RESONANSI ROMENI

Desto Prastowo
Chapter #13

Epilog-Catatan Romeni

Aku kembali ke lintasan ini. Bunga flamboyan masih gugur seperti dulu—merahnya tetap menyala, getirnya tetap menggigit. Tapi kali ini, aku tak lagi berlari sendirian. Ada genggaman tangan Tisya yang tak pernah lepas.

Di balik semua itu, ada gema yang tak kunjung padam. Kadang, bait-bait puisi Aitana menetes di sela senja, seolah kata-katanya tak mau segera ketemu titik. Kadang, tatapan Liana menyelinap di benakku—setajam pisau, setulus doa—seakan logikanya masih mencari celah di luar jangkauan hatiku.

Mereka tak lagi hadir di hidupku, tapi mereka menetap di dalam diriku. Luka-luka yang mereka tinggalkan tak pernah benar-benar sembuh—dan mungkin memang tak perlu. Sebab luka itu bukan musuh, melainkan nada-nada yang membentuk simfoni keberadaanku.

Cinta, aku belajar, bukan tentang dipilih atau memilih. Cinta adalah tentang siapa yang berani bertahan, meski tak sempurna. Aku berjalan bersama Tisya, bukan karena puisinya lebih indah atau logikanya lebih tajam, tapi karena keheningannya mampu menampung semua gema yang pernah menggetarkan hatiku.

Dan dalam diam itu, aku mengerti: beberapa luka memang tak pernah hilang. Dan entah mengapa… aku bersyukur pada luka itu, karena tanpanya, aku mungkin tak pernah benar-benar tahu apa artinya pulang.

—Romeni

 Catatan Aitana

Aku pernah menulis puisi untuknya—tentang kehilangan sebelum benar-benar kehilangan, tentang harapan yang kugantungkan di udara, menunggu apakah ia akan menangkapnya.

Kini aku tahu: puisiku tidak pernah gagal. Ia hanya ditakdirkan menjadi surat yang tak perlu balasan.

Lihat selengkapnya