RESONANSI ROMENI

Desto Prastowo
Chapter #12

Resonansi Itu Telah Berhenti

Romeni berdiri di depan ruang diskusi, menunggu giliran berbicara. Tangannya sedikit berkeringat, kertas catatan terasa lebih berat dari biasanya. Di seberangnya, Liana duduk dengan tegak, mengenakan blazer abu-abu dan sepatu kulit yang tampak mahal. Barusan ia memukau ruangan dengan argumen tentang etika politik; kalimatnya runtut, nadanya tegas, logikanya tak memberi celah. Semua mata sempat tertuju padanya, termasuk mata Romeni.

Saat diskusi usai, kerumunan bubar perlahan. Liana melangkah ke taman kampus, dan Romeni menyusul tanpa kata. Angin sore mengibaskan dedaunan, seolah mencoba memecah kesunyian yang menempel di antara mereka.

“Kamu selalu tahu harus bicara apa,” ucap Romeni akhirnya, pelan, hampir seperti pengakuan.

“Itu bukan kelebihan, Rom,” jawab Liana dengan senyum samar. “Itu hanya kebiasaan… atau mungkin mekanisme bertahan hidup.”

Romeni terdiam. Ada kekaguman yang menusuk sekaligus rasa kecil yang menyesakkan. Ia hanya anak dari keluarga sederhana, terbiasa hidup dengan cukup. Tak pernah mencicipi perpustakaan pribadi, tak pernah mengenal meja makan besar dengan tiga belas kursi kosong. Liana, di matanya, tampak begitu tinggi—terlalu cemerlang, terlalu terbiasa dengan dunia yang bahkan belum pernah ia dekati.

“Kadang aku merasa... aku nggak cukup buat kamu,” lirih Romeni, akhirnya menyerah pada kata-kata yang ia tahan.

Liana menoleh. Tatapannya tajam, tapi ada kelembutan yang menetes di baliknya. “Cukup itu bukan soal isi dompet, Rom. Bukan juga soal podium. Tapi soal keberanian untuk hadir, utuh, apa adanya.”

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada reflektif:

“Dalam filsafat eksistensial, Kierkegaard bilang: ‘Anxiety is the dizziness of freedom.’ Kecemasan itu lahir dari kebebasan kita memilih. Dan aku rasa... cinta pun begitu. Ia selalu membawa cemas, karena kita bebas untuk kehilangan.”

Lihat selengkapnya