RESONANSI ROMENI

Desto Prastowo
Chapter #4

Liana: Logika yang Retak

Liana tumbuh di rumah yang penuh cahaya, tapi sepi suara.

Ayah dan ibunya sibuk mengejar kesempurnaan, hingga anak mereka belajar hal yang sama—bahwa cinta bisa diganti dengan pencapaian, dan kesunyian bisa disamarkan dengan logika.


Malam itu, Liana duduk di balkon apartemennya yang menghadap kota. Lampu-lampu jalan meneteskan cahaya ke gelas wine yang belum disentuh, seolah waktu ikut menunggu sesuatu yang tak jadi diucap.

Di pangkuannya, laptop terbuka dengan draft pidato untuk forum mahasiswa minggu depan—tentang transparansi anggaran dan hak atas ruang aman di kampus.

Biasanya, jari-jarinya menari cepat di atas papan ketik. Malam ini, mereka membeku.

Ia teringat sorot mata Romeni siang tadi. Tenang, tapi dalam—seperti danau yang menyimpan rahasia di dasar sunyi.

Yang mengganggunya bukan argumen Romeni, melainkan ketenangannya.

Ia tidak menjawab dengan teori, tidak membalas dengan data. Ia hanya hadir, dan kehadiran itu membuat semua struktur dalam kepala Liana perlahan retak.

“Mulai dari rasa,” katanya di forum tadi siang. Tapi kini ia bertanya lirih:

“Rasa yang mana?”

Ia membuka folder lama berisi foto masa kecil. Di sana, dirinya berdiri di depan piano dengan gaun putih, senyum yang rapi tapi kaku. Di sisi lain, ayah dan ibu tersenyum ke kamera—tanpa saling menatap.

Ia ingat hari itu: hari kemenangannya dalam lomba piano, hari ketika ia paling ingin pelukan, dan hanya mendapat foto.

Kilas Balik Masa Kecil Liana

Di masa kecilnya, rumah mereka selalu terang tapi sunyi. Ayahnya sering pergi pagi-pagi sekali, meninggalkan aroma kopi dan berkas proyek di meja makan. Ibunya sibuk dengan rapat daring dan panggilan klien, suaranya tegas menembus dinding kamar.

Liana tumbuh di antara penghargaan dan kesepian. Ia punya kamar sendiri, lemari penuh hadiah, dan jadwal les musik yang ketat. Saat masih kecil, jika ia menginginkan sesuatu maka tinggal menunjuk dengan jarinya lalu baby sitter yang menemaninya kemana-mana akan mengambilkannya atau setidaknya menghubungi orang tuanya dan tak lama kemudian barang yang ia inginkan sudah berada dihadapannya. Ia memang memiliki segalanya kecuali teman saat makan malam.

Kadang, ia memutar piano dengan harapan ibu datang mendengar. Tapi pintu kamar tetap tertutup. Hanya gema nadanya yang menjawab, mengisi ruang seperti suara anak kecil yang bicara pada dirinya sendiri.

Dari situlah ia belajar: jika ingin diperhatikan, ia harus tampil sempurna. Jika ingin dicintai, ia harus logis. Maka sejak kecil, ia menyusun hidupnya seperti partitur—teratur, indah, tapi tanpa improvisasi.

Liana menutup laptop. Ia berdiri, menatap bayangan di cermin. Rambutnya masih sempurna, wajahnya masih terawat, tapi matanya—matanya mulai jernih bukan karena serum, melainkan karena pertanyaan yang tak bisa dijawab logika.

“Apa aku benar-benar tahu siapa aku?” bisiknya.

Forum yang Membuka Luka

Forum mahasiswa berlangsung di aula besar. Sorotan lampu jatuh ke panggung tempat Liana berdiri dengan blazer hitam dan suara lantang. Ia berbicara tentang hak mahasiswa, tentang ketimpangan fasilitas, tentang perlunya ruang aman.

Setiap kalimatnya tersusun seperti argumen hukum. Tepat. Rasional. Tak terbantahkan.

Semua mencatat. Semua kagum.

Kecuali satu orang di barisan belakang—Romeni.

Ia duduk diam. Tidak menulis. Tidak mengangguk. Hanya menatap.

Usai acara, Liana menghampirinya.

“Kenapa kamu nggak setuju?” tanyanya.

“Aku nggak tahu,” jawab Romeni pelan. “Kadang kita bicara terlalu banyak, tapi lupa mendengar. Bahkan lupa mendengar tubuh sendiri. Padahal mungkin itu maksudnya: kita punya dua telinga, satu mulut—agar lebih banyak mendengar, termasuk pada diri sendiri.”

“Tubuh? Bukankah itu aneh?” Liana mengulang, nyaris sinis tapi penasaran.

“Iya,” kata Romeni. “Tubuh tahu kapan takut, kapan letih, kapan ingin berhenti. Tapi kita memaksanya terus bicara, terus berjuang, seolah diam itu dosa. Sebagian orang bilang diam itu emas.”

Liana terdiam. Kalimat itu menembus semua dinding dalam dirinya—lebih tajam dari debat manapun. Ia merasa seperti berdiri di depan cermin yang memantulkan jiwanya, bukan wajahnya.

Pelan-Pelan, Retak Itu Menjadi Celah

Lihat selengkapnya