Romeni tidak pernah membayangkan akan melihat pemandangan seperti itu.
Suatu sore, setelah kelas selesai, ia berjalan melewati kafe kecil di belakang fakultas. Lampu-lampu gantung mulai menyala, menebarkan cahaya kuning lembut. Dari jendela besar kafe itu, ia menangkap siluet dua sosok yang segera dikenalnya—dan membuat langkahnya otomatis terhenti.
Liana.
Aitana.
Duduk satu meja.
Mengobrol.
Tertawa kecil.
Bukan tawa canggung.
Bukan tawa yang penuh pembanding.
Tawa nyata—tawa dua perempuan yang sedang menikmati kebersamaan tanpa beban masa lalu.
Romeni sampai harus berkedip dua kali.
Aitana menjelaskan sesuatu sambil menggunakan kedua tangannya, penuh ekspresi, seperti biasanya. Liana menatapnya sambil menyandarkan dagu di tangan, sesekali tersenyum—senyum asli, bukan yang pakai logika sebagai baju pelindung.
Ada kehangatan yang bahkan dari luar jendela pun terasa.
Bagaimana bisa mereka… berteman?
Rasa bingung itu menempel seperti kabut.
Koneksi yang Tidak Direncanakan
Pertemuan pertama Liana dan Aitana sebenarnya terjadi tanpa rencana—di acara bedah buku kampus dua minggu sebelumnya. Seseorang salah menuliskan nama narasumber cadangan, dan keduanya dipanggil duduk di barisan depan. Kacau kecil itu menciptakan percakapan pertama mereka.
Percakapan yang ternyata… nyambung.
Liana dengan logika yang rapi dan bahasa argumentatif.
Aitana dengan intuisi kuat dan penjelasan yang lugas seperti derap langkah.
Mereka berbeda tapi tidak saling menegasikan.
Pada pertemuan berikutnya, mereka minum kopi selepas diskusi.
Lalu makan siang setelah kelas.
Lalu sepakat menonton pameran seni di aula kampus.