“Kebahagiaan, kedamaian batin, dan kepuasan hidup tidak datang dari keadaan luar, melainkan bergantung pada cara kita merespons keadaan tersebut. Kita tidak bisa mengontrol angin, tetapi kita bisa mengatur layar.”
Cahaya sore menembus kaca, jatuh tepat di lembaran puisi Aitana yang belum selesai. Setelah peristiwa dikantin itu, Aitana menulis puisi di sudut perpustakaan, jari-jarinya gemetar di atas kertas. Kata-kata mengalir seperti air mata yang tak sempat jatuh. Ia merasa telah kehilangan sesuatu yang bermakna meski belum sempat merengkuhnya. Ia menulis tentang kehilangan yang belum terjadi, tentang harapan yang digantungkan pada seseorang yang mungkin tak pernah melihatnya sebagai pilihan. Puisi itu bukan sekadar curahan hati—ia adalah pelindung, benteng yang dibangun dari metafora dan rima, agar rasa sakit tak terlalu telanjang.
Aitana terkadang merasa saat Romeni bicara tentang puisi bersamanya di ruang sastra, namun seolah matanya mencari Liana ketika menyebut kata ‘keadilan’. Lalu saat bertemu dengan kata ‘sayang’ seolah fikiran Romeni mengembara entah kemana.
Di perpustakaan, waktu seolah membeku. Tapi di ruang diskusi, jam berdetak cepat, menuntut jawaban. Di ruang itu, Liana duduk tegak, menyusun argumen tentang keadilan dan pilihan bebas. Ia bicara tentang determinisme dan kehendak, seolah sedang membedah hatinya sendiri lewat teori. Ia tahu, logika tak bisa menyembuhkan luka, tapi ia percaya bahwa memahami rasa sakit adalah langkah pertama untuk mengatasinya. Di antara tumpukan buku dan suara debat, ia mencari kepastian: bahwa jika Romeni tak memilihnya, itu bukan karena ia kurang, tapi karena dunia memang tak selalu adil.
"Kebahagiaan, kedamaian batin, dan kepuasan hidup tidak datang dari keadaan luar, melainkan bergantung pada cara kita merespons keadaan tersebut. Kita tidak bisa mengontrol angin, tetapi kita bisa mengatur layar,” begitu gumam Liana meyakinkan diri sendiri seperti kutipan yang pernah ia baca di buku tulisan Stephen R. Covey.
Tisya berdiri di ambang pintu, tak masuk, tak pergi. Ia melihat Aitana dan Liana dari kejauhan, merasa kecil di antara kata dan logika. Ia tak punya puisi, tak punya teori. Yang ia punya hanyalah ketakutan: bahwa ia akan tertinggal, bahwa Romeni akan memilih salah satu dari mereka. Tapi di balik ketakutan itu, ada nyala kecil yang tak padam—harapan. Ia percaya bahwa kehadiran, meski diam, tetap punya gema. Ia percaya, cinta adalah soal konsistensi, bukan intensitas sesaat. Cinta terlahir dari tindakan-tindakan kecil yang konsisten, seperti : mendengarkan tanpa menginterupsi, sapaan kecil tiap kali berjumpa, janji-jani ringan yang selalu ditunaikan. Ia percaya Romeni menikmati setiap perbincangan dengannya karena ia adalah pendengar yang baik. Ayahnya pernah menasehatinya saat masih kecil, “Kamu tahu nak? Alasan Tuhan menciptakan kita dengan dua telinga dan hanya satu mulut adalah agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara…..”
Namun suatu saat, Tisya melihat Aitana menyentuh lengan Romeni saat bicara. Gerakan kecil itu membuatnya mundur setengah langkah, seolah tak sengaja. Kejadian kecil itu sudah cukup menebalkan keraguannya soal perasaan Romeni.
Mereka bertiga berjalan di jalur yang berbeda, tapi luka mereka beresonansi. Ketakutan ditolak, rasa tidak cukup, dan harapan yang rapuh—semuanya membentuk mereka. Di tengah ketidakpastian, mereka tumbuh. Luka bukan akhir, tapi awal dari pemahaman: bahwa cinta bukan soal dipilih, tapi soal berani mencintai diri sendiri terlebih dahulu.
---
Langit sore di stadion kampus berwarna jingga pucat, seolah ikut menahan napas menjelang peluit akhir. Kedudukan masih 1-1 memasuki menit ke-85. Stadion riuh, tapi ketegangan terasa seperti hening panjang sebelum gelombang pecah. Permainan lebih banyak berpusat di lapangan tengah karena kedua tim sama-sama memiliki lini tengah yang tangguh. Tim lawan menyerang sebuah tembakan dari sayap berhasil di blok oleh Jayadi, tembok pertahanan dari Tim Kampus Romeni.
Tendangan penjuru untuk tim lawan melambung, namun berhasil ditepis kiper, Mulyadi. Bola jatuh di kaki Ridho, yang tanpa ragu mengirim umpan jauh ke arah Romeni yang berlari menyusuri sisi kiri lapangan—secepat bayangan mengejar cahaya senja.
Bola seolah menyatu dengan langkahnya. Satu sentuhan, satu tipuan. Dua pemain lawan terlewati seperti figuran dalam tarian yang telah ia hafal seumur hidupnya. Dan saat ruang sempit itu muncul, kakinya melepaskan bola—tenang, tajam.
Bola meluncur melewati celah dua kaki penjaga gawang, bersarang di sudut gawang.
Gol kemenangan. “GOOOOOOLLLLL!!!,” Reporter dan se-isi stadion bergemuruh.
Sorak-sorai meledak. Nama Romeni diteriakkan seperti mantra kemenangan. Kamera ponsel, pelukan pelatih, tepukan punggung, lambaian bendera—semuanya membentuk gambaran yang katanya harus terasa sempurna.
Namun di dada Romeni, tak ada gemuruh.
Hanya sunyi. Sunyi yang dingin. Sunyi yang dalam.
Ia mengangkat tangan ke arah tribun, tersenyum tipis. Senyum yang terasa seperti topeng yang mulai retak di bagian dalam.
Refleks matanya mencari satu tempat yang ia kenal baik: baris ketiga dari depan, sisi kiri. Tempat Tisya biasa duduk. Tempat yang dulu penuh dengan kehadiran yang hangat.
Kosong.
Sudah tiga pertandingan terakhir, bangku itu tetap seperti itu: kosong namun berbicara paling keras. Tak ada pesan, tak ada alasan. Hanya ketidakhadiran yang makin terasa seperti keputusan.
Romeni membayangkan apa yang akan ditulisnya di jurnal nanti malam :
"Sorak tak selalu berarti sambutan. Kadang ia hanya gema yang tak mengenal isi, suara yang berulang tanpa tahu apa yang sebenarnya dirayakan. Dan ketidakhadiran bisa lebih jujur dari seribu kata: mungkin ia pergi bukan karena tak peduli, tapi karena terlalu peduli hingga merasa dirinya tak lagi cukup."