dengan kecepatan tinggi. Kota ini sedang menahan napas, menunggu instruksi yang tidak kunjung datang dari menara-menara yang kini bisu.

​Gee memarkir motornya dua blok dari rumahnya, di sebuah gang buntu yang dipenuhi tumpukan ban bekas dan bau sampah basah. Ia tidak bisa mengambil risiko muncul di depan pintu rumah dengan kendaraan yang terlalu mencolok. Kepalanya masih berdenyut, ritme denyutannya seolah-olah mencoba menyamai frekuensi statis yang ia dengar dari saku jaketnya—residu Sofia yang masih berjuang untuk tetap utuh.

​Ia berjalan kaki, merapat ke dinding-dinding kusam ruko yang tutup. Setiap kali ada suara mesin mendekat, ia berhenti, menahan napas hingga dadanya terasa sesak. Tanpa pil biru-putih itu, indra pendengarannya menjadi terlalu tajam; ia bisa mendengar suara tikus yang mencicit di dalam selokan, bahkan suara tetesan air dari kran yang bocor di dalam rumah warga. Dunia terasa terlalu bising untuk seorang remaja yang baru saja "meledakkan" otaknya sendiri.

​Saat ia sampai di depan pagar rumahnya, ia berhenti. Pintu depan masih terbuka, persis seperti saat ia pergi tadi. Namun, ada sesuatu yang salah. Bau di udara. Bukan lagi bau masakan Mami atau bau parfum laundry yang biasa tercium. Ada bau tajam bahan kimia—sejenis antiseptik yang terlalu kuat, dicampur dengan aroma terbakar yang sangat halus.

​"Mami..." bisik Gee, suaranya nyaris hilang ditelan angin malam.

​Ia melangkah masuk. Ruang tamu itu berantakan, tapi bukan berantakan karena perkelahian. Ini adalah jenis berantakan yang sistematis. Laci-laci ditarik keluar, isinya dihamburkan, namun terlihat bahwa mereka mencari sesuatu yang sangat spesifik. Foto-foto di dinding—foto Gee saat kecil, foto Mami saat masih muda—semuanya dicopot dari bingkainya.

​Gee berjalan menuju dapur. Di sana, ia melihat kursi kayu tempat Mami biasa duduk. Kursi itu terbalik. Di atas lantai keramik yang dingin, ia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak sebuah botol obat kosong. Botol obat yang biasa ia minum setiap pagi. Botol itu remuk, hancur di bawah bekas injakan sepatu bot militer yang berat.

​"Mereka tidak hanya membawanya," geram Gee. Listrik di ujung jarinya mulai memercik lagi, membakar ujung lengan jaketnya. "Mereka menghapus jejaknya."

​Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan hard drive eksternal yang ia selamatkan dari Gunung Banyak. Tangannya gemetar hebat saat ia mencoba menyambungkannya ke laptop tua milik Mami yang entah kenapa masih tergeletak di atas meja dapur—mungkin karena mereka menganggap benda itu terlalu kuno untuk diperiksa.

​"Sofia... bangun," bisik Gee.

​Layar laptop itu berkedip-kedip. Barisan kode muncul, namun bentuknya berantakan, banyak karakter yang berubah menjadi simbol aneh yang tidak bisa dibaca. Lalu, sebuah suara statis yang sangat lemah keluar dari speaker kecil laptop tersebut.

​“Ma...ster... data... korup... 62%... sistem... kehilangan... struktur...”

​"Tahan, Sofia. Jangan mati sekarang. Aku butuh koordinat mereka. Di mana mereka membawa Mami?"

​“Sinyal... terakhir... terdeteksi... di jalur... selatan... menuju... Surabaya... transit... Jakarta... Protokol... Echelon... aktif...”

​Suara itu menghilang, digantikan oleh dengung panjang yang menyakitkan. Gee memukul meja dapur dengan kepalan tangannya. Ia merasa sangat tidak berdaya. Semua kecerdasan dan kekuatan anomali yang ia miliki seolah tidak ada artinya ketika dihadapkan pada mesin birokrasi dan militer yang begitu raksasa.

Lihat selengkapnya