Di rumah ini, keheningan selalu terasa lebih berisik daripada teriakan, kecuali saat Ibu mulai batuk di balik pintu kamar.
Keheningan di Griya Asri bukanlah ketenangan. Itu adalah jenis sunyi yang mencekam, seolah-olah dinding-dinding kayu tua ini sedang menahan napas, ikut menyembunyikan sesuatu yang terlarang untuk diucapkan. Bagi Aruna yang baru berusia tujuh tahun, kesunyian adalah isyarat bahwa ia harus berjalan berjingkat, tidak boleh tertawa terlalu keras, dan harus menjadi anak yang "tidak merepotkan".
Malam itu, dapur terasa dingin dan remang-remang. Hanya ada satu lampu kuning kusam yang menyala di atas meja makan. Aruna berdiri di atas bangku kecil kayu, berusaha mencapai dispenser air. Tenggorokannya kering, terbangun dari mimpi buruk yang sudah ia lupakan. Ayah belum pulang dari bengkel, dan rumah itu sepenuhnya dikuasai oleh kesunyian yang berat.
Tangan mungil Aruna berhasil meraih gelas kaca favorit Ibu—gelas bening dengan ukiran bunga mawar merah di pinggirannya. Ia mengisinya perlahan, mendengarkan bunyi kucuran air yang terasa begitu nyaring di tengah malam.
Tepat saat Aruna hendak meneguk air itu, sebuah suara merobek keheningan.
Uhuk! Uhuk-uhuk!
Suara itu datang dari kamar utama. Itu suara Ibu. Tapi itu bukan batuk biasa. Itu suara batuk yang dalam, basah, dan terdengar menyakitkan, seolah-olah ada sesuatu yang sedang berusaha dicakar keluar dari dalam dada Ibu.
PRANK!
Aruna tersentak hebat. Gelas melati itu terlepas dari genggamannya, menghantam lantai tegel, dan meledak menjadi ribuan kepingan kristal yang berserakan. Air membasahi kaki telanjangnya yang gemetar. Namun, ketakutan Aruna bukan pada gelas yang pecah atau kemarahan Ayah yang mungkin datang nanti. Ketakutannya terpaku pada suara dari kamar Ibu.
Suara batuk itu berlanjut, semakin parah, diikuti oleh suara erangan pelan yang menyayat hati.
Tanpa mempedulikan pecahan kaca yang mungkin melukai kakinya, Aruna melompat turun dari bangku. Adrenalin anak kecil memacunya berlari menuju kamar Ibu. Ia harus menolong. Ia harus memastikan Ibu baik-baik saja.