Truk Mitsubishi Colt Diesel itu berguncang hebat setiap kali rodanya menghantam lubang di sepanjang jalur pantura yang terbengkalai. Di bagian belakang, di antara tumpukan karung kubis yang mulai mengeluarkan bau busuk yang menyengat dan peti-peti wortel yang lembap, Gee meringkuk. Ia mencoba mengatur napasnya yang pendek-pendek. Setiap guncangan truk terasa seperti hantaman palu godam tepat di saraf tulang belakangnya. Dunia di luar sana mungkin gelap karena pemadaman massal yang ia ciptakan, tapi di dalam kepala Gee, semuanya menyala terang benderang dengan cara yang menyakitkan.
Yos duduk di sampingnya, memeluk pipa besinya seolah benda itu adalah jimat keberuntungan. Wajah Yos nampak pucat terkena sisa cahaya dari dashboard truk yang menembus celah terpal. "Gee, kau masih hidup, kan?" bisik Yos. Suaranya gemetar, kalah jauh oleh deru mesin truk yang dipaksa bekerja melewati batas kemampuannya.
Gee hanya mengangguk lemah. Ia tidak punya energi untuk bicara. Sejak mereka meninggalkan pinggiran Malang, frekuensi di kepalanya mulai berubah. Bukan lagi suara statis yang berisik, tapi sesuatu yang lebih teratur—seperti detak jantung raksasa yang berdenyut dari arah barat. Jakarta. Pusat dari segala kekacauan ini seolah-olah sedang memanggilnya pulang, menarik anomali yang ia miliki seperti magnet menarik serpihan besi.
"Sofia..." Gee berbisik ke arah saku jaketnya, tempat hard drive itu berada.
Hening. Tidak ada getaran, tidak ada suara. Gee merogoh saku, jemarinya yang dingin menyentuh permukaan logam drive yang masih terasa hangat. Ia menutup matanya, mencoba melakukan koneksi secara manual. Ia tidak butuh kabel; ia hanya butuh fokus. Pelan-pelan, ia membiarkan arus listrik di tubuhnya mengalir menuju saku jaketnya, menciptakan sirkuit darurat antara otaknya dan fragmen algoritma Sofia yang tersisa.
“...Ma...ster...”
Sebuah suara pecah muncul di dasar kesadarannya. Terasa seperti bisikan dari bawah air.
“Peringatan... Integritas data menurun... Sinyal luar mencoba melakukan injeksi... Jangan... buka... protokol... 0-9...”
"Tahan, Sofia. Aku butuh peta satelit yang bersih dari pelacakan SOULS," batin Gee. "Bisa kau lakukan?"
“Mencoba... meminjam... sinyal... GPS... militer... yang tidak terenkripsi... Berhasil. Jalur di depan... bersih... sejauh sepuluh kilometer. Namun... ada yang mencurigakan... di jembatan timbang... depan...”
Seketika, truk itu mengerem mendadak. Ban-bannya berdecit keras di atas aspal yang panas. Gee dan Yos terpelanting ke depan, menabrak peti kayu berisi wortel hingga ujung peti itu menggores lengan Yos.
"Aduh! Sialan, Pak Danu ngerem nggak pakai perasaan!" umpat Yos sambil memegangi lengannya yang terluka.
Gee segera menaruh jarinya di depan bibir, memberi isyarat agar Yos diam. Ia bisa merasakan muatan listrik yang sangat besar di luar sana. Bukan listrik dari lampu jalan atau rumah warga, tapi listrik dari perangkat pemindai bio-metrik tingkat tinggi.
Dari celah terpal belakang, Gee mengintip. Di depan mereka, sebuah pos pemeriksaan darurat telah didirikan. Bukan polisi biasa. Ada dua kendaraan taktis Echelon yang terparkir melintang di tengah jalan. Beberapa pria dengan seragam hitam taktis—sama dengan mereka yang menyerang Gunung Banyak—berdiri dengan senjata otomatis yang dilengkapi sensor inframerah. Mereka tidak memeriksa surat-surat kendaraan; mereka membawa alat genggam yang diarahkan ke setiap kabin truk.
"Mereka mencari frekuensi otak, Yos," bisik Gee. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. "Mereka mencari anomali yang tidak sinkron dengan Harmonizer."